Tuesday, March 22, 2016

"KITA - CUMAN - TEMEN-TEMEN"



Hari ini, Bahasa Indonesia orang negeri sering terungkap belang bonteng dengan cita rasa yang kurang pas terdengarnya (atau terbacanya?).  Ini bukan saja menyangkut ragam baku atau tidak baku, formal atau non-formal, tetapi juga masalah diksi serta struktur bahasa yang kurang mendapat atensi penuturnya.  Padahal penggunaan bahasa bukan melulu berkutat sekitar kefasihan dan artikulasi ujaran yang powerful “berkoar”, tetapi juga butuh ketepatan yang serba pas; pas ragamnya, pas diksinya, pas strukturnya, pas konteksnya, pas atmosfirnya.

Fragmen ini menyoroti sedikit contoh aktual ujaran yang tidak pas dalam berbahasa persatuan menurut Sumpah Pemuda (yeleeeh..).  Pembahasan di sini memfokus pada tiga kata kunci; “kita”, “cuman”, “temen-temen”.  Bukan berarti tidak ada kasus ujaran bermasalah selain yang berhubungan dengan ketiga kata kunci tersebut.  Ada banyak sebenarnya, namun paparan kali ini mengambil tiga kata kunci sebagai representasi kasus serupa.  Selain itu, fokus diperlukan agar “pergunjingan” ini tidak melebar ke mana-mana.

Kita

Kata ganti “kita” ditampilkan untuk menyatakan bahwa penutur dan lawan bicara (atau pembaca teks tulis) terlibat dalam satu diskursus.  Itu fungsi “kita” sebenarnya.  Tetapi sekarang makin sering terjadi keadaan begini; orang mengatakan “kita” yang konteksnya adalah si penutur mewakili lembaga atau sekelompok orang lain, sedangkan lawan bicara/ pemirsa/ pendengar/ pembaca tidak termasuk di dalamnya.  Ini tidak tepat karena seharusnya orang tersebut menggunakan kata “kami”. 

Dalam Bahasa Inggris, kata ganti “we” memang memiliki padan kata “kita” atau “kami” dalam Bahasa Indonesia.  Tetapi dalam Bahasa Indonesia, “kita” dan “kami” memiliki makna yang berbeda (walau beti, beda tipis).  Dan hal ini semestinya sudah dipelajari di kelas Bahasa Indonesia bahkan sejak di SD.  Tiap orang yang sudah “makan sekolah” pasti sudah diberi pemahaman soal cara pakai “kita” dan “kami”.  Cara mudah memahami kata ganti “kita” dan “kami” adalah begini: Kita = aku + kamu (+ dia/ mereka, bila perlu).  Kami = aku + dia/ mereka (>< kamu tidak termasuk di dalamnya).

Cuman

Beberapa orang sering mengucapkan “cuman”, ketimbang kata “cuma” dalam forum rapat dinas atau kegiatan resmi lainnya.  Kata “cuman” dan “cuma” bermakna sama dan bersinonim dengan “hanya”.  Bedanya, “cuman” adalah “cuma” dalam dialek Betawi.  Selain itu, “cuman” termasuk ujaran tidak baku, sedangkan yang baku adaah “cuma”.  Mungkin karena banyak hal yang berasal dari Jakarta menjadi model bagi daerah lain di Indonesia, termasuk dalam hal tindak tutur, maka penggunaan diksi dalam berbahasa Indonesia pun terpengaruh.  Ini terutama tampak dalam ujaran lisan.  Semoga “kontaminasi” ini hanya terjadi dalam berbahasa lisan.  Bila “cuman” itu juga banyak muncul dalam teks tulis formal, maka degradasi berbahasa nasional dapat dikatakan sampai pada stadium parah.  Semoga tidak demikian.

Temen-Temen

Ketimbang menggunakan kata “teman-teman” atau “para sejawat”, beberapa orang bahkan lebih sering mengucapkan “temen-temen” dalam situasi formal seperti rapat misalnya.  Sekali lagi ini berhubungan dengan ragam bahasa baku atau tidak baku.  Kalau mengacu pada ujaran baku, seharusnya orang mengucapkan “teman-teman” dalam situasi formal.  Yang terjadi sekarang adalah kerancuan penggunakan kata yang tidak membedakan ragam baku dan tidak baku.

Kok gitu sih?

Akurasi penggunaan diksi dalam tindak tutur dan tulis dipengaruhi oleh beberapa hal. Pertama, bagaimana akuisisi bahasa yang sudah terjadi sejak seseorang masih di usia awal.  Dalam hal ini, penguasaan bahasa yang baik (dimulai dari bahasa ibu) akan menunjang penguasaan bahasa lain selanjutnya.  Bahkan proses belajar bahasa asing pun akan lebih teratur  dan mudah bila penguasaan bahasa pertama (bahasa ibu) dan bahasa kedua (bahasa nasional) terjadi dengan baik dan benar.  Masalah berbahasa sehari-hari di banyak keluarga di Indonesia sekarang adalah makin menyusutnya penggunaan bahasa ibu (bahasa daerah) sementara penggunaan bahasa nasional dilakukan dengan setengah matang alias mengkal.  Yang terjadi kemudian adalah praksis berbahasa belang bonteng dan campur aduk.

Kedua, bagaimana tingkat literasi seseorang mempengaruhi penggunaan bahasa dalam berkomunikasi dan untuk mengungkapkan gagasan.  Kemampuan berbahasa yang baik secara lisan dan tulis sangat dipengaruhi oleh kuantitas, kualitas dan ragam ujaran dan atau teks tulis yang masuk dan “dicerna” dalam benak seseorang.  Dalam konteks budaya manusia Indonesia, tingkat melek huruf (kondisi tidak buta huruf karena kemampuan baca-tulis)  belum tentu berbanding lurus dengan tingkat literasi masyarakat.  Contoh nyata yang terjadi di tempat umum adalah seringnya terjadi pelanggaran yang tidak disebabkan karena orang tidak dapat membaca rambu atau peringatan tertulis yang ada.  Yang terjadi adalah karena orang gagal memahami makna rambu atau peringatan tersebut.  Demikian pula dalam praksis berbahasa, ketika sebenarnya orang sudah belajar (dalam arti sudah dapat membaca dan menulis) tetapi gagal memahami penerapan yang benar menyangkut diksi, struktur, fungsi ujaran dan aspek kebahasan lain.

Ketiga, bagaimana tingkat kesadaran orang untuk memilih dan menerapkan ragam bahasa yang digunakan sesuai konteks situasi yang sesuai.  Karena menyangkut tingkat kesadaran, kisarannya mulai dari tidak sadar sampai sepenuhnya sadar.  Penggunaan kata “kita” yang seharusnya “kami” mungkin terjadi karena penutur kurang sadar makna “kita” dan “kami”.  Ketika orang sering mengucapkan “cuman” dan “temen-temen” dalam situasi formal, mungkin mereka tidak atau kurang sadar akan ragam bahasa dan diksi yang seharusnya digunakan.  Tingkat kesadaran berbahasa tersebut dapat dinaikkan derajatnya dengan dua alternatif cara.  Pertama, dengan kemauan dan usaha sendiri orang belajar dari sumber teks (baik lisan maupun tulis) dan menerapkannya dalam komunikasi nyata.  Kedua, ada intervensi dari orang lain atau lembaga yang menggugah kesadaran penutur untuk “kembali ke rel yang benar” dalam berbahasa yang baik dan benar.

Jadi, mau berucap “kita” atau “kami”, “cuman” atau “cuma”, “temen-temen” atau “teman-teman”? Itu bergantung pada bagaimana orang belajar berbahasa sejak awal, derajat literasi bahasa dan seberapa sadar akan makna dan ragam bahasa.

No comments: