Sunday, October 20, 2013

CARA MENYABLON (MANUAL SABLON BERSAHAJA)



I.                     ALAT DAN BAHAN CETAK SABLON
  Alat:
- Meja sablon, selain digunakan untuk menyablon meja ini digunakan pada saat afdruk screen. Bagian utama meja adalah kaca (tebal 5 mm), lampu neon 2 x 20W atau 4 x 10W di bawah kaca, dan satu sisi meja dipasang engsel;


- Screen sablon dengan kerapatan serat dan ukuran sesuai kebutuhan. Untuk sablon kain/ berbasis air; biasanya memakai kerapatan T61 s.d. T90.  Untuk sablon berbasis minyak, memakai screen T165. Ukuran screen bervariasi, misal 20x30, 25x35, 30x40 dsb.

- Rakel dengan lebar sesuai kebutuhan


- Penggaris pendek atau busur mika untuk meratakan emulsi afdruk;

- Hairdryer alias pengering rambut, untuk mempercepat pengeringan screen setelah diolesi emulsi.


- Sprayer atau penyemprot, digunakan untuk menyemprot screen segera setelah afdruk.


-  Penjepit screen atau cathok, untuk memasang screen pada engsel di tepi meja sablon

                  


            Bahan:
*) Gambar model sablon pada plastik transparan, kertas kalkir atau kertas HVS yang (setelah digambari) diolesi minyak nabati dan dikeringkan sehingga menjadi transparan seperti kertas kalkir

*) Untuk sablon berbasis minyak:
1.    Emulsi afdruk berbasis minyak + sensitizer (misal Photoxol 199)
2.    Cat PVC, warna sesuai kebutuhan
3.    Pengencer cat/ thinner M3 atau M3 Super

*) Untuk sablon berbasis air:
1.  Emulsi afdruk berbasis air + sensitizer (misal Photoxol TS)
2.  Tinta karet putih (rubber white)
3.  Tinta karet netral (rubber color)
4.  Pewarna (pigmen) sesuai kebutuhan
5.  Penguat tinta karet (binder)

            *) Bahan lain yang sering digunakan dalam cetak sablon:
-  Kertas tissue,
-  Lakban transparan/ bening,
-  Kain lap atau kain perca yang menyerap air
-  Gel penghapus screen berbasis air (misal Photoxol 7)
-  Sarung tangan plastik
-  Klorin pemutih sebagai penghapus screen berbasis minyak (misal Bayclin)
-  Air
-  Kertas buram/ CD


II.                   CETAK SABLON BERBASIS MINYAK
A.   Sablon Berbasis Minyak Satu warna
1.    Persiapan afdruk screen: campurkan 3 bagian Emulsi (misal Photosol 199) : 1 bagian Sensitizer, diaduk rata dalam wadah/ botol gelap kedap cahaya.
2.  Oleskan campuran emulsi pada sisi luar & dalam screen T165. Ratakan dengan penggaris pendek atau busur mika.

3.    Setelah emulsi terpapar rata di screen, keringkan screen dengan hairdryer.
4.    Langkah no. 2 dan 3 (mengoles emulsi dan mengeringkan screen) dilakukan di ruang redup cahaya, bukan ruang gelap total. Yang penting screen tidak terkena sinar matahari langsung/ tidak ada lampu neon menyala.
5.    Letakkan gambar model di atas meja sablon menghadap ke atas. Kemudian letakkan screen, bagian luar menempel pada gambar model. Bagian dalam/ atas screen diberi bantalan spon gelap. Tutup permukaan screen dengan kertas koran, kemudian beri beban/ pemberat (misalnya bata atau botol berisi air) di atas screen tertutup agar screen lebih menekan/ menempel rata pada gambar model.

6.    Nyalakan lampu neon di bawah meja sablon.  Proses afdruk/ penyinaran ini dilakukan selama ± 10 menit.
7.    Setelah afdruk, ambil screen dan segera siram kedua permukaan screen dengan air untuk menghentikan proses film development.
8.    Semprot bagian gambar model yang membayang di screen dengan sprayer pelan-pelan.  Bagian yang terpapar sinar akan menguat/ mengeras, dan bagian bayangan gambar akan meluruh/ berlubang.

9.    Bilas dengan air untuk membersihkan sisa emulsi dan keringkan screen yang sudah disemprot tadi.
10. Persiapan menyablon berbasis minyak: pasanglah screen dengan cathok pada meja sablon.
11. Campurkan cat/ tinta PVC dengan pengencer M3 atau M3 Super, dengan perbandingan 1 : 1. Aduk rata.
12. Dengan rakel, sablonkan cat/tinta ke meja kaca.  Angkat screen, biarkan sablonan di kaca mengering. Atau, untuk mempercepat  pengeringan cat, taburkan bedak/ talc pada sablonan di kaca tersebut.
13. Tempatkan kertas/ stiker/ plastik di atas sablonan kaca. Nyalakan lampu di bawah meja. Aturlah posisi kertas/ plastik secara tepat sebagai pola sablonan berikutnya.  Beri pembatas di tepi kertas/ plastik sebagai penepat.





14.Lakukan uji sablon pada selembar kertas.  Kalau hasil uji sablon (dummy) sudah sesuai, angkat kertas dan siapkan lembaran yang akan disablon.  Bila hasil uji sablon belum sesuai (ada bagian gambar belum nampak atau sablon tidak rata), tambahkan cat  ke dalam screen dan lakukan uji sablon lagi.
15. Tempatkan kertas/ stiker/ plastik tepat pada posisi yang sudah diberi pembatas.  Lakukan penyablonan dengan posisi rakel miring sekitar 75˚ terhadap screen.

Catatan: Medium tinta PVC (dengan thinner M3) dapat dipakai untuk menyablon kertas, sticker, kartu nama, kertas glossy, kain parasit, plastik.

B.   Sablon Berbasis Minyak Multiwarna
1.    Lakukan afdruk screen sejumlah gambar/ warna yang akan disablon.  Kalau gambar yang akan disablon terdiri dari 2 warna, misalnya, maka yang diafdruk adalah 2 gambar pada screen.
2.    Pasanglah screen pada meja sablon dengan cathok.
3.  Sablonkan satu gambar pada meja sablon, kemudian biarkan kering atau taburi sablonan itu dengan bedak talc supaya cepat kering.  Nyalakan lampu bawah meja, aturlah posisi lembaran yang akan disablon tepat di atas sablonan pada kaca.  Beri pembatas di tepi lembaran yang akan disablon.
4.   Lakukan sablon untuk gambar dengan warna terang/ muda atau bidang paling luas terlebih dahulu.  Setelah sablonan kering, ulangi menyablon untuk warna yang lebih gelap. Ini berarti, kembali memasang screen dengan gambar (untuk warna berbeda), dengan mengatur posisi gambar kedua tepat/ pas dengan gambar pertama. Setelah posisinya tepat/ pas, beri pembatas di tepi lembaran yang akan disablon.

5.    Setelah selesai menyablon, bersihkan screen itu dengan mengoleskan thinner M3 pada screen secara merata. Kemudian gosoklah screen dengan kain perca perlahan-lahan sehingga gambar di screen bersih dan tidak tertutup sisa cat.  Usahakan membungkus tangan dengan plastik agar tangan tidak kotor atau iritasi.


III.                   CETAK SABLON BERBASIS AIR
1.    Persiapan afdruk screen: campurkan 3 bagian Emulsi (misal Photosol TS) : 1 bagian Sensitizer, diaduk rata dalam wadah/ botol gelap kedap cahaya.
2.    Oleskan campuran emulsi pada sisi luar-dalam screen T61 (atau T90 untuk gambar yang lebih rumit/ detil). Ratakan dengan penggaris pendek atau busur mika.
3.    Setelah emulsi terpapar rata di screen, keringkan screen dengan hairdryer. Hindari sinar matahari atau sinar lampu neon secara langsung.
4.    Lakukan afdruk/ penyinaran selama ± 10 menit.
5.    Setelah afdruk, segera siram kedua permukaan screen dengan air untuk menghentikan proses film development.
6.    Semprot bagian gambar model yang membayang di screen dengan sprayer pelan-pelan. 
7.    Bilas dengan air untuk membersihkan sisa emulsi dan keringkan screen yang sudah disemprot tadi.
8.    Buatlah campuran tinta sablon. Untuk warna putih: 5 bagian tinta karet putih (rubber white) + 1 bagian binder.  Untuk warna lain: 5 bagian karet netral (rubber color) + 1 bagian pewarna/ pigment, diaduk sampai rata dulu, kemudian tambahkan 1 bagian binder. Aduk lagi sampai rata.
9.    Letakkan kain yang akan disablon pada meja sablon atau permukaan rata dan keras.  Untuk menyablon kaos, terlebih dahulu sisipkan papan tripleks yang sudah diolesi lem stiker pada satu sisinya, ke dalam kaos dan ratakan permukaan kaos yang akan disablon.

10. Screen tidak perlu dipasang cathok, tetapi langsung ditempatkan di atas kain atau kaos pada posisi yang diinginkan.
11. Tuang campuran tinta pada screen, kemudian saputkan dengan rakel agak ditekan.  Setelah menyablon beberapa kali, perhatikan apakah lubang gambar di screen masih terbuka atau tertutup sisa tinta sablon.  Bila sebagian lubang tertutup tinta sablon, segera bersihkan dengan kain perca basah sampai lubang terbuka kembali, dan keringkan dengan kertas tisu sampai benar-benar kering.  Lubang gambar yang tertutup akan menyebabkan hasil sablon tidak bagus/ belang-belang, sedangkan bagian bawah screen yang basah akan berisiko mengotori kaos yang disablon.
12. Bila diperlukan cetak sablon lebih dari satu warna, tunggu sampai sablon warna pertama kering lalu tempatkan gambar screen kedua pada hasil sablon pertama secara tepat (usahakan jangan bergeser).  Lakukan sablon dengan warna kedua dengan hati-hati.  Lakukan hal yang sama untuk warna ketiga, dst.

 
 
13. Segera bersihkan screen setelah menyablon dengan cara digosok kain/ spon basah dan disiram air.  Kalau tidak segera dibersihkan, sisa tinta pada gambar screen akan cepat mengering dan memblokir/ menutupi screen.  Akibatnya bila screen digunakan lagi untuk menyablon, kualitas gambar sablonnya akan jelek.
Catatan: waktu terbaik untuk menyablon berbasis air adalah pagi atau malam hari untuk menghindari suhu ruang yang hangat/ panas di siang hari.  Pasalnya, pada siang hari ketika suhu ruang menjadi hangat, tinta pada screen akan cepat mengering dan memblokir pola gambar.  Solusinya, bila harus menyablon waktu siang, screen harus sering dibersihkan dengan spon/ kain basah dan dilap dengan kertas tissue.

IV.                     CARA MEMBERSIHKAN SCREEN SABLON
A.   Membersihkan/ Menghapus Gambar Screen Berbasis Minyak:
Bila gambar pada screen tidak digunakan lagi dan screen akan digunakan untuk menyablon gambar lain, screen tersebut dapat dibersihkan dengan cara:
1.    Pakailah sarung tangan plastik atau kantong plastik, supaya tangan tidak kotor terkena cat PVC atau cairan pembersih yang mudah merusak kulit.
2.    Oleskan klorin pemutih (misalnya Bayclin) pada screen secara merata.  Diamkan selama 5 – 7 menit.
3.    Buatlah campuran thinner M3 + detergen + air.  Aduk rata.
4.    Oleskan campuran thinner itu ke screen, dan gosok perlahan-lahan dengan spon atau kain perca sampai lapisan emulsi pada screen luruh.
5.    Bersihkan/ bilas screen dengan air kemudian keringkan.

B.   Membersihkan/ Menghapus Gambar Screen Berbasis Air:
1.    Oleskan gel pelarut emulsi (misalnya Photoxol 7) ke seluruh permukaan screen.  Diamkan selama  5 menit.
2.    Semprotkan air ke permukaan screen dengan sprayer, kemudian gosok kedua permukaan screen dengan spon atau kain basah sampai lapisan emulsi luruh.
3.    Bilas kembali dengan air  sampai bersih dan keringkan screen.

V.                   TIPS TAMBAHAN
A.   Menyablon Tanpa Afdruk Screen
1.     Buatlah pola bentuk atau huruf pada kertas, kemudian pola tersebut disayat pada garis luarnya.  Untuk pola huruf yang memiliki “pulau” kosong di tengah seperti huruf A, B, D, P, bagian garis dalamnya tetap disayat tetapi “pulau”nya jangan dibuang.












2. Tempatkan kertas yang sudah disayat/ dilubangi itu pada bahan yang akan disablon (misalnya kain spanduk).  Untuk pola huruf yang ada “pulau”nya, hurufnya dipasang dulu, kemudian tempatkan “pulau” huruf di bagian yang kosong. Rekatkan dengan lem atau perekat dua sisi, setelah itu potongan hurufnya diangkat.

3.    Tempatkan screen yang tidak diafdruk di atas kertas pola bentuk/ huruf yang berlubang tadi.

4.    Lakukan penyablonan dengan warna yang diinginkan.
5.    Angkat screen dan kertas pola yang berlubang setelah disablon, kemudian bersihkan screen agar sisa tinta sablon tidak mengerak di screen.

B.   Sablon Dengan Tinta Karet Timbul (Foaming)
1.    Campurkan 3 bagian tinta foam putih + 1 bagian karet netral (rubber color) + 1 bagian pigment  (warna sesuai kebutuhan).  Setelah diaduk rata, campurkan 1 bagian binder, aduk lagi sampai rata.
2.    Lakukan penyablonan ke kain.
3.    Setelah sablonan kering, kain dibalik.  Kemudian tempelkan setrika panas pada bagian belakang dari sablonan tadi selama 8 – 10 detik.  Strika panas tersebut cukup ditempelkan tanpa harus digosokkan.

Tuesday, September 25, 2012

Senjoyo



This is the best shot I’ve ever made.....

Di lembah Senjoyo, yang ada di wilayah
Desa Tegal Waton, Tengaran, Kab. Semarang
Walau tak jauh dari Kota Salatiga
Dan ada pangkalan PDAM Salatiga

Banyak orang visit  itu lembah
Menjelang bulan puasa,  untuk berendam
Dan malam ke-21 bulan puasa
Untuk nonton ndangdut show..

Thursday, August 09, 2012

MEMBUANG SAMPAH BUTUH KENDALI BAWAH SADAR?

            Dalam keseharian hidup, seberapa sering kita membaca peringatan “Buanglah sampah di tempatnya”, “Jangan membuang sampah sembarangan” atau “Jagalah kebersihan” di tempat-tempat umum?  Kalau dihitung sejak kita mulai belajar membaca  sampai sekarang, pasti sudah amat sering.  Begitu seringnya sampai kita hafal kapan dan di mana kita bertemu peringatan semacam itu.   Tetapi sejauh mana peringatan yang sudah sangat biasa itu diikuti atau dipatuhi secara otonom dan ikhlas oleh setiap orang yang membacanya, ternyata tidak berbanding lurus.  Ada himbauan tertulis untuk menempatkan sampah di wadah yang disediakan pun kadang-kadang diabaikan, apalagi bila tidak ada peringatan visual dan tidak tersedia tempat sampah di sekitarnya.
            Ada pula kebiasaan sebagian orang yang berpola pikir “not on my own yard” dalam urusan membuang sampah.  Mereka mengupayakan keadaan bersih sejauh menyangkut properti sendiri dan menyalurkan sampah ke manapun, tak peduli dampaknya bagi lingkungan.  Ada orang-orang yang secara teratur membersihkan rumah dan halamannya sendiri, sehingga tempat tinggalnya tampak bersih dan rapi.  Tetapi urusan membuang sampah, mereka hanya berpikir singkat untuk mengoper limbah rumah tangganya ke saluran air/ drainase, ke bantaran sungai, atau ke lahan kosong di sekitar tempat tinggal mereka.   Di jalan raya, dari mobil mulus ber-AC yang sedang meluncur cepat, tiba-tiba jendela kacanya sedikit terbuka dan keluarlah sampah berupa kulit buah-buahan, atau kemasan  biskuit, atau botol minuman, atau bahkan plastik wadah muntahan penumpang yang “mabok darat”.  Selain itu, akhir-akhir ini muncul kebiasaan sebagian masyarakat urban yaitu membuang bangkai tikus ke jalan yang banyak dilalui kendaraan.  Tindakan membuang bangkai tikus ini sungguh kurang beradab.  Bukan saja karena menimbulkan pemandangan menjijikkan ketika bangkai tikus itu terlindas kendaraan yang lewat, tetapi juga karena membawa risiko merugikan kesehatan masyarakat (berupa timbulnya penyakit yang dibawa tikus).
            Tindakan membuang sampah atau sering disebut nyampah hampir seperti  gerak otonom.  Pelaku nyampah sembarangan tampaknya bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu, layaknya gerak refleks yang berlangsung otomatis.  Ini dapat diamati dari perilaku orang-orang ketika mereka mengonsumsi permen, misalnya.  Hanya berselang kira-kira satu detik setelah memasukkan permen ke mulut, tangan yang memegang plastik bungkus permen segera melepaskan sampah kecil itu secara acak.  Ke manapun plastik itu akan jatuh, penikmat permen itu tidak lagi memperhatikan.  Begitu pula yang terjadi setelah mereka menikmati minuman dalam kemasan plastik (cangkir, botol atau kantong dengan sedotan).  Betapa cepat tangan-tangan mereka melepaskan benda plastik yang isinya sudah habis ke tanah di sekitarnya, sepertinya tidak dibarengi dengan kecepatan orang-orang itu berpikir tentang akibat yang dapat ditimbulkan dari sampah yang berserakan.  Apakah mereka tidak pernah diajari untuk menempatkan sampah di tempat yang semestinya? Pastilah pernah.  Hanya ketidakpedulian yang membuat mereka seolah tidak pernah dididik untuk menangani sampah secara benar.  Atau barangkali, mereka beranggapan sudah ada orang/ petugas atau pihak lain yang mengurusi kebersihan lingkungan sehingga tidak perlu lagi repot berpikir mengenai sampah.
            Apakah pengalaman belajar dan kebiasaan masa lalu kita (dan para leluhur) mempengaruhi kesadaran kita mengenai sampah?  Atau, apakah perilaku nyampah sebagian orang “diturunkan” dari kebiasaan-kebiasaan yang berlangsung di keluarga dan lingkungan sosial mereka sejak beberapa generasi sebelumnya?  Barangkali, penggunaan berbagai bahan alami di masa lalu ikut menyumbang munculnya perilaku nyampah atau kesadaran orang mengenai eksistensi sampah yang mereka hasilkan.  Dulu, ketika daun pisang, daun jati, anyaman bambu, dan beberapa benda alami lain digunakan sebagai pembungkus, memang ada “jaminan dekomposisi” saat orang membuang pembungkus atau “kemasan” semacam itu bila sudah tidak digunakan lagi.  Bahan-bahan alami tersebut akan terurai cepat di tanah, di pinggir jalan atau di sungai sekalipun.  Sampai dengan dekade 1970an, pembungkus alami (biasanya daun) masih banyak digunakan di pasar-pasar tradisional.  Sehingga orang tidak berpikir panjang dan spesifik tentang masalah yang dapat ditimbulkan dari sampah domestik.  Perilaku nyampah di masyarakat tradisional saat itu belum menjadi persoalan.  Perilaku yang kemudian menjadi kebiasaan tersebut sepertinya “diwariskan” ke generasi-generasi selanjutnya.  Ditunjang oleh pendidikan dan budaya yang tidak mendisiplinkan orang untuk berolah pikir dan bertindak secara benar dalam hal sampah dan kebersihan lingkungan, jadilah keadaan seperti yang tampak sekarang ini- - selalu ada sampah di trotoar, di jalan, di taman, di parit, di sungai, di fasilitas umum mana pun di negeri ini. 
             Kemudian terjadilah perubahan zaman, ketika plastik, styro foam (gabus sintetis) dan lembaran alumunium foil banyak dipakai sebagai pembungkus atau kemasan produk kelontong.  Berbagai barang, mulai dari produk makanan, minuman, toiletress, dan pernik-pernik kebutuhan rumah tangga lain seringkali dikemas dengan bahan yang sulit terdekomposisi secara alami ini.  Bahkan di pasar-pasar tradisional pun pedagang lebih banyak membungkus jualannya dengan kantong plastik.  Dengan pertambahan penduduk dan makin padatnya kawasan pemukiman, produksi sampah domestik pun ikut meningkat pesat.  Sejauh tidak ada perubahan perilaku dan kesadaran masyarakat menyangkut penanganan sampah, maka kekumuhan dan kekotoran habitat manusia (terutama di kawasan urban) tidak terurai dan berkurang tetapi justru bertambah. 
            Abai terhadap sampah dan penanganan sampah yang tidak tuntas tampaknya telah menjadi habitus sebagian (besar) masyarakat kita.  Ini menjadi satu penjelas tentang citra pasar tradisional misalnya, yang diidentikkan dengan kesemrawutan, kekumuhan, becek dan selalu berhiaskan (juga beraroma) sampah. Banyak pasar tradisional di Indonesia sebenarnya dirancang dan dikonstruksi dengan mempertimbangkan estetika dan sanitasi, tetapi dalam perkembangan operasionalnya, sering dijumpai bahwa lantai yang awalnya bersih menjadi berkerak karena lumpur, dinding yang belepotan, dan atap/ plafon yang penuh sawang dan debu.  Di tempat lain, taman kota, alun-alun, atau trotoar yang “dihinggapi” lapak-lapak pedagang kaki lima juga lambat laun menjadi kotor, beraroma tidak sedap dan kadang kala becek karena sebagian pedagang terbiasa membuang air limbah cucian ke tanah atau jalan di sekitar tempat mereka berjualan.
            Apakah bangsa kita ditakdirkan untuk hidup tetapi abai terhadap sampah? Pastilah tidak.  Pengalaman negeri tetangga Singapura dalam mendisiplinkan rakyatnya, termasuk membudayakan hidup teratur dan bersih, hendaknya dapat membangkitkan kesadaran kita untuk peduli kebersihan dan kesehatan.  Pemahaman dan kemauan untuk peduli kebersihan masih dan makin perlu disebarluaskan kepada seluruh lapisan masyarakat bahwa tanpa adanya upaya sadar untuk menuntaskan sampah, sampah itu tidak akan hilang, larut atau terdekomposisi secara otomatis.  Orang harusnya mengerti bahwa sampah plastik tidak akan terdekomposisi secara cepat, bahkan mungkin butuh ratusan tahun untuk sama sekali melebur plastik di tanah.  Pengabaian terus menerus terhadap sampah di lingkungan hidup kita tidak hanya merugikan secara estetika tetapi juga membawa risiko penurunan kualitas kesehatan.  Dalam jangka lama, ini berarti bunuh diri ekologis bagi kehidupan manusia itu sendiri. 
Kesadaran terhadap sanitasi yang baik dan kesehatan lingkungan perlu diprakarsai secara nyata.  Nasihat dan arahan saja tidaklah cukup.  Upaya menumbuhkan kesadaran ini perlu dilakukan di tingkat masyarakat terkecil, yaitu keluarga.  Sejak dini, anak seusia balita sudah diajari dan selalu diajak untuk menempatkan sampah di wadah yang disediakan, untuk mencuci tangan dan membersihkan tempat bermain, serta tidak meludah sembarangan.  Orang tua dalam hal ini menjadi role model/ teladan dan motivator utama bagi anak-anak mereka.  Karena itu memang kesadaran dan tindakan nyata untuk hidup teratur, bersih dan sehat itu harus dimulai dari orang tua.  Bila kebiasaan bersih dan tidak nyampah tersebut dapat berlangsung baik dalam lingkup keluarga, di lingkungan sekolah dan di tempat umum lainnya anak-anak akan tetap sadar kebersihan dan meneruskan kebiasaan baik tersebut.
Ada beberapa pengalaman terbaik/ best practices dari komunitas anak negeri yang dapat dijadikan model pembelajaran, contohnya upaya kebersihan toilet sekolah yang dilakukan oleh siswa-siswi sebuah SMP di Jawa Barat.  Langkah awalnya hanya berfokus pada cara menjaga kebersihan toilet, namun kemudian berkembang ke upaya kebersihan kelas dan lingkungan sekitar sekolah lainnya.  Tindakan nyata ini bernilai strategis, karena bermula dari sekelompok siswa kemudian berkembang menjadi gerakan yang melibatkan seluruh warga satu sekolah.  Bayangkan bila kemudian kesadaran kebersihan itu mampu meluas ke seluruh siswa di satu kecamatan, kota atau kabupaten.  Inilah embrio budaya bersih yang kelak akan menggerakkan satu generasi.  Di satu lingkungan RT di Jakarta, para ibu rumah tangga tergerak untuk mengolah limbah organik menjadi kompos, dan sampah anorganik seperti plastik menjadi barang-barang yang berguna di rumah.  Tentu ini bukan upaya yang mudah, dan butuh perjuangan terus menerus untuk membuat bangsa kita benar-benar peduli kebersihan dan kesehatan.  Sehingga akhirnya, membuang sampah di tempat yang seharusnya bahkan untuk benda sekecil bungkus permen sekalipun, akan menjadi tindakan yang seperti dilakukan di bawah sadar.

Tuesday, December 13, 2011

KEMUNDURAN ADAB

Hari-hari ini tampak nyata bahwa kita sebagai bangsa mengalami kemunduran di segenap segi kehidupan. Bukti tidak sulit ditemukan, bahkan di sekitar kita pun ada. Dari masalah keteraturan (administrasi) bernegara, tatanan sosial, hidup beragama, sampai hal-hal yang sepele seperti urusan membuang limbah dan perilaku membuang ludah. Masalah (administrasi) bernegara tak usahlah diperdebatkan di halaman ini, karena sudah terlalu banyak orang pinter (atau pura-pura pinter) yang membahas, di tivi, di koran, di ruang seminar, di kantor-kantor, di mana pun. Soal hidup beragama, ada yang mengatakan bahwa situasi hidup beragama di negeri ini, sekarang ini, malah seperti situasi di Eropa abad pertengahan (masa jayanya Robin Hood dan saat hebohnya perburuan orang-orang yang dituduh penyihir). Serba konservatif, zakleg dan kadang-kadang menentukan kebenaran dari (cara pandang) mereka sendiri. Itulah mengapa beberapa kali terjadi kericuhan yang muspro hanya karena persepsi hidup beragama yang "maunya bener sendiri".

Bukan cuma masalah besar bombastis yang membuat perasaan miris, perkara sederhana di sekitar kita pun langsung memicu pikiran kritis. Mari kita comot satu kasus untuk ditampilkan di lembar ekspresi ini; kebiasaan membuang bangkai tikus di jalan. Ini dia urusan sepele yang berdampak tidak sederhana. Entah dari ajaran mana kebiasaan ini muncul. Sebelum tahun 2000an, jalan-jalan beraspal di kampung-kampung kita tidak pernah mendapat kiriman bangkai tikus (terutama) di pagi hari. Limbah daun, plastik, kertas dan kadang-kadang telethong kuda atau anjing memang sempat menjadi aksesoris jalanan, tapi itu tampilan minor yang tidak sangat mengganggu pemandangan. Dan selalu mudah untuk dibersihkan oleh pasukan penyapu handal dari Dinas PU atau DTK. Nah, perkara bangkai tikus di jalan ini yang ganjil. Dulu rakyat kita tidak punya kebiasaan membuang bangkai tikus di jalan, tapi mengapa adegan seolah-olah ada tikus menjadi korban tabrak lari terjadi tiap hari?

Pada awalnya sempat ada dugaan bahwa tikus yang lari menyeberang jalan sedang bernasib sial, dan tertabrak motor yang lewat. Tetapi dengan makin sering ditemukan tikus yang sial di jalanan, timbul pertanyaan apakah mereka benar-benar secara massal bernasib sial ketika menyeberang jalan????? Ternyata, yang lebih sering terjadi adalah bahwa tikus-tikus itu sudah wafat sebelumnya, terutama karena memakan pestisida, dan kemudian jenasahnya diposting di jalanan dengan penuh dendam yang geram oleh pengirimnya. Tinggal menunggu kendaraan lewat untuk melindas dan menggilingnya....selesailah sosok tikus yang sebelumnya gilig menjadi gepeng. Selesaikah masalahnya? Ternyata tidak juga. Masalah-masalah baru muncul makin menyebalkan, bagi orang mau berpikir wajar dan waras. Coba dilihat, apa sih bagusnya pemandangan sosok tikus yang perut terbuka dan ususnya terburai tak karuan? Apa sih enaknya bau bangkai tikus yang berantakan semacam itu, selain amis, busuk dan memuakkan. Belum lagi risiko sepeda (motor) tergelincir karena melindas bangkai tikus yang licin. Nah, dengan membandingkan keadaan dua dekade lalu dengan sekarang, kita dapat mengatakan bahwa telah terjadi kemunduran adab di kalangan masyarakat kita.

Kasus lain dapat ditampilkan di halaman ini, dan ini sangat sering dilakukan orang yang abai terhadap kesehatan, yaitu kebiasaan meludah di sembarang tempat. Sekali lagi, tampaknya sepele saja kalau hanya membuang air ludah yang volumenya paling besar sesendok teh. tetapi bukan sesederhana itu masalahnya, dan bukan hanya seremeh itu akibatnya. Pertama, meludah sembarangan menunjukkan perilaku primitif dan kurang beretika/ sopan. Kedua, akibat ludah yang ditembakkan di sembarang tempat itu menjadikan halaman, jalan, trotoar dan tempat publik lain menjadi kotor menjijikkan. Ketiga, risiko penyebaran penyakit menular melalui udara dan perantara serangga lalat misalnya. Nah, dengan memahami akibat-akibat ikutan tersebut, pantaskah orang disebut sebagai bagian dari masyarakat modern kalau masih membawa perilaku purba meludah di sembarang tempat? Mengapa di masa serba computerized dan hi-tech sekarang ini masih saja ditemui orang-orang dengan kebiasaan biadab seperti itu?

Lalu di mana sebenarnya cikal bakal kemunduran adab masyarakat kita di dunia modern sekarang ini? Apakah ini berawal dari pengabaian pembangunan budaya? Ataukah karena dunia pendidikan kita yang makin menjauh dari nilai-nilai hidup nyata dan hanya berkutat di urusan hafalan kognitif yang kurang membumi? Ataukah ini memang pertanda zaman yang menuju ke degradasi hidup yang bermutu menuju hidup yang ancur-ancuran? Ngeri lho!

Monday, December 05, 2011


PRAJURIT (Prasojo, Jujur, Irit)

Belum lama berselang Pak Adi Andoyo, mantan hakim agung di kala Orde Baru, menulis artikel di koran Kompas. Pak Adi memunculkan satu akronim yang kemudian mendapat tanggapan lumayan ramai di kalangan penikmat Kompas, termasuk Kang Dwi Koen yang tiap hari Minggu menghasilkan karikartun Panji Koming di koran yang sama. Akronim tersebut adalah "Prajurit", yang artinya prasojo, jujur dan irit, sebagai alternatif pedoman sikap/ perilaku para pejabat publik di negeri ini agar tidak terlarut dalam budaya korup yang sudah sangat merajalela, akut dan menggurita di negeri ini.

Bukan karena kebetulan akronim itu memakai kata yang sama dengan namaku, pemilik blog Oyee-Ihiiir yang spesial ini, aku tertarik menyuarakan dan mengelaborasi gagasan Pak Adi tersebut. Pada prinsipnya aku setuju; bahwa siapapun yang terlibat dalam pengelolaan negeri ini, entah kalangan birokrat pemerintah, oknum semi pemerintah, ataupun insan "luar pagar" alias insan swasta perlu memiliki karakter prajurit--- prasojo, jujur dan irit. Karakter ini pula yang dimiliki oleh seorang Mahatma Gandhi, sang pencerah dan pemerdeka India.

Prasojo, berarti karakter sederhana, tidak berlebihan, non-excessive/ exaggerated, mungkin juga tidak neko-neko berorientasi pada akumulasi aset kebendaan, dan tidak berpola pikir rumit-ruwet-complicated dalam mengakses, mengakuisisi dan mengeksploitasi material things. Karakter sederhana bukan berarti menghindari benda, tidak butuh modernitas, atau cenderung konservatif dan kuno. Sederhana dalam hal ini adalah pola pikir yang mengarah pada efisiensi dan efektifitas, tidak menggunakan sumber-sumber yang terlalu banyak menimbulkan residu, dan sisa yang tidak diperlukan (dan mungkin justru menimbulkan masalah bagi lingkungan, yaitu lingkungan fisik maupun lingkungan sosial).

Jujur, berarti menempatkan kebenaran sebagai nilai utama. Dalam karakter ini tersirat keterbukaan, transparansi dan akuntabilitas (tiga kata yang sering menjadi pedoman tata kelola di jaman reformasi). Walaupun sering diungkapkan di banyak arena dan suasana, dan menjadi kata kunci pelaksanaan administrasi pemerintah, implementasinya tidak mudah dan gamblang. Bahkan dalam banyak hal, jujur menjadi entitas nilai yang langka. Di masa sekarang, ketika banyak manusia terjebak dan berkubang dalam hedonisme yang tampaknya mendarah daging, memegang nilai jujur bisa jadi dirasa membawa risiko-risiko yang tidak menguntungkan individu. Karena itu, nilai jujur ini sering direduksi/ dikebiri (bahkan menuju ke eliminasi) dalam praktik hidup sehari-hari. Parahnya, reduksi nilai jujur ini sudah berlangsung sejak fase awal hidup manusia Indonesia, ketika kebanyakan mereka masih di pendidikan (formal) dasar. Keuntungan sesaat membutakan pandangan ke depan tentang pentingnya hidup yang lebih baik dan sejahtera, bukan cuma bagi diri sendiri melainkan bagi semuanya.

Irit adalah segmen karakter yang sungguh berintegrasi dan larut dengan nilai prasojo. Irit pun berimplikasi pada perilaku hidup yang tidak berlebihan, tidak boros, dan menghindari kesia-siaan pemanfaatan sumber-sumber di lingkungan hidup manusia. Efisiensi dan efektifitas, sekali lagi menjadi kata kuncinya. Perilaku yang didasari nilai irit juga berimplikasi pada kerelaan untuk berhemat dan berbagi, menghindari godaan untuk mengakuisisi material things secara bernapsu hanya untuk memuaskan individu itu sendiri. Irit bukanlah pelit, tetapi menggunakan sumber-sumber seperlunya secara tepat, dan melestarikannya agar dapat dimanfaatkan oleh sesama yang lain (perilaku berbagi).

Begitulah, karakter prajurit yang kiranya perlu dimiliki siapapun yang punya peran mengelola negeri ini, baik manusia birokrat, manusia setengah birokrat maupun manusia swasta. Terminologi mengelola negeri bukan hanya monopoli mereka yang berada di lingkar dalam pemerintahan, karena siapapun yang merasa sebagai anggota bangsa-negara ini seharusnya tidak berpola pikir dan berpola tindak sebagai individu yang (kalau bisa) mengeksploitasi, mengelaborasi dan menyedot manfaat sumber-sumber hayat yang ada secara berlebih, sembrono dan penuh nafsu, hanya untuk kenikmatan diri sekarang sembari mengabaikan kepentingan dan kebaikan hidup sesama di waktu ini dan mendatang.

Monday, September 20, 2010

ASLI SALATIGA

Ini gagasanku--mungkin mengarah ke visiku-- untuk menampilkan dan secara sistematis memproduksi outfit yang dapat dikatakan spesial, yang (kalau bisa) menjadi salah satu ikon Salatiga, kota kebanggaan (yang sekarang semakin semrawut saja). Sandang spesial itu punya trademark semacam ini:

Tentu akan ada yang tergelitik bertanya,"Kok ihiiir, maksudnya apa?". Begini, sejauh yang aku tahu (walau bisa saja aku keliru) ungkapan "ihiiir" yang bermakna asyik, horeee, cihuiii... adalah ungkapan yang muncul di kalangan anak Salatiga. Misalnya, suatu ketika si Surti kepergok jalan bareng si Tejo. Teman-teman mereka spontan nyeletuk "Ihiiir.....". Jadi menurutku, "Ihiiir" adalah ungkapan asli Salatiga. Inilah yang melatarbelakangi pilihan identitas produk yang aku tampilkan dalam wujud kaos oblong berlukis (painted T-shirt).

Diharapkan memang, produk kaos berlukis yang dinyatakan sebagai Kaoz Loe Kiss ihiiir [Asli Salatiga] kelak dikenal di kawasan lain sederajat dengan Dagadu Djokdja, Joger Bali, C59 Bandung, dll. Ini memang berangkat dari angan-angan di siang bolong, tapi apakah itu sama sekali mustahil? Aku melihat masih ada harapan, dan aku sedang berjalan (pelan) ke arah itu...
Amin.

Friday, August 20, 2010

LUKIS KAOS Lagi....


Setelah satu taon mengotak-ngatik acara lukis kaos, ternyata hasilnya lung may yan. Ini baru aku lakukan sebage 'biznic zombie land" (urusan sampingan), belum jadi proyek serius yang padat modal dan padat gizi. Contoh garapan kaoz loe kiss seperti ini nee.....

Nah, setelah dipublikasi di sekitar kerabat dan sohib, mulai ada yang terpincut bin tergiur mbeli satu dua kaoz. Trus tetangganya yang sudah beli sempat melihat, ee... ada yang ketularan berminat beli, jadilah pemasaran merembet-merembet. Dikit-dikit ada konsumen, ada konsumen sedikit-sedikit... yaa ta apa lah. Namanya juga baru usaha jalan pelan-pelan. Memang aku belum brambisi memperluas dan memperdahsyat pasar (supaya terjadi hujan duwit), soalnya aku punya prinsip: biznic tidak kudu mesti memaksimalkan uang masuk, tapi yang jelas harus menyenangkan, membahagiakan, memuaskan ...(kalo bisa melenakan) orang lain. Kalo orang suka hasil karyaku, itu jadi kesejahteraan luar biasa bagiku.

Produk macem bagini memang dijual. Tapi aku tidak pake jurus jaim bin juma (jual mahal). Ono rembug ya dirembug (ada usul/ wacana temtu bisa dimusiyawarahkan), mangsudnya beginu. Kalo tak selera dengan satu model gambar, ya pake model gambar lain bisa diatur, yang penting suka sama suka, mau sama mau...... (bukan iklan selingkuh lho ini).