Monday, October 09, 2023

LUKISAN PENSIL: REALISME

    Kata orang, melukis itu menggunakan media basah seperti cat air, cat minyak, ampas wedang kopi, air rebusan daun, kulit kayu atau kembang. Sedangkan menggambar itu menggunakan media kering seperti pensil arang, konte, pensil warna serta krayon,  

    Lha, kalau terjadi komposisi hibrida antara media basah dan media kering, bagaimana orang menyebut karya yang dihasilkan, apakah sebagai lukisan atau sebagai gambar ?  Begitu pula, kalau teknik yang digunakan untuk menghasilkan suatu karya ternyata di luar pakem arus utama dan malah "tampil fungsional", apakah kita tetap harus mengklasifikasikan secara dikotomis antara lukisan dan gambar?

    Contoh kongkrit yang seperti "di luar kebiasaan" adalah penyebutan lukisan pensil, ketimbang gambar pensil.  Beberapa tampilan berikut misalnya, mungkin menimbulkan pertanyaan: apakah layak disebut sebagai lukisan pensil atau tetap hanya sebagai gambar (dengan media) pensil ?
Cekidot Gan ....

Diponegoro Avenue, Salatiga

 

Elephant training center, Lampung

 

 

Old train station, Semarang Regency

 
Sunbathing buffaloes


A path amidst bamboo trees

Sunday, October 08, 2023

MENGAMATI TINGKAH/ KELAKUAN KUCING

     Kucing adalah spesies satwa yang berinteraksi dekat dan akrab dengan hidup manusia sejak ribuan tahun lalu.  Respon orang terhadap kucing ternyata berbeda-beda. Ada yang suka terhadap kucing, ada yang apatis alias cuek , ada yang tidak suka dan menggrundel setiap bertemu kucing.  Bahkan ada orang yang takut (atau alergi) melihat kucing .....

    Naa...Sampeyan termasuk kalangan yang mana, Bro ?

   All right, tanpa intensi buat promosi, provokasi, agitasi, persuasi, atau malah oposisi full argumentasi ..... Mari kita simak beberapa contoh tingkah/ kelakuan kucing di sekitar-sekitar, tidak jauh dari lingkungan kita.  Cekidot Gan ....

naik pohon bareng-bareng

 
mau berlatih naik sepeda

hobinya berkebun ...


sambil menonton minum air


Ini tivinya lha mbok disetel, aku mau nonton nii..


nii mau download file dari CPU. Colokan USBnya mana ya ?


listening to the radio


Mungkin, ini maksudnya nasi kucing ...


Latihan wushu, soalnya bulan depan ikut Asian Games


Ikutan browsing mbah Google


Ini termasuk generasi rebahan


Tuesday, May 12, 2020

GAMBAR PEMANDANGAN PAKAI PENSIL

Bicara soal gambar pemandangan, apa yang sering muncul dari benak ? Orang kita sering terjebak pada tampilan gunung, jalan mengarah ke gunung, deretan pohon di pinggir jalan, dan sawah.  Kadang-kadang ditambahi ada kali (atau parit) dan air terjun yang seolah muncul entah dari mana.  Lha mosok di daratan rendah yang landai tiba-tiba ada air terjun di dekat sawah.  Contoh tampilannya seperti ini ....



Sialnya, citra pemandangan semacam itu bercokol di kebanyakan orang kita dari generasi ke generasi.  Gambaran yang didapat seorang anak akan dibawa terus sampai dewasa, dan diwariskan ke anak-anaknya (atau ke cucu cicitnya).  Begitu terus, bila tidak ada semacam intervensi instruksional (wuiih....istilah yang ajib) untuk memutus citra warisan yang "begitu-begitu saja" tentang gambar pemandangan, dan mengubah prosedur teknis untuk menghasilkan gambar atau lukisann semacam itu.

Perlu ada upaya mengubah pola pikir alias paradigma tentang gambar pemandangan.  Berita buruknya, apapun, bagaimanapun dan di manapun di dunia ini, mengubah paradigma selalu tidak mudah (dan kadang-kadang menyakitkan).  Ini karena pikiran yang sudah mapan harus menerima fakta yang berlainan dengan yang sudah diterima dan bersemayam mapan dalam benak di waktu yang lama.  Responnya, kadang-kadang orang jadi protes, atau mengabaikan sebagai suatu resistensi. Ya begitulah kalau ada sesuatu liyan yang berdampak pada paradigma.

Berikut ini adalah beberapa tampilan gambar (atau lukisan ?) pemandangan yang tidak menurut pada pakem "gunung-jalan-sawah-kali" seperti disebut di atas.  Ada unsur yang sama memang, tetapi dibuat dengan cara pandang yang lain.  By the way, apa beda antara gambar dan lukisan?  Apakah beda dalam hal alat dan bahan pembuatan?  Atau beda dalam hal kerumitan tekniknya?  Atau beda dalam derajat artistiknya? Entahlah, sampai sekarang saya belum dapat penjelasannya.  Ya sudah, kita lihat dan nikmati saja tampilan berikut. Cekidot Gan !

 




Wednesday, December 18, 2019

LAGU GOJEK JAMAN DULU

Jaman dulu, sewaktu masih di SMP sampai SMA, biasalah kalau anak-anak gojek pakai ungkapan-ungkapan kontemporer yang sering dipahami hanya oleh kebanyakan mereka yang sebaya dan berlaku saat itu.  Yang dimaksud gojek di sini adalah guyon, bercanda, bukan gojek alias ojek online yang tokohnya jadi menteri pendidikan.  Karena karakteristiknya kontemporer, ya kadang-kadang hanya nongol semusim lalu lenyap berganti yang lain.

Termasuk ungkapan gojek kontemporer di sini adalah semacam lagu dolanan, yang biasanya dalam bahasa daerah.  Ini konteksnya jaman dekade 1980an lho, ketika interaksi antarbocah masih kental diwarnai bahasa daerah.  Tidak seperti sekarang, komunikasi antarbocah lokal di lingkungan primordial yang sama malah memakai bahasa nasional yang serba tanggung, abal-abal dan tidak standar.  Wagu jadinya.

Di kalangan bocah tanggung (level SMP - SMA) sekitar Jawa (Tengah dan DIY) dekade 1980an, beredar beberapa lagu gojek yang nongol ketika mereka sedang dolanan,atau nogkrong alias hang out bersama gerombolan. Contoh lagunya seperti ini:

Esuk-esuk tuku lengo nyangking botol, konco
Konco lawas dijak dolan menyang kali, pelem
Pelem iku kecute ngluwihi jeruk, tumo
Tumo iku manggone ana ing rambut, jempol
.....

Ada  lagi contoh lagu yang  lain:

Yo, dolanan dakon ...
Watu item ....
cacahe pitu ....
Yu Sarijem ....
 neng alun-alun .....

Whua haa haaa haaaa....Begitu nyanyi barerng-bareng, reaksi mereka langsung katawa ketiwi sampai ngakak terbahak.  Itu karena lagu-lagu gojek ini menyerempet (atau berpotensi) membawa "konten tidak senonoh" di tiap akhir barisnya.  

Begitulah, namanya juga bocah-bocah nakal di jamannya, selalu punya otak kreatif menghindari ancaman represi dan pencekalan dari kalangan orang tua yang sok garang apalagi di jaman Orde Baru.  Whua haa haaa haaaa....

Wednesday, March 13, 2019

CARA NATURAL MENGGAMBAR POHON

Menggambar pohon itu mudah.  Banyak orang bisa melakukannya tanpa berhitung, berpikir dan berusaha secara rumit.  Pada suatu psikotes misalnya, ketika peserta tes diminta menggambar pohon, dalam hitungan detik gambar pohon itu bisa tampil tanpa ragu.

Tapi, menurut pengamatan bertahun-tahun terhadap hasil gambar yang dibuat oleh populasi orang dari berbagai kelompok umur, dari kalangan anak TK sampai komunitas simbah, ternyata banyak kemiripan ditemukan.  Kebanyakan mereka akan membuat gambar seperti di bawah ini.
Cuma begini ?
  It works, memang iya.  Gambarnya cepat dibuat dan mudah dipahami.  Kalau niat dan tujuannya sekedar untuk mudah dipahami, ya bisa disebut sudah terkabul hajatnya.  Tak lebih dari itu.  Tapi kalau dipertimbangkan sisi artistiknya, produk semacam itu rasanya kurang "menggigit", kurang greget, kurang nyeni, sensasinya kurang sedap dan seolah melanggar hukum alam.  Lihat saja mekanismenya, pada tahap 1 arah coretannya dari atas ke bawah.  Pada tahap 2, gerumbul daunnya dibuat mengelilingi batang dengan bentuk kribo.

Gambar pohon semacam di atas akan cenderung tampil sebagai pohon gendut tapi pendek seperti stunting.  Batangnya gempal, percabangannya sedikit, seperti habis dikepras/ dipotong bertubi-tubi dan hanya disisakan batang tengah yang terbesar.  Daunnya selalu tampil kribo mengggumpal, tidak ditonjolkan rincian bentuk daun yang umumnya berbeda beda ukuran maupun jenisnya.

Oke, mari kita mencapai sensasi yang berbeda dalam menggambar pohon.  Yakinlah bahwa derajat artistik yang lebih tinggi dapat terwujud, dan itu tidak sulit.  Ayo segera dimulai.


Pertama, tampilkan batang pohon. Arah coretannya dari bawah ke atas, jangan terbalik.  Ini karena secara alami pohon bertumbuh dari bawah ke atas.  Cara ini juga mempermudah untuk menentukan seberapa gemuk/ besarnya batang pohon yang digambar.

Kedua, dari batang utama, buatlah percabangan ke arah luar.  Sekali lagi jangan terbalik coretannya (dari luar ke arah batang tengah).  Cara ini akan mempermudah untuk menentukan seberapa banyak cabang yang menyebar dari batang utama pohon.


Ketiga, dari cabang-cabang yang berangkat dari batang utama tadi, pisahkan/ buat lagi percabangan menjadi ranting-ranting yang lebih kecil dan banyak.  Cara ini mempermudah untuk menentukan bentuk dan ukuran tinggi pohon yang digambar.


Keempat,  buatlah bentuk awan di sekitar ranting-ranting yang sudah digambar sebelumnya. Coretannya tipis-tipis saja, jangan terlalu tebal karena bentuk awan ini hanya untuk memberi bentuk gerumbul daun pada pohon.


Kelima,  buatlah rincian bentuk daun-daun di sekitar ranting-ranting kecil dan bentuk gerumbul daun yang sudah dibuat sebelumnya.  Bentuk daun terinci bisa dibuat agak bulat-bulat, atau agak lonjong, atau runcing-runcing, terserah.  Ingat, jadikan skets ranting-ranting dan gerumbul (kanopi) daun tadi sebagai patokan/ batasan membuat detail gambar daun.  Jangan ragu untuk menyambung/ menumpuk rincian daun pada ujung ranting atau kanopi daun yang bentuknya awan/ kribo tadi.


Berikutnya, arsirlah bagian batang tengah untuk memberi kesan adanya kulit batang pohon.  Tambahkan bentuk akar,rerumputan dan bebatuan di bawah pohon sebagai aksesorisnya.



Kemudian, tentukan dari mana sinar akan datang untuk membuat kesan adanya gelap-terang, dan kesan 3D pada gambar pohon.  Arsirlah bagian-bagian daun, ranting, batang, rumput dan tanah di bawah pohon untuk membuat efek bayangan/ gelap.  Bagian yang terang/ terkena sinar tidak usah banyak diarsir, atau dibiarkan cerah.


Akhirnya, jadilah gambar pohon yang tampak lebih natural, artistik dan berkesan 3D (tidak cuma datar saja).  Selamat mencoba dan berlatih terus sampai menghasilkan gambar pohon yang lebih baik. 

Sunday, May 20, 2018

NGADEM DI HUTAN PINUS MANGLI

Karena lingkungan urban yang padat dan berhawa sumuk binti gerah, banyak orang kota (apalagi yang tinggal di kampung padat) mencari suasana segar pas ada liburan.  Mereka bertandang ke mana-mana, memburu spot yang hijau royo-royo, berudara sejuk dan jauh dari area bising.  Itulah mengapa banyak warga Jakarta misalnya, rela wal ikhlas antre di jalan raya alias bersedia menderita di kemacetan yang mengular berkilometer hanya untuk datang ke lahan adem bernama Puncak.

Beruntunglah anak negeri yang tinggal di daerah yang tidak sepadat, seruwet, semacet dan "semenderita" seperti Jakarta.  Contohnya mereka  yang hidup di Jawa Tengah, sekitar Semarang, Salatiga, Magelang dan Temanggung.  Dalam konteks kebutuhan refresh ke tempat adem, pilihannya lebih bervariasi dan bergaransi.  Bervariasi, karena opsinya ada hutan pinus, kebun teh, kebun bunga dan sayur, air terjun, puncak bukit dan lereng pegunungan yang menyajikan pemandangan wooow... Selain itu juga bergaransi, dalam arti jaminan barangnya asli alami bukan rekayasa seperti Dunia Fantasi, jaminan akses ke lokasi bebas macet kecuali pada musim Lebaran, ada beberapa spot yang macet gegara diserbu pemudik dari Jakarta (mereka biangnya macet? ha..haa..haaa), dan jaminan ongkos kunjung/ tarif masuk lokasi yang umumnya murah meriah carey.

Salah satu tempat apik yang mudah dihinggapi dari sekitar Semarang, Solo dan Yogya (disingkat Semarloyo) adalah hutan pinus Mangli, Kec. Grabag, Kab. Magelang.  Tampilan kali ini menyoroti aksi menengok hutan pinus Mangli yang diakses dari Salatiga.  Ceritanya begini: dari Salatiga awak pakai motor kesayangan (memang cuma punya itu) code name Vegie, ke arah Kopeng dan melaju terus ke Ngablak.  Setelah Pasar Ngablak, belok kanan di gapura gede bertuliskan Sub Terminal Agribisnis Ngablak Kab. Magelang.  Dari sini melewati Puskesmas Ngablak, tinggal melaju ke barat mengikuti papan petunjuk "Jalur Pendakian G. Andong via Sawit".  Tapi sampai di Srigading ada pertigaan, tidak lagi mengikuti jalur pendakian itu, belok kiri mengikuti penunjuk arah "Mangli".  Tinggal terus ikuti jalan aspal yang menurun, akhirnya sampai di hutan pinus Mangli.  Tampilan front yardnya seperti ini:
Gapura/ loket masuk Hutan Wisata Mangli
 Masuk lewat gapura (bayarnya cuma Rp. 5000) itu, awak memarkir si Vegie di lahan parkir sebelah kanan dalam.  Si Vegie pun nongkrong parkir dengan tenang dan aman di sini:

  Di hutan wisata ini, menu utamanya ya hutan pinus.  Gerombolan pinus itu kalau pas kena angin daunnya akan mendesau - mendayu - dayu, menimbulkan sensasi gimana gitu.  Ditambah lagi dengan udara yang sejuk khas pegunungan, rasanya membuat betah nongkrong di situ:
Suasana khidmat di hutan wisata Mangli, Kab. Magelang
 Hutan wisata Mangli sudah dilengkapi tempat bermain anak, walau masih minimalis bin ala kadarnya:
Playground di hutan Mangli

Selain itu juga ada camping ground lumayan luas, buat yang suka ngecamp atau rombongan pramuka sekolah yang biasanya punya gawe wajib kemah (sambil disemprit-semprit, disuruh lari-lari).  Berkemah di sini dijamin tenang dan nyaman tanpa gangguan pedagang asongan dan peminta-minta, tidak seperti di bumi perkemahan Kopeng.  Camping ground di Mangli sudah dilengkapi MCK dengan sediaan air yang melimpah dan dingin-segar, brrrr.....



Lokasi ini juga cocok untuk adegan foto prewedding, selfie perorangan atau beregu, jalan santai, jogging, outbond, atau keceh (main-main air) di anak sungai yang airnya mengalir jernih gemericik di sela-sela batu :
 
jalan setapak di hutan Mangli
Saran awak bagi yang mau traveling ke sana, pilihlah waktu kunjungan sekitar musim kemarau karena cuaca cerah dan udara segar ditunjang pemandangan yang asyoi.  Kalau di musim hujan, sering berkabut dengan hujan rintik-rintik, tanah basah-basah licin, dan udara terasa dingin.

Oke bro & sis, begitulah cerita awak soal hutan wisata Mangli.  See you there.

Tuesday, March 06, 2018

NONTON FESTIVAL 5 GUNUNG

Festival 5 Gunung itu acara seni, rupa-rupa macamnya seni tampil bergiliran maupun barengan.  Ada seni jathilan, sorengan, joget kontemporer, ditambah tampilan musik etnik, musik ngepop, musik lokal campur regional, ditambah lagi ada ekspo lukisan, seni instalasi, dan lain-lain pokoknya seni yang benar-benar nyeni, tanpa niat "mbathi" (cari laba berwujud komodifikasi) dan tidak takut rugi.  

Aksi seni yang melibatkan komunitas (representasi) warga lima gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, Menoreh) ini digelar tiap tahun.  Tempatnya bergiliran, di desa-desa di bawah tiap gunung.  Kalau misalnya tahun sebelumnya acaranya digeber di bawah Gunung Andong, maka tahun ini di bawah Gunung Merbabu, dan tahun berikutnya di bawah Gunung Merapi. Begitu seterusnya, bergiliran dan berbagi.  Ternyata, dari tahun ke tahun peminat dan partisipan Festival 5 Gunung makin bertambah.  Tidak hanya warga di bawah kelima gunung itu saja yang terlibat, tetapi juga partisipan dari daerah lain di Indonesia ikut tampil penuh semangat.

Ketika Festival 5 Gunung XVI digelar di Desa Banyusidi Kecamatan Pakis Kabupaten Magelang, awak merasa kerenteg  alias terdorong bin termotivasi untuk ikut menggrudug, datang on the spot dan merasakan sendiri atmosfir guyub rukun, gelora bermacam seni, dan ekspresi artistik spontan yang jujur, lugu, inklusif dalam balutan ruh paseduluran yang kental.  Nimbrung (walau hanya sebagai penonton) di pagelaran komunal yang serba terbuka, bertaut dan semanak ini mampu menimbulkan rasa bangga dan percaya bahwa bangsa ini tetap bisa utuh, walaupun di sebelah sana sekelompok manusia masih gemar mengumbar wacana kedengkian bersalut kepalsuan dan pengingkaran.

Berikut ini sejimpit gambar pelengkap cerita tentang eksotis sekaligus hangatnya Festival 5 Gunung.  Lain kali, ikutlah menceburkan diri di acara kerakyatan yang digelar secara mandiri, gotong royong dan jauh dari sikap kesombongan sektoral ini.

 Jalan menuju Desa Banyusidi dihias lampion brongsong buah dan gapura dari jerami/ rumput yang dipilin.
 
Di tengah Desa Banyusidi, tepi jalan dan pekarangan penduduk juga dihias umbul-umbul/ gunungan dari jerami.  Belum nampak aktifitas warga dan partisipan festival di pagi yang berkabut dan agak dingin.

 Panggung utama Festival 5 Gunung XVI masih sepi dan bersaput kabut pagi.  Fokus panggung adalah sosok Garuda tunggangan Wisnu.


 Dilihat lebih dekat, dekorasi panggung utama ini dibuat dari material alami: jerami, rumput, ranting kering, sabut kelapa, tongkol jagung, biji pinus, batang jagung. Pokoknya semua bahan alami yang ada di kampung itu.  Artistik habiiiisss.....


 Di seberang sosok Garuda, ada si Naga, tokoh antagonis yang patungnya dibuat dari bilah bambu, ranting kering, sabut kelapa, batang jagung dan jerami.


Pak tua ini berkreasi dengan serbuk kayu yang dipadatkan dan dibentuk tumpeng/ gunung kecil dan ujungnya dibakar.  Jadilah miniatur gunung berapi mengepul syahdu...

 Ada juga pameran lukisan, kain batik tulis, dan beberapa kerajinan tangan lain.  Tempatnya di bangunan padepokan di tengah-tengah kampung Gejayan Desa Banyusidi.

Aktifitas Festival 5 Gunung menggeliat.  Konser angklung ini adalah bukti bahwa semua orang dapat terlibat dalam kegiatan seni.  Penari, pemusik, penonton segala umur, semuanya antusias memainkan angklung.

 Tentu saja main angklungnya ada yang memberi aba supaya tercipta harmoni.  Kalau tidak, bunyinya bakal ngalor ngidul amburadul..


 Ada pula aksi teatrikal (seni kontemporer) dari Jogja, dan penampil lainnya dari beberapa kota atau kabupaten di Jawa dan luar Jawa.  Semuanya BDD (bayar dewe-dewe) dalam persiapan dan penampilan masing-masing, dan yang nonton pun terima tampilan gratis.

Hasil gambar untuk Festival 5 gunung 2017 Nah, ini semacam reog (atau jathilan) tapi sudah dimodifikasi habis-habisan dengan tampilan kekinian.


 Lelah nonton dan jalan ke sana-sini?  Istirahatlah.  Penduduk setempat dengan senang hati menerima kehadiran siapapun, para penampil, rombongan penari, penonton, pewarta dan pelancong yang mampir ke sana.  Tanpa membedakan siapapun tamunya, mereka akan menyediakan tempat berteduh, minuman hangat, makanan ala kadarnya, bahkan ruang untuk menginap bagi yang datang dari jauh.  Semuanya gratis-tis-tis.  Betapa gurihnya ??

Inilah sedikit cerita mengenai Festival 5 Gunung.  Kebersamaan, kreatifitas tiada batas, ketulusan hati, kegembiraan dan di atas semuanya, rasa guyub yang nyata tanpa pura-pura, membuat peristiwa budaya ini sungguh ngangeni dan membuat ketagihan siapapun yang pernah menyaksikan, berperan serta dan menikmatinya untuk datang dan datang lagi di pagelaran serupa di tahun-tahun berikutnya.