Sunday, June 05, 2016

CARA MEMBUAT AIR ALKALI DARI AIR HUJAN





Minum air hujan itu Oke-doke lho.  Ini bukan cerita ngawur yang cuma utopia fiktif belaka.  Soalnya sebagian orang beranggapan bahwa minum air hujan itu bisa berefek keropos gigi atau bahkan keropos tulang, gara-gara air hujan yang miskin mineral tapi banyak asam.  Heh, tak benar itu.  Di sekitar lereng Merapi (Dusun Bunder, Desa Bandungan, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten) dan di beberapa desa di Gunung Kidul DIY misalnya, kebanyakan warganya  biasa mengkonsumsi air hujan selama bertahun-tahun. Mereka kok ya tenang-tenang saja.  Sekarang ini, di beberapa kota bahkan ada komunitas-komunitas peminum air hujan, dan para anggotanya bukan orang sembarangan.

Minum air hujan justru lebih sehat ketimbang minum air sumur yang terkena intrusi air payau di daerah pesisir.  Ini karena air payau (setengah air tawar-setengah air laut) kesadahannya lebih dari normalnya air tawar.  Selain itu kandungan padatan terlarut (Total Dissolved Solids/ TDS) biasanya jauh lebih tinggi ketimbang air tawar pada umumnya.  Sedangkan dibandingkan dengan air sumur atau air dari tuk/ umbul/ mata air, ternyata air hujan memiliki kesadahan dan padatan terlarut jauh lebih rendah.  Derajat keasaman/ pH air hujan pun masih termasuk netral, bukan condong ke asam.  Ini kalau konteksnya adalah air hujan di Indonesia, salah satu negeri kawasan tropis yang selalu berkelimpahan hujan.
Air dari Umbul Senjoyo, TDSnya lebih tinggi ketimbang air hujan.

Sejauh ini minum air hujan memang belum menjadi aksi yang ngetop, ngetren dan ngehits di kalangan masyarakat.  Minum air hujan? Kesannya kok nelangsa, prihatin, low profile, tidak elit, nyleneh, antimainstream, kalangan pinggiran atau membawa “spirit of minority”.  Lha  air minum saja bermacam-macam dan tersedia di mana-mana, ada yang kemasan cup, botol kecil/ tanggung/ besar/ galonan.  Ada yang bermerek paten, ada yang isi ulang lebih murah.  Ada yang gratis dari sumur sendiri, ada yang berlangganan jaringan PDAM. 

Dari banyak pilihan tentang air minum, kok malah jatuh hati ke air hujan?  Tentu itu tidak belum menjadi perhatian banyak orang.  Ho hoo, masalahnya mereka belum kenal manfaat potensial air hujan yang selalu  datang gratis melimpah ruah di sekitar kita.  Hujan bahkan lebih sering dicap “trouble maker of the year”.  Buktinya antara lain: (1) Halaman rumah/ kantor/ sekolah diplester, ditutup rapat sehingga air hujan tidak dapat meresap ke dalam tanah, dan hanya disalurkan ke selokan. (2) Kawasan resapan air hujan banyak yang diubah fungsinya menjadi permukiman. (3) Kalau hujan turun, banyak orang mengeluh,”….yaaah, hujan lagi….”.  (4) Curah hujan tinggi dituduh jadi provokator banjir di beberapa daerah.  Padahal kalau mereka tahu manfaat signifikan dari air hujan, terutama yang sudah diproses jadi air alkali, mungkin bakal ada perburuan besar-besaran terhadap air hujan.

Perbandingan TDS Air dari Beberapa Sumber
Ini hasil penelitian sederhana di Salatiga dan sekitarnya.  Penelitian yang bersahaja ala kadarnya tapi hasilnya nyata ini membandingkan total padatan terlarut/ TDS dari sampel air yang diambil dari beberapa sumber; (1) air hujan yang dikumpulkan di latar terbuka,  (2) air hujan yang ditampung dari talang, (3) air sumur di belakang rumah, (4) air ledeng PDAM, (5) air dari tuk/ mata air Senjoyo, (6) air minum kemasan merek A***, (7) air minum RO isi ulang.

Mengapa menonjolkan TDS?  Karena TDS dapat dianggap sebagai indikator seberapa banyak partikel padat yang terlarut dalam air.  Makin tinggi TDS berarti makin banyak partikel (mineral, debu, tanah, serasah, bakteri, mikroba lain) yang terlarut di air.  Makin rendah TDS berarti semakin mendekati kemurnian air.  Cara mudah mengetahui tingginya TDS dalam air minum adalah mengamati wadah yang biasa dipakai untuk merebus air.  Kalau pada tepi bagian dalam wadah tersebut ada endapan kasar atau lapisan kerak, biasanya TDS air tersebut cukup tinggi.

Namanya juga penelitian (sangat) sederhana, jadi tidak perlu pernik-pernik alat ukur dalam laboratorium yang rumit njlimet.  Cukup dengan mengambil sampel air yang diwadahi cangkir plastic, TDS diukur dengan mencelupkan TDS meter ke dalam sampel air.  Hasilnya segera keluar di layar kecilnya, dengan angka-angka terpampang sbb:

No Origin of Samples
TDS (mg/l)
1 Air hujan dari latar terbuka
3 s.d. 6
2 Air hujan dari talang rumah
8 s.d. 15
3 Air sumur di belakang rumah
225 s.d 280
4 Air ledeng PDAM
107 s.d. 110
5
Air dari tuk/ mata air Senjoyo
89 s.d 93
6
Air minum kemasan merek A***
112
7
Air minum RO isi ulang
50
 
Lha itu dia buktinya, air hujan yang jatuh dari langit memang TDSnya paling rendah.  TDS air hujan yang ditampung dari talang rumah agak lebih tinggi, karena airnya melewati atap genting dan cekungan talang.  Sebagian partikel tanah dan debu pasti terlarut di dalamnya.  Begitu juga, air dari tuk/ mata air Senjoyo memiliki TDS lebih tinggi karena sudah menyelinap dan menjelajah dalam tanah sebelum muncul kembali di sendang.  Kalau dilihat dengan mata telanjang, semua sampel air yang diambil memiliki tampang yang sama, jernih tanpa warna dan bau.  Semuanya jelas layak minum karena belum melewati ambang batas 500 mg/l .  Tapi air hujan memang beda, joss gandhos.

Cara Membuat Air Minum Alkali dari Air Hujan
Pertama, sediakan air hujan.  Menurut pengalaman, air hujan terbaik muncul dari suasana hujan lebat - deras menderu, ditingkahi petir menyambar dan guntur bergemuruh, angin kencang menerabas dan mendung kelabu menghitam dahsyat.  Bukannya horror menakutkan, justru dalam keadaan hujan seperti itu muatan TDS dalam airnya sangat minimalis.  Apalagi kalau hujannya berlangsung agak lama, waah..dijamin panen raya air hujan lho.  
 
Menadah air hujan di halaman rumah
Seperti sudah disebut dalam pengambilan sampel air di atas, ada dua cara penampungan air hujan.  Cara I: dengan menggelar ember di halaman pada saat turun hujan.  Hasilnya adalah air hujan dengan TDS minimalis dan kualitas yahud.  Cara II: dengan menadah air cucuran atap lewat talang.  Hasilnya adalah air hujan yang banyak dalam waktu singkat, bahkan ketika curah hujannya sedang-sedang saja.  Tapi TDSnya agak lebih tinggi ketimbang cara I.  Ya memang inilah yang disebut filosofi undha-undhi.  Kalau dengan cara I, kualitas airnya ideal tapi kuantitasnya agak terbatas.  Kalau dengan cara II, kualitas airnya tidak sebaik cara I tapi kuantitasnya luar biasa.  Meskipun air hujan dari talang kadang-kadang membawa debu dan serasah dari genting dan atap, tetap saja kualitasnya bisa diandalkan karena TDSnya masih jauh lebih rendah ketimbang air sumur (atau air dari tuk/ sendang).
Tampungan air di wadah tertutup
Screen sablon T185 dipakai untuk menyaring air

Kedua, air hujan yang sudah ditangkap kemudian ditampung dalam wadah yang tertutup supaya tidak kemasukan debu dan serangga, terutama nyamuk.  Sebelum masuk ke wadah penampungan, sebaiknya disaring dulu ya.  Pengalaman penulis; airnya disaring memakai kasa/ screen sablon dengan ukuran kerapatan T185.  Selain dengan wadah gentong atau drum tertutup, penampungan air hujan bisa menggunakan botol air minum kemasan ukuran 600 ml atau 1500 ml.  Botol bekas pun oke, asal dicuci bersih lebih dulu.  Eh, sekarang ada yang jual botol kemasan seukuran itu lho, keadaan kosong dan baru (bukan bekas minuman orang).  Tampung air hujan sebanyak-banyaknya, kalau bisa juga sebagai tabungan di musim kemarau.  Sebagai tambahan, usahakan penampungan/ celengan air hujannya jangan terkena sinar matahari langsung, sebab bisa merangsang tumbuhnya lumut dalam wadah.  Jadi usahakan meletakkan wadah penampung air di tempat kering dan teduh/ bernaungan.
Air hujan ditampung di botol-botol plastik
Menyimpan air hujan di tempat teduh, hindari sinar matahari langsung

Ketiga, masukkan air hujan ke dalam perangkat elektrolisis air.  Secara umum, perangkat ini terdiri dari dua wadah/ bejana yang berhubungan.  Ke dalam dua wadah ini dimasukkan elektroda positif dan negatif, yang berhubungan dengan rangkaian penyearah listrik (AC menjadi DC).  Ada model perangkat yang menggunakan stop kran pada pengubung antara dua wadah.  Ada pula model yang pipa penghubungnya tidak menggunakan kran tetapi hanya diisi kapas penyekat sekaligus filter antara air asam (elektroda positif) dan air basa/ alkali (elektroda negatif).  Model kedua ini disebut lebih efektif dalam proses elektrolisis.
Alat penyetrum air dengan stop kran di pipa penghubung antara wadah air asam dan air alkali

Penyetrum air tanpa stop kran. Model ini menggunakan kapas penyekat di antara dua wadah
Penting untuk diperhatikan: Cara memasukkan air ke dalam perangkat elektrolisis.  Sebaiknya air dimasukkan hanya dari wadah berkutub positif sampai penuh.  Meskipun bisa saja air dimasukkan dalam dua wadah tersebut bersamaan, menurut pengalaman: hasilnya beda!  Hasil terbaik diperoleh dari memasukkan air di wadah positif saja, dan membiarkan air menetes/ mengalir lambat ke wadah negatif.  Ketika melewati kapas penyekat, air itu akan disaring lagi.  Memang dengan cara ini wadah kutub negatif akan lama terisinya, bahkan sampai satu jam ketinggian airnya mungkin masih lebih rendah dari yang di wadah positif.  Sabar ya, demi output terbaik memang prosesnya lebih lama.  Pokoknya ketika ketinggian air di wadah positif berkurang, tambahkan lagi airnya.  Sisakan ruang kosong selebar kira-kira 1 inci/ 2,5 cm di tepi atas kedua wadah.   Jadi jangan mengisi airnya sampai penuh.
Skema pemasangan alat elektrolisis air untuk pembuatan air alkali

Keempat, sambungkan rangkaian penyearah ke colokan listrik bila ketinggian air di wadah kutub negatif sudah melampaui pipa penghubung.  Jangan menyalakan/ menyambungkan penyearah ke colokan listrik bila: (1) kedua wadah dalam keadaaan kosong, atau (2) kedua wadah berisi air tapi tidak saling terhubung/ ketinggian air di bawah pipa penghubung.  Soalnya rangkaian penyearahnya bisa panas dan rusak, kalau air di kedua wadah tidak saling terhubung. 
Skema dasar penyearah arus AC ke DC.
Rangkaian penyearah arus AC ke DC.  Kecil dan simpel
Proses elektrolisis/ penyetruman air berlangsung sekitar 6 jam sampai diperoleh air bersifat asam di wadah berkutub positif, dan air bersifat basa atau alkali di wadah berkutub negatif.  Ciri paling mudah diamati kalau air alkali sudah “matang” dan siap dipanen adalah ketinggian air di wadah berkutub negatif/ alkali cenderung lebih dari yang di wadah berkutub positif/ asam.  Lebih akurat lagi kalau airnya diuji pakai pH tester atau pH meter.

Lha ini dia, air alkali yang siap diminum langsung.  Diukur dengan pH meter, derajat alkalinya di atas 8.  Sering malah mencapai 9,5 kalau nyetrumnya lebih lama.  Diukur dengan TDS meter, padatan terlarutnya hanya 3 atau 4 mg/l (dengan kondisi air hujan yang dimasukkan hanya dari wadah berkutub positif).  Air alkali hasil penyetruman air hujan ini rasanya tawar dan segar.  Air ini bisa diminum kapan saja, bisa langsung dari wadah penyetruman atau disimpan dulu di lemari pendingin. Sementara yang diminum adalah air alkalinya, air asam dari wadah berkutub positif (pH 4, TDS 70 -109 mg/l) bisa dipakai untuk mencuci luka atau membersihkan kulit yang gatal-gatal.  Beberapa orang menggunakan air asam ini untuk mencuci muka berjerawat. It’s OK, Bro.

Nah, kalau ketinggian air di wadah penyetruman sudah menurun jauh, isi lagi dengan cadangan air hujan yang ada.  Ingat sekali lagi, isi ulang sebelum ketinggian air di kedua wadah berada di bawah pipa penghubung.  Dan pengisian hanya dari wadah berkutub positif/ asam.  Kemudian setelah pemakaian 1 atau 2 minggu, kosongkan wadah elektrolisis.  Cabut kabel penyearah dari colokan listrik.  Bersihkan wadah dan elektroda dengan kertas tisu.  Ganti kapas penyekat yang sudah terpapar endapan dengan kapas baru yang bersih.  Setelah itu proses pengisian dan penyetruman dimulai lagi.

Proyeksi Waktu Mendatang
Air minum makin mahal.  Memang sekarang ada bermacam produk air minum baik yang kemasan maupun isi ulang.  Distribusinya pun sampai di pelosok desa.  Justru kondisi itu menegaskan adanya komodifikasi air yang makin masif.  Artinya, dibandingkan dengan waktu lampau ketika keberadaan air minum dominan gratis, sekarang penyediaanya dominan berbayar.  Ada kecenderungan bahwa masyarakat sangat bergantung pada pasokan air minum yang berbayar tersebut.  Layanan air PDAM pun secara berkala harganya naik sedangkan penggunanya makin banyak.
Ketersediaan air minum yang berasal dari sumber air tanah pun makin menurun kuantitas dan mutunya.  Di samping karena semakin bertambahnya populasi manusia sebagai pengguna air, debit air di berbagai sumber air tawar mengalami penyusutan signifikan dalam dua dasawarsa terakhir.  Ini diperparah dengan semakin berkurangnya vegetasi penyerap air utama, dan alih fungsi lahan menjadi kawasan permukiman dan bisnis.  Dengan semakin padatnya permukiman (terutama kawasan urban), mutu air tanah bisa terdegradasi.  Air sumur misalnya, mudah tercemar limbah karena jarak yang terlalu dekat WC dan saluran air kotor lainnya. 

Orang harus mendapat sumber air minum yang murah dan tersedia banyak.  Air hujan menjadi alternatif (ter)baik.  Karena datang langsung dari langit, air ini dijamin gratis sepanjang masa.  Ketersediaannya pun berlimpah, kecuali di provinsi tertentu di Indonesia yang curah hujan per tahunnya sedikit.  Dengan sarana sederhana, air hujan yang berlimpah itu dapat ditampung dan diolah menjadi air minum yang sehat.  Karena tidak melewati tanah, memang air hujan miskin mineral.  Tapi ini sebenarnya bukan masalah besar, karena kebutuhan mineral bagi manusia masih bisa dipenuhi dari makanan sehari-hari.  Sekarang tinggal bagaimana mengubah pola  pikir masyarakat; dari mengabaikan dan membuang air hujan menjadi terbiasa menampung dan memanfaatkannya demi kebaikan bersama.

Tuesday, March 22, 2016

"KITA - CUMAN - TEMEN-TEMEN"



Hari ini, Bahasa Indonesia orang negeri sering terungkap belang bonteng dengan cita rasa yang kurang pas terdengarnya (atau terbacanya?).  Ini bukan saja menyangkut ragam baku atau tidak baku, formal atau non-formal, tetapi juga masalah diksi serta struktur bahasa yang kurang mendapat atensi penuturnya.  Padahal penggunaan bahasa bukan melulu berkutat sekitar kefasihan dan artikulasi ujaran yang powerful “berkoar”, tetapi juga butuh ketepatan yang serba pas; pas ragamnya, pas diksinya, pas strukturnya, pas konteksnya, pas atmosfirnya.

Fragmen ini menyoroti sedikit contoh aktual ujaran yang tidak pas dalam berbahasa persatuan menurut Sumpah Pemuda (yeleeeh..).  Pembahasan di sini memfokus pada tiga kata kunci; “kita”, “cuman”, “temen-temen”.  Bukan berarti tidak ada kasus ujaran bermasalah selain yang berhubungan dengan ketiga kata kunci tersebut.  Ada banyak sebenarnya, namun paparan kali ini mengambil tiga kata kunci sebagai representasi kasus serupa.  Selain itu, fokus diperlukan agar “pergunjingan” ini tidak melebar ke mana-mana.

Kita

Kata ganti “kita” ditampilkan untuk menyatakan bahwa penutur dan lawan bicara (atau pembaca teks tulis) terlibat dalam satu diskursus.  Itu fungsi “kita” sebenarnya.  Tetapi sekarang makin sering terjadi keadaan begini; orang mengatakan “kita” yang konteksnya adalah si penutur mewakili lembaga atau sekelompok orang lain, sedangkan lawan bicara/ pemirsa/ pendengar/ pembaca tidak termasuk di dalamnya.  Ini tidak tepat karena seharusnya orang tersebut menggunakan kata “kami”. 

Dalam Bahasa Inggris, kata ganti “we” memang memiliki padan kata “kita” atau “kami” dalam Bahasa Indonesia.  Tetapi dalam Bahasa Indonesia, “kita” dan “kami” memiliki makna yang berbeda (walau beti, beda tipis).  Dan hal ini semestinya sudah dipelajari di kelas Bahasa Indonesia bahkan sejak di SD.  Tiap orang yang sudah “makan sekolah” pasti sudah diberi pemahaman soal cara pakai “kita” dan “kami”.  Cara mudah memahami kata ganti “kita” dan “kami” adalah begini: Kita = aku + kamu (+ dia/ mereka, bila perlu).  Kami = aku + dia/ mereka (>< kamu tidak termasuk di dalamnya).

Cuman

Beberapa orang sering mengucapkan “cuman”, ketimbang kata “cuma” dalam forum rapat dinas atau kegiatan resmi lainnya.  Kata “cuman” dan “cuma” bermakna sama dan bersinonim dengan “hanya”.  Bedanya, “cuman” adalah “cuma” dalam dialek Betawi.  Selain itu, “cuman” termasuk ujaran tidak baku, sedangkan yang baku adaah “cuma”.  Mungkin karena banyak hal yang berasal dari Jakarta menjadi model bagi daerah lain di Indonesia, termasuk dalam hal tindak tutur, maka penggunaan diksi dalam berbahasa Indonesia pun terpengaruh.  Ini terutama tampak dalam ujaran lisan.  Semoga “kontaminasi” ini hanya terjadi dalam berbahasa lisan.  Bila “cuman” itu juga banyak muncul dalam teks tulis formal, maka degradasi berbahasa nasional dapat dikatakan sampai pada stadium parah.  Semoga tidak demikian.

Temen-Temen

Ketimbang menggunakan kata “teman-teman” atau “para sejawat”, beberapa orang bahkan lebih sering mengucapkan “temen-temen” dalam situasi formal seperti rapat misalnya.  Sekali lagi ini berhubungan dengan ragam bahasa baku atau tidak baku.  Kalau mengacu pada ujaran baku, seharusnya orang mengucapkan “teman-teman” dalam situasi formal.  Yang terjadi sekarang adalah kerancuan penggunakan kata yang tidak membedakan ragam baku dan tidak baku.

Kok gitu sih?

Akurasi penggunaan diksi dalam tindak tutur dan tulis dipengaruhi oleh beberapa hal. Pertama, bagaimana akuisisi bahasa yang sudah terjadi sejak seseorang masih di usia awal.  Dalam hal ini, penguasaan bahasa yang baik (dimulai dari bahasa ibu) akan menunjang penguasaan bahasa lain selanjutnya.  Bahkan proses belajar bahasa asing pun akan lebih teratur  dan mudah bila penguasaan bahasa pertama (bahasa ibu) dan bahasa kedua (bahasa nasional) terjadi dengan baik dan benar.  Masalah berbahasa sehari-hari di banyak keluarga di Indonesia sekarang adalah makin menyusutnya penggunaan bahasa ibu (bahasa daerah) sementara penggunaan bahasa nasional dilakukan dengan setengah matang alias mengkal.  Yang terjadi kemudian adalah praksis berbahasa belang bonteng dan campur aduk.

Kedua, bagaimana tingkat literasi seseorang mempengaruhi penggunaan bahasa dalam berkomunikasi dan untuk mengungkapkan gagasan.  Kemampuan berbahasa yang baik secara lisan dan tulis sangat dipengaruhi oleh kuantitas, kualitas dan ragam ujaran dan atau teks tulis yang masuk dan “dicerna” dalam benak seseorang.  Dalam konteks budaya manusia Indonesia, tingkat melek huruf (kondisi tidak buta huruf karena kemampuan baca-tulis)  belum tentu berbanding lurus dengan tingkat literasi masyarakat.  Contoh nyata yang terjadi di tempat umum adalah seringnya terjadi pelanggaran yang tidak disebabkan karena orang tidak dapat membaca rambu atau peringatan tertulis yang ada.  Yang terjadi adalah karena orang gagal memahami makna rambu atau peringatan tersebut.  Demikian pula dalam praksis berbahasa, ketika sebenarnya orang sudah belajar (dalam arti sudah dapat membaca dan menulis) tetapi gagal memahami penerapan yang benar menyangkut diksi, struktur, fungsi ujaran dan aspek kebahasan lain.

Ketiga, bagaimana tingkat kesadaran orang untuk memilih dan menerapkan ragam bahasa yang digunakan sesuai konteks situasi yang sesuai.  Karena menyangkut tingkat kesadaran, kisarannya mulai dari tidak sadar sampai sepenuhnya sadar.  Penggunaan kata “kita” yang seharusnya “kami” mungkin terjadi karena penutur kurang sadar makna “kita” dan “kami”.  Ketika orang sering mengucapkan “cuman” dan “temen-temen” dalam situasi formal, mungkin mereka tidak atau kurang sadar akan ragam bahasa dan diksi yang seharusnya digunakan.  Tingkat kesadaran berbahasa tersebut dapat dinaikkan derajatnya dengan dua alternatif cara.  Pertama, dengan kemauan dan usaha sendiri orang belajar dari sumber teks (baik lisan maupun tulis) dan menerapkannya dalam komunikasi nyata.  Kedua, ada intervensi dari orang lain atau lembaga yang menggugah kesadaran penutur untuk “kembali ke rel yang benar” dalam berbahasa yang baik dan benar.

Jadi, mau berucap “kita” atau “kami”, “cuman” atau “cuma”, “temen-temen” atau “teman-teman”? Itu bergantung pada bagaimana orang belajar berbahasa sejak awal, derajat literasi bahasa dan seberapa sadar akan makna dan ragam bahasa.