Tuesday, September 25, 2012

Senjoyo



This is the best shot I’ve ever made.....

Di lembah Senjoyo, yang ada di wilayah
Desa Tegal Waton, Tengaran, Kab. Semarang
Walau tak jauh dari Kota Salatiga
Dan ada pangkalan PDAM Salatiga

Banyak orang visit  itu lembah
Menjelang bulan puasa,  untuk berendam
Dan malam ke-21 bulan puasa
Untuk nonton ndangdut show..

Thursday, August 09, 2012

MEMBUANG SAMPAH BUTUH KENDALI BAWAH SADAR?

            Dalam keseharian hidup, seberapa sering kita membaca peringatan “Buanglah sampah di tempatnya”, “Jangan membuang sampah sembarangan” atau “Jagalah kebersihan” di tempat-tempat umum?  Kalau dihitung sejak kita mulai belajar membaca  sampai sekarang, pasti sudah amat sering.  Begitu seringnya sampai kita hafal kapan dan di mana kita bertemu peringatan semacam itu.   Tetapi sejauh mana peringatan yang sudah sangat biasa itu diikuti atau dipatuhi secara otonom dan ikhlas oleh setiap orang yang membacanya, ternyata tidak berbanding lurus.  Ada himbauan tertulis untuk menempatkan sampah di wadah yang disediakan pun kadang-kadang diabaikan, apalagi bila tidak ada peringatan visual dan tidak tersedia tempat sampah di sekitarnya.
            Ada pula kebiasaan sebagian orang yang berpola pikir “not on my own yard” dalam urusan membuang sampah.  Mereka mengupayakan keadaan bersih sejauh menyangkut properti sendiri dan menyalurkan sampah ke manapun, tak peduli dampaknya bagi lingkungan.  Ada orang-orang yang secara teratur membersihkan rumah dan halamannya sendiri, sehingga tempat tinggalnya tampak bersih dan rapi.  Tetapi urusan membuang sampah, mereka hanya berpikir singkat untuk mengoper limbah rumah tangganya ke saluran air/ drainase, ke bantaran sungai, atau ke lahan kosong di sekitar tempat tinggal mereka.   Di jalan raya, dari mobil mulus ber-AC yang sedang meluncur cepat, tiba-tiba jendela kacanya sedikit terbuka dan keluarlah sampah berupa kulit buah-buahan, atau kemasan  biskuit, atau botol minuman, atau bahkan plastik wadah muntahan penumpang yang “mabok darat”.  Selain itu, akhir-akhir ini muncul kebiasaan sebagian masyarakat urban yaitu membuang bangkai tikus ke jalan yang banyak dilalui kendaraan.  Tindakan membuang bangkai tikus ini sungguh kurang beradab.  Bukan saja karena menimbulkan pemandangan menjijikkan ketika bangkai tikus itu terlindas kendaraan yang lewat, tetapi juga karena membawa risiko merugikan kesehatan masyarakat (berupa timbulnya penyakit yang dibawa tikus).
            Tindakan membuang sampah atau sering disebut nyampah hampir seperti  gerak otonom.  Pelaku nyampah sembarangan tampaknya bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu, layaknya gerak refleks yang berlangsung otomatis.  Ini dapat diamati dari perilaku orang-orang ketika mereka mengonsumsi permen, misalnya.  Hanya berselang kira-kira satu detik setelah memasukkan permen ke mulut, tangan yang memegang plastik bungkus permen segera melepaskan sampah kecil itu secara acak.  Ke manapun plastik itu akan jatuh, penikmat permen itu tidak lagi memperhatikan.  Begitu pula yang terjadi setelah mereka menikmati minuman dalam kemasan plastik (cangkir, botol atau kantong dengan sedotan).  Betapa cepat tangan-tangan mereka melepaskan benda plastik yang isinya sudah habis ke tanah di sekitarnya, sepertinya tidak dibarengi dengan kecepatan orang-orang itu berpikir tentang akibat yang dapat ditimbulkan dari sampah yang berserakan.  Apakah mereka tidak pernah diajari untuk menempatkan sampah di tempat yang semestinya? Pastilah pernah.  Hanya ketidakpedulian yang membuat mereka seolah tidak pernah dididik untuk menangani sampah secara benar.  Atau barangkali, mereka beranggapan sudah ada orang/ petugas atau pihak lain yang mengurusi kebersihan lingkungan sehingga tidak perlu lagi repot berpikir mengenai sampah.
            Apakah pengalaman belajar dan kebiasaan masa lalu kita (dan para leluhur) mempengaruhi kesadaran kita mengenai sampah?  Atau, apakah perilaku nyampah sebagian orang “diturunkan” dari kebiasaan-kebiasaan yang berlangsung di keluarga dan lingkungan sosial mereka sejak beberapa generasi sebelumnya?  Barangkali, penggunaan berbagai bahan alami di masa lalu ikut menyumbang munculnya perilaku nyampah atau kesadaran orang mengenai eksistensi sampah yang mereka hasilkan.  Dulu, ketika daun pisang, daun jati, anyaman bambu, dan beberapa benda alami lain digunakan sebagai pembungkus, memang ada “jaminan dekomposisi” saat orang membuang pembungkus atau “kemasan” semacam itu bila sudah tidak digunakan lagi.  Bahan-bahan alami tersebut akan terurai cepat di tanah, di pinggir jalan atau di sungai sekalipun.  Sampai dengan dekade 1970an, pembungkus alami (biasanya daun) masih banyak digunakan di pasar-pasar tradisional.  Sehingga orang tidak berpikir panjang dan spesifik tentang masalah yang dapat ditimbulkan dari sampah domestik.  Perilaku nyampah di masyarakat tradisional saat itu belum menjadi persoalan.  Perilaku yang kemudian menjadi kebiasaan tersebut sepertinya “diwariskan” ke generasi-generasi selanjutnya.  Ditunjang oleh pendidikan dan budaya yang tidak mendisiplinkan orang untuk berolah pikir dan bertindak secara benar dalam hal sampah dan kebersihan lingkungan, jadilah keadaan seperti yang tampak sekarang ini- - selalu ada sampah di trotoar, di jalan, di taman, di parit, di sungai, di fasilitas umum mana pun di negeri ini. 
             Kemudian terjadilah perubahan zaman, ketika plastik, styro foam (gabus sintetis) dan lembaran alumunium foil banyak dipakai sebagai pembungkus atau kemasan produk kelontong.  Berbagai barang, mulai dari produk makanan, minuman, toiletress, dan pernik-pernik kebutuhan rumah tangga lain seringkali dikemas dengan bahan yang sulit terdekomposisi secara alami ini.  Bahkan di pasar-pasar tradisional pun pedagang lebih banyak membungkus jualannya dengan kantong plastik.  Dengan pertambahan penduduk dan makin padatnya kawasan pemukiman, produksi sampah domestik pun ikut meningkat pesat.  Sejauh tidak ada perubahan perilaku dan kesadaran masyarakat menyangkut penanganan sampah, maka kekumuhan dan kekotoran habitat manusia (terutama di kawasan urban) tidak terurai dan berkurang tetapi justru bertambah. 
            Abai terhadap sampah dan penanganan sampah yang tidak tuntas tampaknya telah menjadi habitus sebagian (besar) masyarakat kita.  Ini menjadi satu penjelas tentang citra pasar tradisional misalnya, yang diidentikkan dengan kesemrawutan, kekumuhan, becek dan selalu berhiaskan (juga beraroma) sampah. Banyak pasar tradisional di Indonesia sebenarnya dirancang dan dikonstruksi dengan mempertimbangkan estetika dan sanitasi, tetapi dalam perkembangan operasionalnya, sering dijumpai bahwa lantai yang awalnya bersih menjadi berkerak karena lumpur, dinding yang belepotan, dan atap/ plafon yang penuh sawang dan debu.  Di tempat lain, taman kota, alun-alun, atau trotoar yang “dihinggapi” lapak-lapak pedagang kaki lima juga lambat laun menjadi kotor, beraroma tidak sedap dan kadang kala becek karena sebagian pedagang terbiasa membuang air limbah cucian ke tanah atau jalan di sekitar tempat mereka berjualan.
            Apakah bangsa kita ditakdirkan untuk hidup tetapi abai terhadap sampah? Pastilah tidak.  Pengalaman negeri tetangga Singapura dalam mendisiplinkan rakyatnya, termasuk membudayakan hidup teratur dan bersih, hendaknya dapat membangkitkan kesadaran kita untuk peduli kebersihan dan kesehatan.  Pemahaman dan kemauan untuk peduli kebersihan masih dan makin perlu disebarluaskan kepada seluruh lapisan masyarakat bahwa tanpa adanya upaya sadar untuk menuntaskan sampah, sampah itu tidak akan hilang, larut atau terdekomposisi secara otomatis.  Orang harusnya mengerti bahwa sampah plastik tidak akan terdekomposisi secara cepat, bahkan mungkin butuh ratusan tahun untuk sama sekali melebur plastik di tanah.  Pengabaian terus menerus terhadap sampah di lingkungan hidup kita tidak hanya merugikan secara estetika tetapi juga membawa risiko penurunan kualitas kesehatan.  Dalam jangka lama, ini berarti bunuh diri ekologis bagi kehidupan manusia itu sendiri. 
Kesadaran terhadap sanitasi yang baik dan kesehatan lingkungan perlu diprakarsai secara nyata.  Nasihat dan arahan saja tidaklah cukup.  Upaya menumbuhkan kesadaran ini perlu dilakukan di tingkat masyarakat terkecil, yaitu keluarga.  Sejak dini, anak seusia balita sudah diajari dan selalu diajak untuk menempatkan sampah di wadah yang disediakan, untuk mencuci tangan dan membersihkan tempat bermain, serta tidak meludah sembarangan.  Orang tua dalam hal ini menjadi role model/ teladan dan motivator utama bagi anak-anak mereka.  Karena itu memang kesadaran dan tindakan nyata untuk hidup teratur, bersih dan sehat itu harus dimulai dari orang tua.  Bila kebiasaan bersih dan tidak nyampah tersebut dapat berlangsung baik dalam lingkup keluarga, di lingkungan sekolah dan di tempat umum lainnya anak-anak akan tetap sadar kebersihan dan meneruskan kebiasaan baik tersebut.
Ada beberapa pengalaman terbaik/ best practices dari komunitas anak negeri yang dapat dijadikan model pembelajaran, contohnya upaya kebersihan toilet sekolah yang dilakukan oleh siswa-siswi sebuah SMP di Jawa Barat.  Langkah awalnya hanya berfokus pada cara menjaga kebersihan toilet, namun kemudian berkembang ke upaya kebersihan kelas dan lingkungan sekitar sekolah lainnya.  Tindakan nyata ini bernilai strategis, karena bermula dari sekelompok siswa kemudian berkembang menjadi gerakan yang melibatkan seluruh warga satu sekolah.  Bayangkan bila kemudian kesadaran kebersihan itu mampu meluas ke seluruh siswa di satu kecamatan, kota atau kabupaten.  Inilah embrio budaya bersih yang kelak akan menggerakkan satu generasi.  Di satu lingkungan RT di Jakarta, para ibu rumah tangga tergerak untuk mengolah limbah organik menjadi kompos, dan sampah anorganik seperti plastik menjadi barang-barang yang berguna di rumah.  Tentu ini bukan upaya yang mudah, dan butuh perjuangan terus menerus untuk membuat bangsa kita benar-benar peduli kebersihan dan kesehatan.  Sehingga akhirnya, membuang sampah di tempat yang seharusnya bahkan untuk benda sekecil bungkus permen sekalipun, akan menjadi tindakan yang seperti dilakukan di bawah sadar.

Tuesday, December 13, 2011

KEMUNDURAN ADAB

Hari-hari ini tampak nyata bahwa kita sebagai bangsa mengalami kemunduran di segenap segi kehidupan. Bukti tidak sulit ditemukan, bahkan di sekitar kita pun ada. Dari masalah keteraturan (administrasi) bernegara, tatanan sosial, hidup beragama, sampai hal-hal yang sepele seperti urusan membuang limbah dan perilaku membuang ludah. Masalah (administrasi) bernegara tak usahlah diperdebatkan di halaman ini, karena sudah terlalu banyak orang pinter (atau pura-pura pinter) yang membahas, di tivi, di koran, di ruang seminar, di kantor-kantor, di mana pun. Soal hidup beragama, ada yang mengatakan bahwa situasi hidup beragama di negeri ini, sekarang ini, malah seperti situasi di Eropa abad pertengahan (masa jayanya Robin Hood dan saat hebohnya perburuan orang-orang yang dituduh penyihir). Serba konservatif, zakleg dan kadang-kadang menentukan kebenaran dari (cara pandang) mereka sendiri. Itulah mengapa beberapa kali terjadi kericuhan yang muspro hanya karena persepsi hidup beragama yang "maunya bener sendiri".

Bukan cuma masalah besar bombastis yang membuat perasaan miris, perkara sederhana di sekitar kita pun langsung memicu pikiran kritis. Mari kita comot satu kasus untuk ditampilkan di lembar ekspresi ini; kebiasaan membuang bangkai tikus di jalan. Ini dia urusan sepele yang berdampak tidak sederhana. Entah dari ajaran mana kebiasaan ini muncul. Sebelum tahun 2000an, jalan-jalan beraspal di kampung-kampung kita tidak pernah mendapat kiriman bangkai tikus (terutama) di pagi hari. Limbah daun, plastik, kertas dan kadang-kadang telethong kuda atau anjing memang sempat menjadi aksesoris jalanan, tapi itu tampilan minor yang tidak sangat mengganggu pemandangan. Dan selalu mudah untuk dibersihkan oleh pasukan penyapu handal dari Dinas PU atau DTK. Nah, perkara bangkai tikus di jalan ini yang ganjil. Dulu rakyat kita tidak punya kebiasaan membuang bangkai tikus di jalan, tapi mengapa adegan seolah-olah ada tikus menjadi korban tabrak lari terjadi tiap hari?

Pada awalnya sempat ada dugaan bahwa tikus yang lari menyeberang jalan sedang bernasib sial, dan tertabrak motor yang lewat. Tetapi dengan makin sering ditemukan tikus yang sial di jalanan, timbul pertanyaan apakah mereka benar-benar secara massal bernasib sial ketika menyeberang jalan????? Ternyata, yang lebih sering terjadi adalah bahwa tikus-tikus itu sudah wafat sebelumnya, terutama karena memakan pestisida, dan kemudian jenasahnya diposting di jalanan dengan penuh dendam yang geram oleh pengirimnya. Tinggal menunggu kendaraan lewat untuk melindas dan menggilingnya....selesailah sosok tikus yang sebelumnya gilig menjadi gepeng. Selesaikah masalahnya? Ternyata tidak juga. Masalah-masalah baru muncul makin menyebalkan, bagi orang mau berpikir wajar dan waras. Coba dilihat, apa sih bagusnya pemandangan sosok tikus yang perut terbuka dan ususnya terburai tak karuan? Apa sih enaknya bau bangkai tikus yang berantakan semacam itu, selain amis, busuk dan memuakkan. Belum lagi risiko sepeda (motor) tergelincir karena melindas bangkai tikus yang licin. Nah, dengan membandingkan keadaan dua dekade lalu dengan sekarang, kita dapat mengatakan bahwa telah terjadi kemunduran adab di kalangan masyarakat kita.

Kasus lain dapat ditampilkan di halaman ini, dan ini sangat sering dilakukan orang yang abai terhadap kesehatan, yaitu kebiasaan meludah di sembarang tempat. Sekali lagi, tampaknya sepele saja kalau hanya membuang air ludah yang volumenya paling besar sesendok teh. tetapi bukan sesederhana itu masalahnya, dan bukan hanya seremeh itu akibatnya. Pertama, meludah sembarangan menunjukkan perilaku primitif dan kurang beretika/ sopan. Kedua, akibat ludah yang ditembakkan di sembarang tempat itu menjadikan halaman, jalan, trotoar dan tempat publik lain menjadi kotor menjijikkan. Ketiga, risiko penyebaran penyakit menular melalui udara dan perantara serangga lalat misalnya. Nah, dengan memahami akibat-akibat ikutan tersebut, pantaskah orang disebut sebagai bagian dari masyarakat modern kalau masih membawa perilaku purba meludah di sembarang tempat? Mengapa di masa serba computerized dan hi-tech sekarang ini masih saja ditemui orang-orang dengan kebiasaan biadab seperti itu?

Lalu di mana sebenarnya cikal bakal kemunduran adab masyarakat kita di dunia modern sekarang ini? Apakah ini berawal dari pengabaian pembangunan budaya? Ataukah karena dunia pendidikan kita yang makin menjauh dari nilai-nilai hidup nyata dan hanya berkutat di urusan hafalan kognitif yang kurang membumi? Ataukah ini memang pertanda zaman yang menuju ke degradasi hidup yang bermutu menuju hidup yang ancur-ancuran? Ngeri lho!

Monday, December 05, 2011


PRAJURIT (Prasojo, Jujur, Irit)

Belum lama berselang Pak Adi Andoyo, mantan hakim agung di kala Orde Baru, menulis artikel di koran Kompas. Pak Adi memunculkan satu akronim yang kemudian mendapat tanggapan lumayan ramai di kalangan penikmat Kompas, termasuk Kang Dwi Koen yang tiap hari Minggu menghasilkan karikartun Panji Koming di koran yang sama. Akronim tersebut adalah "Prajurit", yang artinya prasojo, jujur dan irit, sebagai alternatif pedoman sikap/ perilaku para pejabat publik di negeri ini agar tidak terlarut dalam budaya korup yang sudah sangat merajalela, akut dan menggurita di negeri ini.

Bukan karena kebetulan akronim itu memakai kata yang sama dengan namaku, pemilik blog Oyee-Ihiiir yang spesial ini, aku tertarik menyuarakan dan mengelaborasi gagasan Pak Adi tersebut. Pada prinsipnya aku setuju; bahwa siapapun yang terlibat dalam pengelolaan negeri ini, entah kalangan birokrat pemerintah, oknum semi pemerintah, ataupun insan "luar pagar" alias insan swasta perlu memiliki karakter prajurit--- prasojo, jujur dan irit. Karakter ini pula yang dimiliki oleh seorang Mahatma Gandhi, sang pencerah dan pemerdeka India.

Prasojo, berarti karakter sederhana, tidak berlebihan, non-excessive/ exaggerated, mungkin juga tidak neko-neko berorientasi pada akumulasi aset kebendaan, dan tidak berpola pikir rumit-ruwet-complicated dalam mengakses, mengakuisisi dan mengeksploitasi material things. Karakter sederhana bukan berarti menghindari benda, tidak butuh modernitas, atau cenderung konservatif dan kuno. Sederhana dalam hal ini adalah pola pikir yang mengarah pada efisiensi dan efektifitas, tidak menggunakan sumber-sumber yang terlalu banyak menimbulkan residu, dan sisa yang tidak diperlukan (dan mungkin justru menimbulkan masalah bagi lingkungan, yaitu lingkungan fisik maupun lingkungan sosial).

Jujur, berarti menempatkan kebenaran sebagai nilai utama. Dalam karakter ini tersirat keterbukaan, transparansi dan akuntabilitas (tiga kata yang sering menjadi pedoman tata kelola di jaman reformasi). Walaupun sering diungkapkan di banyak arena dan suasana, dan menjadi kata kunci pelaksanaan administrasi pemerintah, implementasinya tidak mudah dan gamblang. Bahkan dalam banyak hal, jujur menjadi entitas nilai yang langka. Di masa sekarang, ketika banyak manusia terjebak dan berkubang dalam hedonisme yang tampaknya mendarah daging, memegang nilai jujur bisa jadi dirasa membawa risiko-risiko yang tidak menguntungkan individu. Karena itu, nilai jujur ini sering direduksi/ dikebiri (bahkan menuju ke eliminasi) dalam praktik hidup sehari-hari. Parahnya, reduksi nilai jujur ini sudah berlangsung sejak fase awal hidup manusia Indonesia, ketika kebanyakan mereka masih di pendidikan (formal) dasar. Keuntungan sesaat membutakan pandangan ke depan tentang pentingnya hidup yang lebih baik dan sejahtera, bukan cuma bagi diri sendiri melainkan bagi semuanya.

Irit adalah segmen karakter yang sungguh berintegrasi dan larut dengan nilai prasojo. Irit pun berimplikasi pada perilaku hidup yang tidak berlebihan, tidak boros, dan menghindari kesia-siaan pemanfaatan sumber-sumber di lingkungan hidup manusia. Efisiensi dan efektifitas, sekali lagi menjadi kata kuncinya. Perilaku yang didasari nilai irit juga berimplikasi pada kerelaan untuk berhemat dan berbagi, menghindari godaan untuk mengakuisisi material things secara bernapsu hanya untuk memuaskan individu itu sendiri. Irit bukanlah pelit, tetapi menggunakan sumber-sumber seperlunya secara tepat, dan melestarikannya agar dapat dimanfaatkan oleh sesama yang lain (perilaku berbagi).

Begitulah, karakter prajurit yang kiranya perlu dimiliki siapapun yang punya peran mengelola negeri ini, baik manusia birokrat, manusia setengah birokrat maupun manusia swasta. Terminologi mengelola negeri bukan hanya monopoli mereka yang berada di lingkar dalam pemerintahan, karena siapapun yang merasa sebagai anggota bangsa-negara ini seharusnya tidak berpola pikir dan berpola tindak sebagai individu yang (kalau bisa) mengeksploitasi, mengelaborasi dan menyedot manfaat sumber-sumber hayat yang ada secara berlebih, sembrono dan penuh nafsu, hanya untuk kenikmatan diri sekarang sembari mengabaikan kepentingan dan kebaikan hidup sesama di waktu ini dan mendatang.

Monday, September 20, 2010

ASLI SALATIGA

Ini gagasanku--mungkin mengarah ke visiku-- untuk menampilkan dan secara sistematis memproduksi outfit yang dapat dikatakan spesial, yang (kalau bisa) menjadi salah satu ikon Salatiga, kota kebanggaan (yang sekarang semakin semrawut saja). Sandang spesial itu punya trademark semacam ini:

Tentu akan ada yang tergelitik bertanya,"Kok ihiiir, maksudnya apa?". Begini, sejauh yang aku tahu (walau bisa saja aku keliru) ungkapan "ihiiir" yang bermakna asyik, horeee, cihuiii... adalah ungkapan yang muncul di kalangan anak Salatiga. Misalnya, suatu ketika si Surti kepergok jalan bareng si Tejo. Teman-teman mereka spontan nyeletuk "Ihiiir.....". Jadi menurutku, "Ihiiir" adalah ungkapan asli Salatiga. Inilah yang melatarbelakangi pilihan identitas produk yang aku tampilkan dalam wujud kaos oblong berlukis (painted T-shirt).

Diharapkan memang, produk kaos berlukis yang dinyatakan sebagai Kaoz Loe Kiss ihiiir [Asli Salatiga] kelak dikenal di kawasan lain sederajat dengan Dagadu Djokdja, Joger Bali, C59 Bandung, dll. Ini memang berangkat dari angan-angan di siang bolong, tapi apakah itu sama sekali mustahil? Aku melihat masih ada harapan, dan aku sedang berjalan (pelan) ke arah itu...
Amin.

Friday, August 20, 2010

LUKIS KAOS Lagi....


Setelah satu taon mengotak-ngatik acara lukis kaos, ternyata hasilnya lung may yan. Ini baru aku lakukan sebage 'biznic zombie land" (urusan sampingan), belum jadi proyek serius yang padat modal dan padat gizi. Contoh garapan kaoz loe kiss seperti ini nee.....

Nah, setelah dipublikasi di sekitar kerabat dan sohib, mulai ada yang terpincut bin tergiur mbeli satu dua kaoz. Trus tetangganya yang sudah beli sempat melihat, ee... ada yang ketularan berminat beli, jadilah pemasaran merembet-merembet. Dikit-dikit ada konsumen, ada konsumen sedikit-sedikit... yaa ta apa lah. Namanya juga baru usaha jalan pelan-pelan. Memang aku belum brambisi memperluas dan memperdahsyat pasar (supaya terjadi hujan duwit), soalnya aku punya prinsip: biznic tidak kudu mesti memaksimalkan uang masuk, tapi yang jelas harus menyenangkan, membahagiakan, memuaskan ...(kalo bisa melenakan) orang lain. Kalo orang suka hasil karyaku, itu jadi kesejahteraan luar biasa bagiku.

Produk macem bagini memang dijual. Tapi aku tidak pake jurus jaim bin juma (jual mahal). Ono rembug ya dirembug (ada usul/ wacana temtu bisa dimusiyawarahkan), mangsudnya beginu. Kalo tak selera dengan satu model gambar, ya pake model gambar lain bisa diatur, yang penting suka sama suka, mau sama mau...... (bukan iklan selingkuh lho ini).

Tuesday, May 25, 2010

Pindah Tugas

Dalam hidup yang sepertinya jalan bercepat, eh...berjalan cepat ini, aku sudah beberapa kali pindah tugas, dari lembaga swasta ke swasta, dari swasta ke kantor negeri, dari instansi negeri ke swasta lagi, nah sekarang di organisasi negeri lagi. Dari soal status pekerja, aku pernah jadi pekerja swasta, pernah ditawari jadi pegawai negeri pusat (tapi ogah), pernah buka usaha kecil-kecilan sendiri, eh.. akhirnya jadi PNS lokal juga. Kalau riwayat kerjaku berwarna-warni, itulah takdir.

Dari semua pekerjaan yang pernah aku lakukan, aku berusaha menghayati kebaikan dari semuanya. Artinya, baik bekerja sendiri, di lembaga swasta atau di organisasi negeri, aku melihat bahwa semuanya memiliki kebaikan, tidak ada satu yang (absolutely) lebih baik dari yang lain di segala hal. Menjadi seorang pekerja swasta, bukan bermakna hidup lebih buruk ketimbang PNS. Menjadi PNS, bukan pasti hidup lebih mulia dari seorang yang berwirausaha. Semuanya baik, sejauh pekerjaan itu membawa kemanfaatan dan kesejahteraan bagi sebanyak mungkin orang, bagi tanah tempat kita hidup, dan bagi generasi mendatang, itu prinsipku. Pekerjaan yang berderajat mulia adalah pekerjaan yang memuliakan kehidupan manusia dan alam/ lingkungan kehidupan itu sendiri. Aku tidak memandang status PNS sebagai predikat kerja paling mulia dan terbaik bagi seseorang, kalau itu hanya menguntungkan diri sendiri dan gerombolannya. Apalagi jika seseorang dapat mencapai status PNS karena kedekatan personal dengan penguasa, karena menyuap, atau karena upaya culas lainnya, bagiku orang semacam itu hanya sekelas benalu.

Masa kecil dan muda yang bernuansa hidup sederhana (dekat-dekat dengan status miskin malahan), memunculkan nilai-nilai/values yang sampai hari ini aku percayai, yaitu: kejujuran, kesederhanaan, kerja keras. 3 core values itu yang selalu aku ingat dan kuusahakan untuk dapat mengejawantah dalam pekerjaanku. Aku katakan "aku ingat dan kuusahakan", bukan berarti itu klaim bahwa aku orang yang (selalu) jujur, sederhana dan bekerja keras. Those core values are things I believe and hold dear, begitulah, nilai-nilai yang kuyakini dan kupegang dalam bekerja, apapun pekerjaannya. Prinsip kerja lain yang kupercayai adalah fungsi ketimbang status. Apalah artinya status yang bergengsi kalau fungsinya kerdil?

Karena bukan status (bergengsi) yang aku kejar, menjadi PNS bagiku bukan suatu tujuan. Menjadi PNS menurutku lebih menjadi 'lantaran' atau jalan mencapai tujuan. Ada orang memburu status dan menjadikan PNS sebagai tujuan bekerja. Apa yang kemudian muncul setelah ia berhasil menjadi PNS? Mungkin berarti bahwa ia telah mencapai tujuan. Karena telah mencapai tujuan, maka ia tak perlu lagi berlari, tak perlu lagi berjuang keras, tak perlu lagi berprihatin-ria. Ia toh "sudah sampai di tempat", jadi...santai sajalah, asyoi geboi. Hidup dan bekerja 'datar-datar saja' sambil menunggu masa pensiun yang kelak masih saja dibayar negara, begitu anggapannya. Aku hanya berusaha tidak memiliki anggapan semacam itu. Bukan berarti anggapan itu salah dan tercela, karena ada benarnya juga menurut kenyataan (sampai hari ini). Tetapi aku melihat ada bahayanya juga kalau kebanyakan orang beranggapan bahwa the ultimate job is PNS, karena itu akan menggiring orang ke "alam feodalisme" lagi. Di samping itu, jaman terus berubah. Aku percaya bahwa sekarang ini usaha produktif lebih strategis ketimbang kerja yang sifatnya reseptif. Negara yang 4% saja penduduknya berwirausaha, bakal menjadi negara yang stabil dan makmur ekonominya (itulah mengapa Amrik Srikat yang 11% penduduknya business people, ekonominya tak tergoyahkan). Bayangkan kalau mayoritas pekerja di negeri ini adalah PNS, atau mayoritas orang berorientasi kerja sebagai PNS, maka....beraaaat tanggungan negara! Bahkan ada wacana (yang ini aku percaya kelak terwujud) bahwa suatu saat nanti negara tidak mampu lagi menggaji para mantan PNS, dan rejim penggajian pensiunan PNS akan diganti aturan pesangon ketika PNS berhenti kerja/ pensiun. Itulah mengapa aku bersikap menjadikan status PNS sebagai jalan menuju produktifitas, bukan PNS sebagai tujuan.

Antara takdir dan keinginan/ tujuan, kadang-kadang ada jeda yang membuat keduanya tak langsung bertemu. Begitu pula dalam riwayatku, kalau aku bersekolah di fakultas keguruan, itu adalah takdir. Itu sudah terjadi dan tak perlu lagi dipermasalahkan (apalagi kalau sampai menyalahkan orang tua atau menyesalinya, tidak lah yaoow). Takdirku bersekolah di fakultas keguruan memang bukan tujuan utamaku. Sekali lagi, memang keterbatasan ekonomi keluarga membuat aku ada di situ. Sehingga, aku belajar bahasa Inggris di fakultas keguruan bukan karena aku ingin menjadi guru, tetapi aku bertekad menguasai bahasa Inggris sebagai alat untuk kerja hidupku. Dan ketika aku direkrut sebagai CPNS melalui formasi guru, itu pasti karena memang dasar persyaratannya (salah satu) adalah ijazah yang aku punya memang berasal dari fakultas keguruan. Apakah aku tidak punya hak untuk memilih kerja hidup selain yang didasarkan pada ijazah keguruan itu?

Aku bukan tidak dapat berperan sebagai guru, atau tidak memiliki kompetensi untuk bertugas sebagai guru. Masalahnya adalah, aku tidak berkeinginan menjadi PNS guru. Aku bisa berperan (dan berpura-pura) menyelesaikan tugas sebagai guru, tetapi pada saat yang sama batinku tidak sepenuhnya menikmati peran itu. Kalau aku hanya menerima peran yang diperintahkan/ ditugaskan, pasrah dan menekan perasaan dan keinginan untuk lebih berfungsi di area lain, itukah kesejahteraan? Kalau badanku di sini tetapi batinku di sana, itukah kesejahteraan? Kalau aku harus berperan sebagai operator kurikulum yang aku sendiri tidak yakin sampai tujuan akhirnya, itukah kesejahteraan?

Aku berharap bahwa permohonan pindah tugas selain peran sebagai guru itu direspon baik, bukan hanya bagiku tetapi demi kebaikan semuanya. Aku ingin mengembangkan fungsi dan kinerjaku, itu lebih penting dari pada sekedar statusku. Aku percaya ada satu tempat di luar sana, yang dapat menerimaku dan memungkinkan berkembangnya fungsi dan kinerja itu.