Friday, November 24, 2017

CARA MENGGAMBAR PEMANDANGAN PAKAI CAT AIR

Menggambar pemandangan pakai cat air?  Mungkin sekarang orang semakin jarang melakukannya.  Alasannya?  Macam-macam; ada yang bilang tekniknya sulit, tidak biasa pakai cat air, lebih suka pakai pensil (warna) atau krayon.  Bisa jadi begitu.  Tetapi menurut pengamatan, tidak terbiasanya orang memakai cat air adalah karena medium ini jarang digunakan dalam latihan menggambar (melukis) di sekolah atau di sanggar gambar.  Padahal, sebenarnya menggambar dengan cat air tidak sulit, asal tahu cara "menyetirnya".

Kali ini kita boleh belajar menggambar pemandangan dengan memakai cat air.  Tiap tahapan tekniknya akan ditampilkan secara gamblang.  Harapannya, siapapun dapat mengikuti praktiknya dengan lebih mudah.  Latihan menggambar kali ini menggunakan media: 
-  kertas gambar ukuran A4, 
-  cat air merk Osama (isi 12 warna), 
-  kuas bulat/ ujung runcing dan kuas gepeng
-  pensil HB
-  air secukupnya

Tahapan praktiknya adalah sebagai berikut:
 1. Buat skets gambar pemandangan pada kertas gambar A4 dengan pensil HB.  Ingat, pakai kertas gambar ya, bukan kertas HVS atau kertas foto copy.  Skets yang dibuat hanya bentuk outline saja, atau hanya garis-garis pokok dari bentuk pemandangan.  Tidak usah digambar secara rinci.
2.  Setelah skets dibuat, mulailah "memainkan" cat airnya.  Cara mengencerkan cat air pada palet yang benar adalah: oleskan cat air (pasta) di palet, kemudian tambahkan air dengan memakai kuas yang dicelupkan di air dan dipindahkan ke cat di palet. Jangan menuang air langsung ke pasta cat air di palet, karena biasanya jadi terlalu encer tidak terkendali.
3.  Oleskan cat air pada kertas.  Pertama, oleskan cat yang warnanya terang/ muda dan bidangnya paling luas dan terletak "paling belakang", misalnya untuk gambar langit.  Gunakan kuas gepeng agar lebih mudah meratakan catnya.  Ingat, catnya dioleskan dan jangan terlalu sering menggosokkan kuas pada permukaan kertas, sebab berisiko merusak kertas dan kuasnya.
4.  Setelah mewarnai langit yang bidangnya paling luas dan terletak "paling belakang", warnai bentuk yang juga relatif luas dan terletak "lebih depan", misalnya pegunungan.  Untuk mewarnai gambar pegunungan, oleskan cat air yang lebih pekat dari pada yang dipakai sebelumnya untuk langit.  Tunggu beberapa menit agar cat gambar pegunungannya agak mengering.
5.  Setelah cat gambar pegunungan mulai mengering, tambahkan warna hijau untuk pepohonan yang terletak di kaki pegunungan.  Bila cat warna biru untuk pegunungan masih tersisa, jangan dibuang.  Tambahkan saja warna hijau pada sisa cat biru tadi.  Ini akan memberi efek hijau pepohonan di kejauhan.  Gunakan kuas bulat/ ujung runcing agar lebih detail.
 6.  Dengan kuas gepeng, isilah bidang di latar depan dengan warna kuning cerah sebagai dasar gambar persawahan.  Cat kuningnya dibuat encer saja, karena hanya untuk dasarnya.
 7.  Berikutnya adalah mewarnai bentuk pohon kelapa, rumpun bambu dan pematang sawah yang terletak di latar depan.  Gunakan kuas bulat/ ujung runcing dengan cat warna gelap.  Cobalah menggunakan variasi warna, misalnya untuk pohon kelapa dan rumpun bambu yang jauh warna hijau campur coklat tua.  Untuk rumpun bambu dekat dan pematang sawah, pakai campuran warna hijau, coklat, dan hitam.  Jangan ragu untuk memblok/ menutup bentuk rumpun bambu dengan warna gelap sepenuhnya, dengan bagian tepinya dibentuk daun bambu agak detail.  Untuk gambar pematang sawah, bagian bawah pematang bisa dicampur/ digradasikan dengan warna hijau tua agar berkesan batas-batas pematangnya lebih halus menyambung dengan permukaan sawah, sehingga tidak berkesan kontras (pematang tidak menyatu dengan petak sawah).  Tunggu sampai catnya kering.
 8.  Setelah cat gelap pada rumpun bambu, pohon kelapa dan pematang sawah benar-benar kering, buatlah detail daun bambu dan bagian pohon kelapa yang terkena sinar matahari dengan campuran warna kuning dan hijau muda.  Detail ini tidak perlu menutup seluruh permukaan rumpun bambu dan pepohonan, cukup hanya pada bagian terang yang kena sinar matahari.  Gunakan kuas berujung runcing agar detail lebih mudah dibuat.
 9.  Untuk mengisi petak sawah, gunakan kuas ujung runcing dan warna campuran hijau muda + kuning cerah + putih.  Oleskan cat dengan arah dari bawah ke atas agar membentuk rumpun padi yang berkesan lentik.  Pada bagian-bagian tertentu (tidak seluruhnya merata) beri warna campuran hijau muda + hijau tua + sedikit coklat muda untuk memberi kesan detail rumpun padi. 

Begitulah cara menggambar pemandangan dengan cat air.  Prinsip teknisnya adalah oleskan cat air mulai dari bagian paling terang, paling luas, "paling belakang".  Setelah cat yang luas mengering, tambahkan gambar lebih rinci di bagian depannya.  Untuk memberi kesan 3 dimensi, warna terang bisa ditimpa warna gelap atau sebaliknya.  Syaratnya, warna yang lebih dulu dioleskan harus benar-benar sudah kering, baru ditimpa dengan warna lain di atasnya.    
         

Wednesday, November 22, 2017

CARA ENAK MAKAN SINGKONG


Singkong kadang-kadang dikonotasikan sebagai bahan pangan kelas rendah.  Anggapan ini muncul, misalnya di lirik lagunya Arie Wibowo (alm) yang bunyinya "...Aku anak singkong, kau anak keju....".  Maksudnya, anak singkong mewakili rakyat jelata kelas sandal jepit, sedangkan anak keju adalah representasi warga kelas atas alias orang kaya.  

Sebenarnya singkong tidak perlu mengalami underrate dan tidak layak diremehkan, karena bisa saja sekedar singkong rebus pun rasanya menyaingi steak dan pizza yang lagi ngehit di kafe tempat nongkrongnya anak gaul.  Caranya pun mudah untuk meracik singkong rebus yang ueenak binti nikmat membahana. Simak berikut, cekidot Bro...

Bahan-bahan:
- Singkong  1 kg
- Garam       1/2 sendok teh
- Air             2 gelas

Prosedur kerja
1. Kupas dan cuci singkong sampai bersih.  Kulitnya dibuang saja, jijay....
2. Masukkan singkong ke panci. Jangan dimasukkan ke termos, nggak muat....
3. Tambahkan air dan garam ke singkong dalam panci.  Lalu kompor dinyalakan, kalau tidak dinyalakan ya mentah terus, kapan matangnya...
4. Rebus singkong selama kira-kira setengah jam. Kalau singkong sudah retak/ merekah, matikan kompornya, jangan dibiarkan singkongnya sampai gosong mengerak.
5.  Nah, ini tahap paling penting: tunggu selama 8 jam.  Jangan makan atau minum apapun selama waktu itu.  Ingat, jangan makan atau minum apapun.
6. Setelah 8 jam dan rasa lapar mulai menyeruak dari perut, makanlah singkong rebus yang sudah dimasak secara sederhana tadi.

Dijamin, rasa enaknya sungguh nikmat tanpa pencitraan mengada-ada.

Saturday, October 28, 2017

NENGOK SITUS LIYANGAN - UMBUL JUMPRIT - KEBUN TAMBI - TELAGA MENJER

Daripada suntuk melakoni pekerjaan sehari-hari, sekali waktu ambil kesempatan berdolan ria ke tempat-tempat asik.  Yang namanya tempat asik itu tidak harus yang heboh now, atau yang laris kekinian, atau yang meriah dikerumuni fans.  Secara gamblang, tempat asik kudu mesti membuat kita jadi fun, joy, terinspirasi, tentram, sejahtera, bahagia, segar bugar, gemah ripah loh jinawi (lho, lho, kok kebablasan tho?).

 Pas ada moment (bukan cegatan polisi lho ini), artinya waktu yang tidak mepet tergesa-gersa, dan didukung kala cuaca terang benderang tanpa hujan badai mengancam, digelarlah perjalanan darat ke sekitar wilayah Temanggung dan Wonosobo.  Persiapan ala kadar dimulai.  Motor kesayangan bin andalan dengan code name si Vegie sudah diservis berkala, ganti oli plus ganti ban belakang (soalnya sudah membotak).  Peta jalan dan info akomodasi sudah clear.

Di pagi yang cerah, acara dolan dimulai.  Pertama lewat jalan Getasan, ke kanan lewat jalur jalan di kaki Gunung Telomoyo.  Melintas Desa Keditan (bukan Kreditan), Pagergunung, Sekar Langit, sampai pada kota Kecamatan Grabag.  Mampir sebentar mengisi tambahan logistik, terus lanjut lewat Pringsurat ke kanan arah Kranggan.  Sampai di jembatan Kranggan, mampir dulu menengok tempat bersejarah mencekam.
 
Jembatan Kranggan, Temanggung

 Jembatan Kranggan sebenarnya terpampang di tempat yang asik, pas dan enak dipandang.  Dilatarbelakangi Gunung Sumbing dan Sindoro, di dekat hamparan sawah, dan di bawahnya mengalir Sungai Progo. Jembatannya sendiri dirancang dan dibangun dengan konstruksi yang asik pula.  Tapi jembatan ini ngetop dengan riwayat mencekam full horor.  Tempat ini menjadi lokasi penjagalan para pejuang (dan orang-orang yang dianggap membantu pejuang kemerdekaan) pada tahun 1948 -1949.  Konon ada 1600an orang yang dieksekusi tentara NICA Belanda, sampai air kali di bawah jembatan berwarna merah darah.

Sekarang jembatan horor itu tidak dipakai, karena sudah ada jembatan sebelah sebagai penggantinya.  Jembatan lama dibiarkan mangkrak sampai bopeng berlubang.  Di pinggir jembatan lama terdapat monumen untuk memperingati tragedi penjagalan para pejuang kemerdekaan.
Monumen peristiwa pembantaian pejuang

 Pas nengok ke bawah jembatan, ada rombongan turis lokal sedang menikmati naik perahu karet beregu.  Mereka pakai jaket pelampung dan berhelm (mungkin supaya tidak ditilang polisi ya ?... he, he, he).
Ada yang rafting di Sungai Progo
 Sebelum lanjut jalan, sempat menengok alias berziarah ke makam Jenderal Bambang Sugeng (dulu pernah jadi Kepala Staf Angkatan Darat dan Dubes di Vatikan).  Pekarangan makamnya ada di sebelah jembatan.  Wasiat almarhum memang begini, kalau meninggal dimakamkan di tepi Sungai Progo agar bersanding dengan arwah para pejuang yang gugur di sana.
Makam Jenderal Bambang Sugeng

Lanjut jalan lagi, melewati kota Temanggung ke arah Parakan.  Sampai di Parakan, mampir dulu di Rumah Makan Bu Carik (dekat Pasar Parakan) yang legendaris.  Tempatnya antik dengan menu yang klasik, andalannya nasi brongkos dan rames.  Rumah makan ini sudah ngetop sejak Indonesia belum merdeka.  Sampai terkini, pengunjung dan pengikutnya tetap berjibun ria, walau di sana sini muncul pesaing muda semacam gerai steak, geprak atau penyetan.  

 Setelah makan dengan khidmat dan penuh semangat, si Vegie dipacu lagi ke arah utara - barat.  Sampai di Ngadirejo, lewati pasar dan di pertigaan belok kiri ke arah Liyangan.  Sekitar 2 km sejak lewat pertigaan Ngadirejo, sampailah di gapura Desa Purbosari.  Nama desanya saja sudah purbo (alias purba), itu menunjukkan sesuatu yang sungguh kuno secara siginifikan.  Setelah lewat jalan kampung yang berlandaskan batu-batu menanjak, tampaklah Situs Liyangan yang historis.
Papan nama Situs Liyangan
 Situs ini adalah mantan perkampungan di masa kerajaan Mataram Hindu.  Yang terkuak di tempat ini baru secuil bin sebagian kecil saja, menampilkan bekas mushola, eh bukan...., bekas kuil, pagar, jalan batu, saluran irigasi, dan rumah.  



Tembok jaman purba di pinggir jalan batu


Menurut petugas jaga di sana, bagian yang lebih besar masih terpendam dan belum diekskavasi.  Dari tempat masuk Situs Liyangan, menurut Pak Petugas, terdapat banyak bangunan lain di lokasi sampai berjarak 600 meter ke atas (arah Gunung Sindoro).  Seandainya semua peninggalan yang terpendam itu bisa dipaparkan, wuuaaah...ruarrbiyasssaaa..... mungkin kompleks Candi Borobudur pun kalah besarnya.

Karena sebagian besar Situs Liyangan masih teka-teki, ya sudah tunggu saja sampai pemaparannya lengkap dan tuntas.  Artinya masih butuh bertahun-tahun lagi kalau ingin menonton Situs Liyangan dengan formasi paripurna.  So, setelah melihat sekeliling Liyangan, langsung cabut ke tujuan berikutnya, Umbul Jumprit.
Gapura Umbul Jumprit
 Umbul itu artinya sumber air (bukan dolanan jadul berupa gambar yang dilempar/ diumbulke dan dipelototi buat memantau mana gambar yang terbuka (menang) dan mana gambar yang tengkurap (kalah)).  Jumprit itu adalah nama Kyai Jumprit, tokoh dari akhir masa Majapahit yang makamnya terletak di dekat sendang/ mata air.
Gapura Umbul Jumprit dari arah dalam

 
Makam Kyai Jumpri
Kata Pak Penjaga (yang juga menjual karcis masuk), kalau malam Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon biasa ada pengunjung yang berdoa/ semedi di dekat sendang.  Ada juga pengunjung yang menerapkan ritual berendam di sendang.  Airnya memang sungguh jernih, sebening Raisa.....eh, sebening kaca, tapi dinginnya...brrrrrr ! Kok ada yang kuat berendam yach ?
Sendang Jumprit yang airnya jernih.  Yang sedang berjalan itu bukan Raisa lho..
 Nah, ada lagi yang spesial di Umbul Jumprit, yaitu penduduk pribumi yang suka bergantungan di pohon-pohon besar.  Kalau ada pengunjung, mereka segera turun mendekat.  Maksudnya mungkin mau minta sedekah makanan, tapi mau ngomong kok malu, hiks..hiks...  Tapi jangan underestimate tongkrongan bersahaja mereka lho, soalnya ada beberapa ekor yang nakal.  Itu warga pribumi ada yang berani mengambil sandal pengunjung dan dibawa lari, meskipun kemudian dibuang/ dilepas juga itu sandal.
 
Monyet si warga pribumi di Umbul Jumprit.  Ada yang berani ambil sandal pengunjung lho.

 Setelah cukup merasakan khidmatnya suasana Umbul Jumprit, cabut lagi Bro.  Jelajah selanjutnya ke arah barat, nanjak di lereng Gunung Sindoro.  Beberapa spot memang menunjukkan tanjakan nyata dan berkelok.  Untung si Vegie sudah terlatih melewati rute semacam ini (sejak diajak naik ke puncak Telomoyo, lalu trip ke Candi Cetho di lereng Lawu, dan pernah melintas tanjakan antara Grabag - Ngablak). 
Jalan menanjak ke arah Sindoro
 
Menanjak itu sudah biasa, tenang saja Bro.

 Menjelang sore, sampailah di Agrowisata Tambi.  Ini adalah perkebunan teh yang selain memproduksi teh sebagai core business, masih punya wing business alias usaha sambilan berupa penginapan dan aula/ ruang pertemuan.  Tempat ini memang ngetop di kalangan pegiat outbond dan mereka yang ingin ngadem di ranah pegunungan.
Suasana jalan di depan Agrowisata Teh Tambi
 Perjalanan memang sengaja (diatur) supaya sampai di Agrowisata Sambi tepat waktu sore.  Maksudnya agar pas saatnya istirahat dan bermalam di wisma yang tersedia.  Si Vegie pun diistirahatkan di bawah pohon, depan wisma penginapan.
Senja tiba, saatnya istirahat.
Si Vegie istirahat di bawah pohon
Karena sore/ malam harinya pengelola wisma tidak menyediakan makan, dan lokasi warung makan di desa sekitarnya lumayan jauh, maka makan malamnya pakai bekal logistik yang disupply dari Grabag tadi pagi.  Ya memang sudah dirancang begitu.  Pokoknya tetap asik tanpa terlantar kelaparan, ha haa....

Esok hari, sebelum sarapan ada waktu untuk jalan-jalan di sekitar Agrowisata Tambi.  Pagi yang cerah (dan senyum di bibir merah, kata lagunya Chrisye, 1983), suasana masih sepi dengan backsound suara burung cucak (atau kutilang ?) yang bernyanyi di perkebunan.  Dengan bersenjatakan binocular dan kamera hp yang simpel, dilaksanakan pemantauan pemandangan kebun teh yang hijau royo-royo.
Sebagian sudah terang, sebagian masih gelap


Inilah gunanya membawa binocular, buat mengintip yang jauh-jauh
Segarnya tampilan kebun teh yang hijau royo-royo
Setelah cukup acara jalan-jalan nonton kebun, balik lagi ke wisma.  Ternyata sudah disediakan teh hangat dan cemilan lokal berupa pisang goreng potong-kotak-kotak.  Kalau di kampung Salatiga, pisang goreng semacam itu namanya kepel.  Setelah itu muncul menu utama sarapan, yaitu nasi goreng dengan aksesoris tempe, timun, tomat, telur (ceplok).
Teh hangat dan pisang goreng kepel
Monggo dinikmati, sarapan paginya
Sambil makan pagi, ada pemandangan yang juga layak dinikmati. Di sebelah barat tampak pegunungan (Gunung Bisma ?) yang merupakan bagian dari Dataran Tinggi Dieng. Jauh di belakangnya tampak puncak Gunung Slamet sedikit mengintip sayup-sayup.

 Wolaa, ternyata hari itu ada tampilan istimewa masuk ke Agrowisata Tambi.  Warga desa sekitar menggelar pawai menyambut bulan puasa.  Iring-iringan pawai sampai di dekat wisma dan berhenti di taman.  Begitu leading drumband berhenti, anak-anak TK (atau juga PAUD) peserta pawai langsung berhamburan ke taman bermain.  Wisma yang sepi berubah jadi meriah.  Ini dia penampakannya.
Drumband Banser NU
Anak-anak langsung menyerbu taman
 Setelah cek out dan tentu saja membayar biaya menginap, lanjut perjalanan ke arah Kecamatan Kejajar.  Sampai Kejajar, belok kiri masuk desa (tidak tahu namanya desa apa) dan menuju Telaga Menjer.  Danau vulkanik ini jadi bendungan alam yang airnya dialirkan ke pabrik listrik (PLTA) Gerung, sekitar 2 km di bawahnya.
Telaga Menjer yang eksotis dan menenangkan
 Telaga Menjer sebenarnya tempat yang syahdu dan menentramkan kalbu (chie chiee...), karena memang suasananya tenang dengan latar belakang Gunung Bisma yang berwibawa.  Di lerengnya terdapat obyek wisata relatif baru, yaitu bukit Seroja.  Sayang pada hari itu suasana terpolusi oleh ulah pelaku perahu sewa yang nyetel dangdut koplo keras-keras (sampai suaranya bergaung memantul di dinding perbukitan).  Kesannya kok seronok campur ndesoooo....


Setelah lepas dari Telaga Menjer, perjalanan balik siang hari itu melewati Gerung, terus ke pusat kota Wonosobo.  Setelah duduk-duduk sebentar di alun-alun Wonosobo, lanjut ke arah Kledung (tepat di antara Gunung Sumbing dan Sindoro) lalu Parakan.  Setelah makan siang di Rumah Makan Bu Carik (lagi ?), lanjut ke arah Kedu, Kandangan, Kaloran, Sumowono, dan mampir di Bandungan untuk beli komoditas favorit, yaitu buah alpokat dan cemilan gethuk clothot.  Melewati Ambarawa, Banyubiru, Muncul, jelajah selesai begitu masuk hometown Salatiga.  Sorry, untuk etape akhir ini tidak ada fotonya, soalnya memang perlu konsentrasi menggeber si Vegie di jalan-jalan yang mulus tapi naik-turun berbelok-belok.  Jadi tidak sempat merekam tempat-tempat singgah di sepanjang lintasan. 
 

Saturday, July 01, 2017

DOLAN, MAMPIR CANDI CETHO + CURUG JUMOG

Kira-kira 2 taun awit aku kalangan tekan kebon teh Kemuning (NJAJAL JALUR SALATIGA-GEMOLONG-NGARGOYOSO), ono kerenteg (artine "semangat" bro) kanggo mbaleni dolan ngliwati jalur kuwi maneh.  Iki apa merga ketagihan, kangen, penasaran, apa ambisi liyane? Ya mbuh, Dul. Sing cetha, seka sing taktulis ning artikel sakdurunge, aku duwe karep utawa gagasan yen kapan-kapan arep njelajah kawasan kebon teh Kemuning nganti tekan Candi Cetho.

Eee, bareng napak tilas jalur kasebut mau, jebule sebagian dalane ono sing wis rusak, contone seko Gemolong liwat Plupuh tekan Masaran.  Dalane brochel-brochel dhedhel-dhuwel pating mbrongkal.  Tujune bareng tekan Masaran, situasi wis under control aman bin nyaman.

Sakteruse seko Jambangan, Batujamus-Kerjo nganti rampunge kalangan, critane nganggo gambar poto wae ya Dul.  Ben luwih valid (ora dianggep hoax) tur luwih ngirit ketikan.  Cekidot ya Dul:
alas karet Kec. Kerjo
 Spot alas karet ana Kec. Kerjo sing iki biasane dadi idolane para penggemar dolan/ biker sing lagi liwat nuju Ngargoyoso.  
Alas karet Kerjo, terusane sing mau
 Bar lewat alas karet sing sempat ngetop, terus lewat sawah dalane munggah.

Munggah terus, nganti tekan Kemuning sing kondhang kebon teh. Lha saiki tarik napas dhisik, kanggo persiapan marani Candi Cetho ana pucuk gunung. Okre Bro ?

Kebon teh ning nduwur gunung
Seka kene, dalane nanjak ruar biyasaaa....yen para sedulur teka rene, motore kudu sehat wal afiat, waras wiris tanpa lara lapa.  He he, soale yen kondisi motor ora teges, bakal ngebrok ora isa mlaku munggah.  Tanjakane sajak ora sopan tenan, ndedel tanpo tedeng aling-aling.
Nanjak, belok, nanjak maneh !
 
sabar, iki isih nanjaaak maneh.
Pungkasane dalan sing nanjak tambah nanjak mau, ketemune lataran parkir, penginepan, warung karo omahe warga sekitare Candi Cetho.
Iki latar ngarep mlebune Candi Cetho

Wis saiki tekan jerone Candi Cetho.
Candi Cetho seka ngarep

 
Sawangane Candi Cethoi seka samping


Gapura tengah arep munggah tekan candi
iki ngarepe candi paling pucuk
iki mburine candi utama

iki gubug-gubug kanggo sing padha donga (sing dolanan hape ya oleh mampir, ora haram)
iki patung ajudan King Brawijaya
iki dalan sampinge candi arep ning Puri Taman Saraswati
dalan setapak nuju Puri Taman Saraswati
undak-undakan nuju Puri Taman Saraswati
undhakan gerbang Puri Taman Saraswati
Puri Taman Saraswati kuwi panggonan sembahyang warga Hindu
Arca Saraswati katon seka sisih tengen



Arca Dewi Saraswati
Patung sing jaga ngarep candi
dalan arep metu seka candi
kumpulan watu sisa-sisane candi
tatanan watu nunjukke lambang Majapahit
gerbang ngarepe Candi Cetho ngadep langit
si Vegie nongkrong ning nduwur gunung

Bubar seka Candi Cetho, aku ngglender mudhun gunung lewat dalan sing mau nanjak tanpa belas kasihan.  Ngereme kudu kenceng Dul.
njojrog..mudhuun terus nganti tekan desa ngisor kono kae..

Terus, nglewati dalan sih ngarah nyang Candi Sukuh, aku njujug ning Curug/ grojogan Jumog.  Panggonane katon seger adem ayem tentrem marai mesam mesem.  Syarate yen arep nonton grojogan Jumog, sikil - dengkul kudu kuat kanggo mudhuni undak-undakan lan mengkone ya munggah lewat undak-undakan mau. 
dalan arep ning Candi Sukuh
undak-undakan mudhun cedhake grojgan Sumo
 
iki ngarepe Curug Jumog


Curug Jumog soyo cedhak
pas ngisore Curug Jumog, ana pelangi nggon tibane banyu
latar ngarep grojogan, nggone asri-eyup, banyune bening-adem-seger



























rampung napaki munggah undak-undakan oleh ucapan selamat
Rampung keceh banyune Curug Jumog, terus mlaku balik munggah napaki undak-undakan sing gunggunge ana 232.  Dijamin ngos-ngosan tanpa ewuh pakewuh, ngono lho Dul !