Sunday, September 20, 2015

LEBARAN, NO MAINSTREAM



Ada ragam aksi yang muncul di sekitar bulan Pasa sampai awal Sawal, yang tidak biasa nongol di waktu lain dalam setahun.  Ini bukan soal keutamaan waktu tersebut in terms of spiritual domain, tapi material matters yang dianggap mendompleng ketenaran dan keutamaan sekitar Pasa dan Lebaran itu sendiri.  Hal-hal pendompleng yang menyeruak di kolom waktu itu bersifat periferal dan berwujud aksesoris saja sebenarnya, tetapi makin sering dan ngetrend menjadi (seolah-olah) peran utama yang mainstream.

Segmen keutamaan bulan Pasa di ranah spiritual sudah sangat banyak sekali dibahas tuntas-tas-tas oleh para ahlinya.  Jadi karena yang nulis di sini bukan ahlinya, maka tidak dirasa perlu ikut mengulas beyond specialty-nya secara menggebu-nggebu.  Soalnya ada dua kekhawatiran: Pertama, pembahasannya akan berpeluang jadi redundant alias berlebihan yang tidak perlu atau malah luber tiada tanggapan berarti. Kedua, kalau yang mengulas bukan ahlinya dan secara eksplisit tidak memiliki kompetensi, risikonya terjadi diskursus yang ngoyoworo dan ngalor-ngidul tanpa pas wal akurat.  Jadi tengsin ngisin-isini, ya toh?

Lha, pembahasan di sini menonjolkan perkara yang non-utama di sekitar bulan Pasa sampai hari-hari awal bulan Sawal.  Artinya yang jadi lakon di sini adalah ‘no mainstream’.  Label ‘tidak umum’ ini memang berpeluang menghadirkan polemik full pro vs. kontra antara yang akur melawan yang ngeyel.  Di antara mereka terpapar beberapa oknum sebagai pihak yang netral tidak memihak atau hanya membiarkan saja ‘kericuhan’ pendapat itu berjalan.  Ramasalah, simak saja fragmen-fragmen periferal (alias no mainstream) yang makin mencuri perhatian berikut ini.
 

Menghitung Hari Pasa

Lha kenapa tho, hari pasa kok dihitung dan dikomentari, “Wah, puasanya baru dua hari..”.  Atau “Pasanya sudah seminggu...”.  Kalau sudah niat berpuasa, ya jalan saja dengan tenang.  Tak usah dihitung sudah berapa hari.  Kesannya kok amatiran, kekanak-kanakan dan kurang mahir berolah rasa.  Yang dimaksud di sini adalah soal hitung-hitungan dan komentar yang diekspresikan dan diproduksi kaum tua alias dewasa menurut usia. Ee, ternyata dewasa menurut usia belum tentu sinkron dengan dewasa menurut kematangan jiwa ya?

Opini no-mainstream: biarkan saja hari-hari pasa beroperasi dengan kronologinya sendiri, tak usah dihitung-hitung.  Jalani saja dengan full niat dan komitmen.  Sebentar lagi juga selesai, ya toh?


Supply Ransum demi Buka Pasa

















Kalau menjelang buka pasa ada banyak pemasok ransum (kolak, bubur, kue, dan ”obyek  cokotan” lainnya) muncul di pinggir jalan, di pertigaan, di perempatan, di depan pasar, di trotoar, tentu itu berhubungan dengan demand makanan yang meningkat signifikan di bulan poso itu sendiri.  Ironical fact? Bisa jadi, mengingat pasa itu biasanya diasosiasikan dengan pembatasan, pengendalian, dan pengaturan tingkat konsumsi material-badani.  Mestinya (atau idealnya) ada sedikit konsumsi yang berkurang temporer sebulan sajalah.  Tapi kok malah meningkat dengan variasi yang menyeruak semarak? Inikah “politik balas dendam” di waktu petang setelah “penderitaan” di waktu siang?

Opini no-mainstream: Tak usah menumpuk logistik demi buka pasa kalau memang tidak dibutuhkan benar-benar.  Siagakan ransum sewajarnya, baik jenis-jumlah-jadwal (lho kok 3J).  Kalau sudah ada wedang anget dan menu seimbang (karbohidrat-protein-lemak-vitamin-mineral) ya sudah.



Tukar Uang Kertas Baru
 

Kurang dua minggu sebelum Bakdan Hari I, beramai-ramailah orang memburu uang kertas baru yang kempling kinyis-kinyis.  Duit gede ditukar pecahan yang lebih kecil demi mendapat yang gress, kalau perlu yang serial numbernya masih urut.  Persiapan bagi-bagi angpao katanya.  Dulu, adegan ini tidak menyolok benar, dan yang terdispensed biasanya duit krincing 100an.  Tak tahu sejak kapan adegan tukar uang demi bagi-bagi uang ini bermula, dan dari mana kebiasaan ini berawal.  Sekarang kok sepertinya (hampir) jadi kebudayaan “seronok-mencolok” di sekitar kampung.  To prove what?  Ekspresi riang gembira (karena sudah lolos dari bulan Pasa)?  Wujud bersedekah ke kalangan yunior?  Atau terselip “pesan pencitraan” biar tampak tajir-ajip-tambah generous?

Opini no-mainstream:  Perlu ditimbang rasa dan pikir, jangan sampai kebiasaan bagi-bagi uang itu mengedukasi orang jadi berorientasi matre-hedonis dan berpaham duitisme. Jangan sampai terjadi evolusi paradigmatik bahwa Bakdan itu identik dengan supply and demand duit everywhere.  Uang itu hanya sebagian dari tools, bukan goals.



Suplai (Besar) Ransum Bakdan
 

Sekitar satu minggu sebelum Bakda “Dhuul”, terjadi akumulasi ransum besar-besaran.  Maka tampilah bermacam kue (nasta R, kasteng L, putrisal Dju, semprong, kuki S kuning, coklat, hitam), mete-mete, permen, kacang segala rupa, ager-ager segala rasa.  Kadang-kadang masih ditambah tampilan ransum “teknologi generasi sebelumnya” macam stik bawang, kuping gadjah, pangsit dipuntir, cendhol tapioka (goreng), widaran (kadang diplesetkan sebagai “telek kucing”), kripik mlinjo (emping, Dul..), kripik pisang dibedaki gula, kripik kentang, kripik tela balad O, kripik bentoel, kripik tempe, kripik tahu, dan diperkuat barisan produk ketan (tape ketan, jadah, wajik, jenang, madu mongso, rengginang).  The list is still unexhausted, yeaach...

Dari sektor makanan berat, menjelang kontestasi takbiran tampilah kupat sebagai komplemen (bukan subtitusi) nasi.  Jadi ada kupat, masih juga ada nasi.  Pangan pokok ini didampingi opor ayam, sambel goreng, telur balad O sebagai penampil utama.  Bintang tamu lainnya (biasanya berkonten lemak tinggi) macam rendang, bistik, semur, cap cay atau oseng utren telur puyuh turut meramaikan suasana meja makan.   Pokoknya meriah abiiis...

Apakah semua tampilan itu segera tamat diserbu kalangan domestik dan para tetamu? Situasi nyata di lapangan berindikasi: tidak selalu begitu.  Hari pertama, komunitas peraya Bakda memang antusias menyikat main course yang meriah itu.  Tapi hari berikutnya, segenap orang mulai merasa bosan, eneg, jenuh dan efek ikutannya adalah mereka berusaha mencari variasi makanan lain di luar rumah.  Dess, timbunan logistik rumahan yang beraneka warna tersebut ternyata tetap eksis berhari-hari, bahkan beberapa di antaranya sampai bergeser rasa jadi asin, so kental, mledhok, sepo, mblengeri karena dipanasi beberapa kali.  Ada juga yang jadi kering dan bantat, kurang mengundang rasa.  Di bagian lain ada yang berubah rasa jadi kecut layu (maksudnya basi) tanpa dapat ditolong lagi.  Lha terus, yang begitu untuk apa?

Opini no-mainstream:  tampilnya makanan ringan dan berat sebagai bagian dari selebrasi Bakda memang kultural in nature, tapi tidak kudu gegap gempita begitu.  Mengapa tidak dirancang lebih efektif-efisien, misalnya disesuaikan dengan perkiraan jumlah partisipan Bakdan sebagai calon penyantapnya, perkiraan berapa lama logistik itu akan tampil, dan perkiraan tingkat respon/ minat calon penyantap terhadap makanan yang akan ditampilkan.  Ini akan menghindari efek mubazir dari sediaan logistik yang mangkrak berhari-hari. 

Isu terbaru yang perlu dipertimbangkan adalah fenomena gangguan kesehatan pascaBakda karena konsumsi logistik yang serba padat lemak, padat karbohidrat, padat protein, natrium dan karbonat.   Maka penyedia logistik rumahan bisa menampilkan menu yang kaya serat, tidak over lemak/ karbohidrat/ natrium dan karbonat, misalnya lalapan, pecel, gudangan, gado-gado, tahu kupat campur sayur yang didukung iwak kali goreng.  Memang menu semacam ini idealnya tampil cuma sehari dan harus diganti untuk hari berikutnya, tapi justru itu sehat.  That’s the point.



Berjamaah Memacetkan Lalin

Dengan label arus mudik, arus balik, berkunjung ke kerabat, nonton obyek wisata, atau Bakdan ria, traffic di banyak tempat (terutama Jawa) jadi overpopulated, overoccupied, overflowed sampai mbludag tidak sekedar macet.  Jalan yang normalnya bisa dilewati dalam waktu satu jam, seolah jadi jauuuh sekali karena orang baru sampai di target site setelah tiga jam, yang tiga jam jadi lima jam, yang enam jam jadi 12 jam, yang sepuluh jam jadi 30 jam.  Antrian kendaraan sampai  mengular berpuluh kilometer seperti tidak putus-putus.  . 

Ratusan ribu (atau jutaan?) orang (mestinya) menderita karena terjebak lengket di kemacetan traffic.  Tingkat penderitaannya bervariasi; dari pegel boyok, kaki, tangan, bokong, terus pusing, kepanasan, dehidrasi, diare, masuk angin, tekanan darah naik, retensi urin karena ngampet pipis, babak belur karena brompitnya crash landing di jalan, sampai balita yang henti napas karena pengap (sufokasi tidak sengaja).  Ini adegan yang terus membuncah dari tahun ke tahun, dan segombyok besar warga itu mengulang ritual penderitaan di jalan demi selebrasi Bakda.  Tapi dengan bermacam kemacetan, keruwetan, kemampetan dan tragedi tahunan seperti itu, kok tidak ada akumulasi kekesalan, kecapekan, ketidakpuasan, kegusaran dan keterusikan yang akhirnya memproduksi ekspresi final berupa rasa kapok dan solusi final untuk mengakhiri penderitaan?  Malah sepertinya peserta alias jamaah kemacetan lalin seputar Bakda bertambah.  Bukannya kapok atau terusik, kok mereka tetap senang bermampet ria di jalanan. 

Pemandangan di beberapa jenis lahan wisata juga menampakkan keadaan overpopulasi yang berjibun.  Tempat piknik air misalnya, diserbu dan dicemplungi manusia berbagai umur sampai tampak seperti cendol dalam wedang dawet.  Bonbin, taman, situs-situs kawak macam candi atau bangunan historis lain yang biasanya elegan berubah jadi seronok karena serbuan wisatawan Bakdan.  Memang bagus demi pembangunan ekonomi dan turisme, tapi nuansa khidmat kok berubah jadi berisik dan kumuh.

Opini non-mainstream:  Dengan kemutakhiran teknologi telekom dan TI, mestinya kemacetan-keruwetan traffic bisa dieliminasi besar-besaran.  Konkritnya, orang bisa siaran langsung di telepon, pakai fitur video call, chat, WA atau apa pun so bisa ketemu orang yang dijujug tanpa harus datang berpuluh atau beratus kilometer ke tempat lain.  Mudik tidak harus di musim Bakda, toh bisa dijadwal ulang di waktu lain yang longgar.  Perkara apdol atau no apdol itu masalah rasa, bukan rasional sebab-akibat atau proses-hasil.  Tradisi sebenarnya bukan produk budaya yang statis atau haram berubah, selama esensi kebaikannya tetap terawat.  Toh aksi saling minta dan memberi maaf, dan membangun silaturahmi harusnya berlangsung sepanjang hayat, bukan hanya di seputar Bakda.  Kumpul kerabat dan komunitas primordial juga tidak harus hanya di musim Bakda.  Nyatanya acara reuni, temu kangen, family gathering dan yang semacam tetap saja bisa dijadwal dan digelar di tempat dan waktu bervariasi sesuai kesepakatan.



In Restrospect

Hakekat proses belajar selalu mengarah pada tahap hidup yang lebih baik.  Ini berlaku untuk komunitas orang in general, di manapun dan kapanpun.  Masa Pasa dan Lebaran dengan segala pernik dan mozaik adegan, tampilan, aksi dan rasa juga menjadi sesuatu yang dapat dipelajari demi kebaikan sekarang dan mendatang.  Opini kali sekali lagi tidak memprovokasi, mengajari, mbujuki supaya memberontak terhadap tradisi dan kelumrahan seputar Bakda, tetapi menawarkan alternatif yang semoga feasible dan applicable dengan tetap mempertahankan esensi kebaikannya.  Begitu lho Dul...