Sunday, March 06, 2016

HOW TO DRAW A SIMPLE LIVING ROOM


First, make 2 boxes as basic shape.


Then draw a vertical line as a corner part of the room.  Draw a lamp stand between the 2 boxes.


Next, make details of the couches based on the box shapes.


Then add some figures of table with a carpet layer underneath, a plant pot and a paint frame above one couch.


Accentuate the furniture with shades.  Determine which part is darker than the others.  Notice that the lamp stand can be used as a "light source".  


As finishing touch, complete details of the carpet, the plant and the paint on the wall. Mind shades and shadow of things unexposed to light of the lamp stand.

Wednesday, February 24, 2016

NADZAR WALK UGM - KOTAGEDE






 




















Si anak semata wayang lolos SBMPTN.  Dia diterima jadi murid Pertanian UGM.  Alhamdulillah, puji Tuhan untuk doa yang terkabul.  Selain ikut nimbrung menyiapkan ubo rampe persiapan sekolah kampus (melengkapi syarat administrasi, membayar UKT, mencari rumah kos), ada satu urusan yang perlu digenapi: menggelar aksi jalan kaki dari UGM Bulaksumur sampai Masjid Mataram di Kotagede sebagai bentuk nadzar pribadi atas suksesnya si anak semata wayang.  Dan dari sinilah cerita perjalanan kaki ini berawal.
Sabtu di awal September  yang puncak kemarau, awak bersiap di lapangan depan Gedung GSP, ikon mentereng sekolah UGM.  Jam 9.30, pagi yang sangat cerah dan hangat (atau malah agak silau dan panas) sebenarnya waktu yang agak telat untuk mengawali aksi jalan kaki itu.  Rencana aslinya adalah meluncur sekitar jam 8 sebelum udara menghangat dan menyilau.  Walau meleset start time, karena sudah diniati ya oke sajalah pokoknya acara terlaksana.
Sendirian, awak memulai langkah dari latar depan Gedung GSP ke arah gerbang utama.  Dari Bunderan UGM, belok kiri sampai SPBU kemudian awak menyeberang ke arah selatan.  Setelah menyeberang Jalan Sudirman, terus lanjut melewati UKDW sampai ke pinggir stasiun Lempuyangan (bawah jalan layang).  Berhenti sebentar sambil nonton kereta lewat.  Jalan lagi lurus ke selatan sampai Jalan Sultan Agung, belok kiri ke arah timur sekitar 300 meter, awak menyeberang ke kanan dan masuk Jalan Batikan.  
Jl Batikan..sepi pejalan

Ternyata Jalan Batikan secara original adalah jalan kecil bersebelahan selokan besar.  Di atas sepanjang selokan itu kemudian dibangun jalan baru sehingga lebih lebar.  Ini dia track lurus paling panjang selama aksi jalan kaki sendirian di siang yang terik. Kurang lebih 2 kilometer di Jalan Batikan, hanya segelintir pejalan kaki yang awak temui.  Mungkin terlihat aneh jadinya, berjalan sendirian di situ. 
Sehabis Jalan Batikan, beloklah awak ke kiri di Jalan Sugiyono dan terus sampai XT Square.  Setelah menyeberang di bangjo XT, lanjut ke Jalan Pramuka sampai Jalan Gambiran (atau Jalan Imogiri ya?).  Berikutnya lewat Jalan Tegalgendu yang ngetop dengan Sekar Kedaton Resto yang sungguh gede dan klasik.  

Setelah menyeberang jembatan yang tiang-tiang lampunya klasik, tampillah Jalan Mondorokan yang sungguh kondang dengan bangunan-bangunan kawak era kolonial misalnya seperti rumah kuno (tapi bukan purba) yang wajahnya sering tampil di Google image.
Kuno tapi kondang ..

Tepat saat adzan Dzuhur sampailah awak di pojok Pasar Kotagede yang berikon gardu listrik zaman Belanda bercokol ria di tanah Mataram.  Gerak kaki lebih santai karena target sudah dekat, dan 3 menit kemudian sampailah awak di Masjid Mataram.  Perjalanan nadzar berjarak sekitar 9 kilometer selesai ditempuh selama 2 ½ jam.  
 
Saat itu masjidnya sedang dipugar sehingga pengunjung dan pelaku ibadah hanya bisa mendarat di serambi depan.  Walau bagian inti masjid dibongkar total dengan atap terbuka menganga, rasa khidmat dan sakral tetap terasa ketika orang berteduh di serambinya. 
Ini teplok kawak, tapi sudah dimodif lampunya
 
Setelah bersembahyang, berdoa dan bersyukur untuk kabul hajatnya, awak beranjak untuk persiapan cabut-balik.  Secara iseng awak bertanya seorang penjual pecel/ snack goreng di depan Masjid Mataram, mengapa warung es Sido Semi yang melegenda dengan bakso dan es kacang ijo jadul tiada tara itu tutup terus (bukan cuma di hari Selasa sesuai slogannya “Yen Selo So’ tutup”).   Ternyata, warung kawak itu memang tutup permanen, tepatnya bubar jalan karena konflik keluarga.  Sungguh sayang bin sayang, warung lawas yang ngetopnya sampai masuk laman wisata Jogja, dan sudah diulas segenap bloggerwan-bloggerwati dengan penuh antusias itu harus masuk garis finish dengan tragis.  Dan yang membuat awak menyesal adalah karena belum kesampaian hasrat menyeruput limun sarsaparilla dan mengakuisisi botolnya yang antik tak terkira, yang cuma ada di warung itu. 
Tapi berikutnya ibu penjual pecel membawa info penghiburan, bahwa pascakonflik keluarga Sido Semi, seorang anggota keluarga meneruskan produksi dan penjualan bakso kupat berhias tomat (resep original Sido Semi) di dekat Masjid Perak Kotagede.  Masjid yang bangunannya klasik pula itu terletak di sebelah SMK Muhammadiyah 4.  Setelah mengucap matur nuwun, awak melanjut jalan. 
Ini bakso kelanjutan dari riwayat Ys Sido Semi

Rasa penasaran muncul kembali untuk memburu si bakso kupat.  Ternyata memang tidak sulit menemukan lapak bakso dan es kacang ijo itu, karena pangkalannya di sebelah Masjid Perak memang the one and only, satu-satunya di pelataran situ.  Semangkok bakso kupat dengan irisan tomat awak habisi dengan khidmat wal nikmat.  Sempat ditawari untuk mencoba es kacang ijo, awak berucap lain kali saja (awak akan kembali menyambangi kuliner kerakyatan ini). 
K i  p o ?? (Iki opo)
 
Kembali lewat Jalan Mondorakan, awak sempatkan beli kudapan khas Kotagede yaitu kipo.  Snack lokal ini dibuat dari adonan tepung ketan berisi parutan kelapa yang merjer dengan gula jawa.  Kipo berasal dari pertanyaan “Iki opo?”.  Mungkin, pada awalnya dulu spesies makanan ini hanya hasil keisengan kreatornya yang kemudian dijual di pasar dan mendapat atensi dari orang-orang sekitar.
Dari Mondorakan, perjalanan berlanjut tanpa jalan kaki lagi.  Bus TransJogja membawa awak ke arah Stasiun Tugu (transit di Terminal Giwangan dan Jalan Sudirman).  Sambil menunggu kemunculan kereta Prameks tujuan Solo, awak bersantai di ujung utara Jalan Malioboro.   
 
Tempat ini selalu merangsang narsis
Spot ini jadi arena foto diri gerombolan pengunjung, terutama di tiang tengah jalan dengan papan bertulis “Jl. Malioboro”.  

Di seberangnya, trotoar lebar yang dulu longgar untuk berjalan kaki dan duduk manis di bawah pepohonan, bahkan bisa untuk tidur-tiduran sampai tertidur benar, kini dipadati populasi sepeda motor aneka rupa.  Sederet andong wisata tampak sedang menanti penumpang potensial.  Sementara itu, satu tampilan yang juga menyedot perhatian awak adalah sebuah toko kerajinan dan batik dengan aksesoris muka patung kuartet punakawan.   

Toko  itu berjudul Pasar Seni Nadzar.  Kok pas dengan acara awak hari itu.  Yeah, ada-ada saja.

Wednesday, October 21, 2015

RAWA PENING: DANAU MENUJU DARATAN



data:image/jpeg;base64,/9j/4AAQSkZJRgABAQAAAQABAAD/2wCEAAkGBxQTEhUUExQUFhUXFxgXFxcXGBYVGBQUFBcYFxUUFxgYHSggGBolGxQUITEhJSksLi4uFx8zODMsNygtLisBCgoKDg0OGhAQGywkHyQsLCwsLCwsLCwsLCwsLCwsLCwsLCwsLCwsLCwsLCwsLCwsLCwsLCwsLCwsLCwsLCwsLP/AABEIAKsBJwMBIgACEQEDEQH/xAAcAAACAwEBAQEAAAAAAAAAAAACAwEEBQAGBwj/xAA9EAABAwIDBQUGBAUEAwEAAAABAAIRAyESMUEEBVFhcSKBkaHwBhMyscHRFFLh8RVCYoKSFjOi4iNT0nL/xAAZAQADAQEBAAAAAAAAAAAAAAAAAQIDBAX/xAAuEQACAgEDAgUCBQUAAAAAAAAAAQIRAxIhURMxBBRBYZEFcRUygaHwIlKSwdH/2gAMAwEAAhEDEQA/APp2FTCbgUFi77OPSKhQQmlqEtTsVCoUQmkISE7E0JLUJCcQluCpMmhLggITiEBCtMVCihITSEBCdk0KhCQmwhIVWKhLggKc4IC1VZNCXBAQnEIHBUmKhJCEhTXqhvM8FUO3D8p8VSTZLLBCAhLbtjTnbzXHaW8fmqpkkuCWQp9+06hQ544jxTEBCAtTShKqwoSQhITSEBCqxCiELgmEISE7ASWoS1PwoCEWAhwS3NTy1C5qdgVnBKcFac1Jc1OwK5auTSFyLA+zkIS1MKGF4NnqCy1CWppCEhVYhRahLU0hAQmmJoUWoS1NLUJaqsloSWIS1NLUJaqTFQotQFqaWoCFVkiiEJCYQhIVWKhTmoCE+rDRLreuCzq+16NHeqjbJlsNqvDRJVGttBOVueqB3E3PyVepK1jEybIeeHiq7gnPCDBxWqJEuCjAmOUMdqnYqEobpryLpbU7AAOINrKw3abXullqGErCiyNoE6qPeidVVK4lAUXICgsVNrr2KMbVB7WXyQIsFg4qCwKWkOyumVtnLc0nL3KS2E+7bqShc1n9S5zULqZ4FF+4foCWs/qSH0xofFNqUiMwQlEJp+4gBs86hche4DMgdbLkW+R7H2SFEJkKCF4tnp0LIQkJpCEhOwoUQhITCEJCaZNCiEJCYQgKqxUAQgITYQPtnZUmKhZCAtTRtVNoMguOgGQ7yqG1beQ0jIZwLk8BKatkul3DfWaOJ6KjtW2wJkD1xWbW20uvkNIsqNR85k966Y4+TCWTgsbVvMk2E8z9lV/iTuAhVyCSoDFuopGTbLI29/BqUduJ0Cr1XWVSjXDhINpI8E0lZJffvA6AJ+y7Q1wuYOo+yyyhhVpQzbIBK6qRosVtUjIlNbtjtbpaQsumEJVZu30y4MxQ4zA6XI6qwUk0wIJTH3SHImvTYHPbGSWfXFG9yq1NpbjDZ7Wg1yB+RlK67gMcgxkTz70RSnP5qhDKdctNrFPp7wd/MT1Wa+r3dUl1fqk6YKz0A2idZUVd4RmQFgNrnoludP3KhxRSkzX2je86T3BZu0ba92sDgEpuVyUmo9CXAW2Q4n91yAFQgD9CqCjKiF49nq0AUJRkISE7FQBQEKajw3MgdTCqO3nS/N5H7Kkm+xLaXcsEIXKo/erNDPW37qnW24OzcOl1ooSIc0i5W2uPh8Vn16+rj5qttW2ADsm/FZD3yZMldEMRzzyF/advj4Y9cFnVtoJzKEhAWyt1FIxbbBLyUFQJhskPVokkuAFklyJxQuIAlxAHMx6yT7AUNteT2cLiCDJbAjoSYnKxznkq+x02UmTJAJJ7Vr5RBjh1Pgo2zekHsAEZA6E8JHdfuVHbd4PNJwwwRapY9klxgXzaRxWEssE3L1KSZqbLtTagOEzBIPK5jxRbRUDWlxyAn9BzXmN07YKdSXA3B5TlkOP2Qbx3mapBuAP5QTrkTxKjzdY79R6Ny3vHfhBIYQBftcRmCJ1071Vob/eIa6HTrkRzyvHNZm0jU5j6XVP3t5v3a8jyXH18jd2bLGqNLaq8PDge0CCJOovJ7wF6ncu9ppt944GSRmJscI63+a8I+tiugbXIy0Tw5XjG8dqj6LvTfracYAHzN5ERceII1XmKu/qhc4h+GSDGktyN+g8AsB20k+vNLdVRkzTk+4RxJH0PY/aNrxJYW/1T2QdATmOqwX7wJqF3817g24iF56ltLm/C4iYkTYwZE8b3TBtIBk35j6SnPNKSVgsVHt9g3pjBaZxa20Fh8vWSsF3ArxWy7zLJIOdoJ4ZGAvTbl211RhecOcW0hdmDNr29TGeNrcu4OK4hGXBCYXQZiiUJKJ5CQ98JNpDCxpL6gQvqJBesnPgpIa6ooSCuUax0fpVQ4rEO9H8fkqe07Y9+bjHDIeC4lhkd7zRNXa96NbZvaPkPusWvtj3GS4+MeQSygIXTDHGJzym5APcUopzggIWiM2LhCUwpdR6YmJqOVcqyXJL3K0QwQ1Q6y5zktxTEC90pTmoiSllqpCOAB1QV6QcIIBFrHJSWLzO9N/BxNNt25EjN0HS+XzUZcigrYJWWN6bZSLHU2m4yLcg4WiciYnw4rzlasQC465ka9eKI1gNCW8BYz1VNjXG5npy8RyXmZMjm7ZtGNCq1Uzna/rmoY/CTwOR5j0FG1wOF1VeS6L8uHrJQapBVqqW4RBIzEwoe2DGenemtpSJdp3zCOxXYqPdwUYlsbLsIc0u+EAYREEucdD3eNkNLYKbaQdVDi912jFENBgePNTrQa0Y0riVo7Pu9rmvcSQB8PM8OfX9VT2JjS9oeYaTc5aTHfl3p6kUmmIlTjWvteyU4LhSc0GwhxgQO/wBdVj1BBICSlY4yUicS917MsHuIa7EA50EAiRbMHv8ABeEhPpVHAWe9s2AlwBB+Lu5a9y3w5enKyckNSo+i1HAXSTXGax9j2w+6ZJLjElxM3k8TdNdtf7c+Ert69o49NFp1SZNwEl9Xgq79uCR+MWbyoaiX55oXOANtDreeqoHbep+qOptI0jnkpeRD0sc+pdcqXvr6Hwt4rlGsrSfdyoK8nuXfjWEtqF2EmQcw3OZGd7ZeGq3Gb2olmPGMNxexkAEgA3JuMl0OLQKSZeUFLp1Q4S1wI1IIPyQOqDS6Q7GkpdRJdVKW9ypImxrkDoWbvDb/AHYsAcpvcZxZZlXfrtGtnjOR780xNm+5QvON3+7UA+uS0Nh3sypAJDXTYHM26KiTSwKDTCiZKZCAKxpqPdp+FRCqwoyt+VGsovxOAkEAE/Flb15L55IbMDW3G8wRwXqvbao8uawNsGl0xe5g9wjzXlgYEgX5kzl5dV5+edz+xUUJDobBkznezTySmCxiwyujr7Rf7G8d6z69WfusO5tFDmUpIAMyfnwVivQLWSSBJgNtlcfRVdgLi4ai9u6Y46La29jRS7UGZIt8LDcDPgc1EpUxy2ZjhmKCBJcREniYmcolO2nZgA4uP8xAi4lvEyNZGS7aar3HHYOFrDjn0EHJB+KcQIAzmCBGLhfMaJbhuWd1OeXlsYYlxLrQRBy4/D6KPbWNsZJBkSQdZg84kKyym8sbfNuOTYOkXMaNhuZjKyq7F23EGHW+GMrWeBwBgf3BRe9keoms8MbhBJIGGYgCMz1M5qka4DhhziCSBY96f7uHlrjAPC8/pbz0SdsqMbAY3CSLm8mR1y5KkaRJ2jbHOzMjPoq9Ko0ntDzjvyST1XMAm8936qqRaikWXPZpPl9kr3wm3neDOYQHDnF+EwP1Qinf9Z+SaHSNuhtofHGDq3TlMojWDVn7vfgdJacjkdDknvANyT64XW0WYuKTLIeI/Qqu8GUeMFtpta6rVqok5ADlMosSRPvTkM/VkOIzHjBSqlWG9nn681WG2uH10mFLmaKLZdruw/vquWZUqXspUOZagfRy9QXoSUDivZs4TU3ZXwuJOFwsDcNIEiS3FylblL2npuY44S1zcIa0mcU5mRkBHy7vHEoQ9S0mM+k7n2oV6eOIMkOEzBH0MjNXXbOOC+ZbNvSpTLS17hgMgScM825HwW672tLmgkQ4DCcJwySO068gCZsRac1m4u9ik1Rvb03Q2pclwgZC5OWnjZeS2rd9QAkNcWXOIi+FpgkjhdbdP2uAeGFoLYsWCIcQC1t3ZCSCfsnbq9qqby4VTgMjDZxF4EWbaDqTryStoKTPLUtke9xAa4mxAFpJEwNE7d2wOqOwh2F7SIxGCSDp0jQFbuybLs9Ss9ofhcHVhgaCwBrXvDSHCBGGLTkr26fw7XFtNxmAILXAENyOWEnP1KrXsGkds7HFoxtDXagHEOoPDqnFil9YaKjV29geKbnQ4xAM3ngUhD3vGl0BfyS6dcPEtII4i4kIS/7dTwCoVnmfaCi9rCz3rS2Q8MeTiwtBFtP5vK2S8jUcBnrw0nn4eC9L7T1H1KoAuxsBpAxEnMi2swPV8mm2i1n/AJMRqWiB2aZmS0tBv2dYzXn5fzMpM83XF4Jnz80P4ckOcBZud8ycg3iYvC0js4e+T/tkudmAXwCYmbZRJyU134WANAPaOIghwcRMEHWxGixcjbUBuiqMNhcZGBImb/8AIq5UeLNcSXNAueMSRzNwfQWZU2qMUDCeOoHBGKty+Ra5vnP7DLipcbBq3YO21s5Tt2FpBc64BAiNBcdxPyVHbNrD5JgTEASZJzjhxv5q1ucDAXWkOHgeqJKohJVEt7ZW/wDG0NwgCcRECZNojvVY7ZhaIlpbfL1pZTWDS4m9iOzeInUfbiq+zNAc1zjJnKJj7alQkqEkqFGnicMLhe156wq5aXAy4DDkON7juVus3A8h9hExaeV9P0R7Pt1EVGuqU/etB7bJLQ9hEHC5sFrryDxA76s0iY7xCjEj2kiZbOEkloOYEmAeaUqs1oJrtUXvST69BFs7QQfXfyTKbMJN5CpITaG2/lJVU1zOaUc1CHIFEst2t1wTMpDnHihRAqbGkkdiQvaeBUtddPrnHcOMcDOesJMfYqSuRELkhn0LGhL0/wDAPtbPzQu2J+jZ8F63Vhyvk80RiXEqwdhfwjLOFH4Gp+U5fRLqw5XyGxWJQkp9TZiGk/EY+FsueLxOEDJG/YX27Jm2QPck80F6oNiriXB6tO2FxdlbQ+WXVD/D3zAaT4fJLrQ5QWhdTanFxcTcnETqXEyTyMrm7Y8TDnCc4JFuCYd21PyHylcN3v1bHhKOrDlfI7Q2nvuq1uEPcBM5mx9BdX2wvaXOJM/Fwtr+iH+HGLN8xlJXN2ZwxHDFgRJGpbbrdT1oejFswKO0PY1xaYxtwmJFgfXqVXO0EWDznNpzveeNyrL9nfnYdXCWyYy1ymw1CE7IcLnBswdASTI4C51S60eR0DRqTmXSTHHTMlUNreHGAM+FxbMnn9lofh3FktpVhUa0ueMLsBgj/bIBmGucCOXAqls+7qnvCQ14tlhcTJNhBHI5Liyzi5arK01uyr7stbAeQCeJ0sSeWdlWqkn+YEDUWtztwW07djpOJjjMRIi5iSHHS5/x5hd/CnSABVLb2DCcxa50xGeiz1otPc883ZnPJwAmJ8rn5Ltlphxhxgdq5BMENJAtxiJ58FuN3HXgwyozQDCXGxyP63Vet7P1WtEMrF0mQKVQWgWJ7/nwVKa5NEzNGytwuJcCQBYDUxqBBgYrckNJ7QwEEnPEMo+H9VebuSvaaFfW/unR5+Eoqe569w2lWGedM62vYkZ/JDkh9xbbvwFwEh+PCDBwhxAvESYH93FTV2gMJiO1BmD1wxwtHen1Nz1zhAY74WyMDiSQLus3KSY5KsdxbQBAp1bn/wBdTvNxJWdx5FoM7aquIuOYznqR9SFQcFtO3RtFx7uphvHY+LDIgReZabckobmrls4DAIyAm44C+mSvXFepolWxmtpy3o7ycD/8eaFwXotg3HWBJwOwkAZNzPam5tZpz4qv/pjaAJ928RoSwEw0ukSYdYZC8wMyl1Icovcww6E0Vj3rTO4q4mWOsDcEEE/lsevggHs9tH/rcDple+X1T6keUS6Kj9mBBcDe0tgiJ1nXI2VQtW3V3HWDfgOkyW5BszBP9footk9nq2KXMAGRlwEGwE+PSyXUhyCZjDZn8PMLqtFzc7TzF/Nb9XdTxJwk8w7Kevqy6nudxq5YmGNSezmOYjJXqxvsyepW7PO1GxHMT5x9ETXWK9fV9nwYABGEaE6zqQTmqtT2ciPjIIJEEGdInD0UycE/zIlZoM8qVy9fs/s+2Lsvrim3fZQqXT/vX7/8F5iB7L/TJJ/3CNTD8XTOn01UM9mi2cL/APm4aXmGd+eq9CarRp6Kk1WayOK7/J4/f5OQwf4AcpEcnuy/xQ19wzEOnIkl7hcaNgG2fitv8TTyH7edkFd7c2lgjV7i0JeSxLn5CjLdu2qW4HFrqYuGGq4tkzfCacTfPmVH4CroKfXG6T17HoALXG00zHbZ0Dg6+sfshO00uPhcnpxQ/A4Xz8g1Zk1Nge4AEN6hx14djzSdooiixz3NBEsFi2BJguMt+ESSeUk5LdNRhu0tIyFwCDEw4ZNNiM45rzPtZslWu1tNgd7oOD6rQWNLhIENc44ey3EQbt7Wa4c8PCxi1GW91Tf+u524fBZJv+qLqr29S81j4gMZE/mvAN5BZ2SCIhLDal4ZTGlnf9Au2Go9gDatRj7AAuwsqDCAAagDnNcYEEg6NzklNO8qOtWiOtRnWM+CuOHwLVua/wAkZPweddoSr7MgF/AZ6P49yXhdOVo/OB2v8UO179oME42uGXYc0x1M2/Qpexbe6r2hTwU9HHM//mYnrBHMq4+G8JJ6Ytv7b/vVEy8HkjFykqXu0n+iuw6rXW7JyucYz1EEIC0wZaQYyDhc9VbLktzl0/hmH3+TnM6pXqNyYM/5qmK3ePUoX7wefiaT/dGWWSsVnKlVUS+m4Vz8jQVHecTNG2Q7c/3G2aNu9W6scOQdKoVGpbm81k/p+L3+SqTNBu9uLXdAZiTP2v1suq75GjBlrOfFZuBA5nM+Sh/T8fuGlF9m+RF2EHi3v4lT/F2gy1j/ABa2/WFlOZzK5jEvIQ9x6UjSbvYh5cG8c+1OkXMNBHBG/f75gNIEyYdBz5DhHoLOwoSxLyGN90XGTXZv5Zeob9c2xYTxOMmxOI6cSeq6vvtpypE9XBukflJNlmliH3fqyfkMYNt92/lllm8WtdIYRA/M5x+id/qBwybI1JJm/Tks4t9WQ+7T8jjfcP53ZrUt93kMg31Jt0UP3kXEEtJ1PbIBP+MQs1lNPYE14DEJ8W/lmgN5O/IyJ1k21tkdENPb6mK7aQBzgZRlFhkq4KlX+HYSKRpv3wQBgpsJ1c7wsMgNbyqVTelYzOEzncQL8hPDVIlAVK+nYVyJRXA5u8KrRYU9I00HIzr4Lv4k/WCev/X1CqkoHFD8BiK0R4Lrd6uFwGk8C4wBpEN+milZhXKfIYQ6ceD6djM2eehwm3gLhH7yZH3yClgAvAPMdLTyUjCMwAOuvU6r17JEl39ViOI8IQ+8ziwEerj5FOADjMcic55EkIsA4RHIX8LJpgVn7RMjtGc+NuFjqhDzF7HgbefFONOPscu70ENhOQ/tmO4FMQmo8kXm3LLyv81n7x2Gm8AuY2Rk6wm+VraLTi2c29SEmo0i4P1J5SfV1LhF90aLLNepSp7PTaPhb1OGbcAQo/CUznTpn+1ptbSFZANpMmJzInzROPEjxKeiPAupPlmZV3VQIj3NKR/Q36JjKOHKQM4l8eBKuBwuAR66pbxwCFCK7ITnJ92JcTxJ7jCU6+viPkrIM5j10S3CfXqFoQVHj1+yrvVh7e/jNwq1XQLOQ0JeElMLgNT66pL6gWTaKJn1KAlQag4jopdzKnUh0A5QFz39PL1KjwU2hhBchkrnHoiwIKEqXDKdclBNkWAJHFQpJ9fJAT6yRYxjT6zTWlV2OI09d6YDxTTBj2ldKAFQSqsmgyUDioJugL1LY6JclOKlzvV0ovUtlJElQgLlyi0M+rNJnEcuTic8tB5lLfgLhLQSeUnx70mm7TSVeqNEHouvsYinAzE25XB4iBl5oXU5vBPrRKLjhmT8QFiQII4ZJe1NGIWH7xKoC1McfWsgIDe+LuggW5HW+a7AG2HCeOvNATY9/wAwgRwNrwb6YR8iga0HK3h91NZ0FoEXJmw0Sq7zHigDiY8eaHwRUnS2eX0WS3a3lzhisCYy0KoDTw+hCS8xqeMTlzCa1gseXE/JA5gGQA6WSCxTnTbtd4I80FT16lE4w2dUvaDZMRXq6A/v5lVqp9ff7q3UE4VUAuVEhoqvHGesJFWNJ6xI8u9XKjAZ6fZU64iw9ZLCRaAcQf0i6kN493Ph+6aWjCe9VHuPnHzWbaSsaJwjST4oSyAfL0EvEUzT1zSTTGRg71DwR6KsUKYLJOcFViPp55pNUNDcUQbyBqQR15pNVxn7E5W6hRtGSOrbLgp0pMYku5z+vcgD8ojxnTSAFYrMA8vXJLqMETCqmNAtqSdB3g/NMbVMevXkg2a+fL6qxFx3/JVG2Jkh3H5+CZXcLQIsNczx/RIqaomNFkSVtbkkB6EuIQtQ8UWOjsSU6/JG76pZOSmRQBHNcocfqpWdoZ//2Q== 
Dulu

Rawa Pening punya legenda baik yang mitos maupun mistis.  Hikayat Baruklinthing adalah mitos ngetop turun temurun yang berasosiasi dengan proses terjadinya danau tektonik-vulkanik ini.  Sedangkan info mistis yang didiseminasi oleh generasi tua masa prebaby boomers di antaranya adalah cerita grup wayang kulit dari luar daerah yang ditanggap manggung oleh penunggu yang mbaurekso Rawa Pening.  Orang-orang di sekitar danau tidak bisa melihat tontonan wayang itu, hanya mendengar suara gamelan seperti ada wayang show dari arah tengah Rowo (sebutan Rawa Pening oleh warga lokal). 

Rawa Pening menawarkan keindahan yang molek tanpa harus berias dulu.  Keindahannya memang tak terbantahkan.  Kalau dipandang dari arah jembatan Tuntang, Rawa Pening berlatar belakang Gunung Telomoyo, Gunung Merbabu dan Gunung Ungaran.  Ditambah lagi dengan perbukitan dan gunung kecil Gajah Mungkur, serta di kejauhan tampak persawahan luas di Banyubiru dan kerlip-kerlip kota kecamatan Ambarawa.  Sedangkan di latar depan tampak rel kereta api dari stasiun Tuntang menyusur tepian Rowo sampai stasiun Ambarawa. 
 

Bentang rel kereta api di tepi Rawa Pening

Rawa Pening adalah bendungan alami yang luas dan terbentuk dari aktivitas vulkanik purba gunung-gunung sekitarnya.  Airnya bersih dan mengalir dengan arus yang mengalir stabil dan cukup kuat melalui Kali Tuntang sampai jauh (Kab Purwodadi, Kab Demak sampai ke laut Jawa).  Karena alirannya adekuat, di era kolonial pemerintah Hindia Belanda membangun PLTA yang mengandalkan arus air Kali Tuntang untuk menggerakkan generator listrik di Jelok dan Timo. 



Wader
Kotes

Sepat
Rawa Pening menjadi kampung besar bagi berbagai jenis ikan lokal seperti wader, tawes (ikan mas pribumi), kutuk (ikan gabus), kotes (semacam kutuk ukuran kecil), sepat, (seperti gurami lebih kecil), belut, lele, garingan, mujahir, betik (mirip mujahir banyak durinya), kece (kerang rawa), dan jenis ikan kecil-kecil tapi kroyokan seperti kembo (cangkem ombo) dan cethul (ada yang menyebut deduk).  Di permukaan Rowo dan udara sekitarnya, sering ditemukan capung aneka warna, burung bangau putih/ kuntul, belibis (semacam bebek liar).  Bahkan pernah terjadi, serombongan burung pelikan yang sedang migrasi tahunan dari Australia (mungkin menuju Malaysia, Thailand atau Kamboja?) mampir ke Rawa Pening untuk mengisi bahan bakar alias mencari ikan sebagi makanan pokoknya.  
Belibis















Ini membuktikan bahwa Rawa Pening memang berlimpah sumber pangan alami.  Tapi itu kondisi dulu.



Sekarang

Si Rowo ini makin lama makin dangkal dan bagian tepinya makan banyak yang menjadi daratan.  Sedimentasi, itulah jawaban terdekat.  Pendangkalan terjadi karena gulma eceng gondok yang sulit dikendalikan pertumbuhannya.  Memang pernah ada kampanye pembersihan eceng gondok yang melibatkan beberapa lembaga, termasuk dinas pemerintah dan tentara, tapi gagal maning-gagal maning.  Bahkan ada proyek pembuatan penahan bengok (istilah orang lokal untuk eceng gondok) berupa tongga-tonggak kayu sampai tonggak beton, tapi kok tetap lolos juga gulma berbunga ungu itu.  Nah, eceng gondok yang sangat cepat berkembang biak itu kalau sudah jompo dan terdekomposisi akan mengendap dan menumpuk di dasar rawa. 
Ini dia eceng gondok alias bengok

Selain eceng gondok, penyebab pendangkalan lain adalah lumpur, serasah dan sampah dari hulu beberapa sungai dan anak sungai yang mengalir ke Rawa Pening.  Lumpur berasal terutama dari kegiatan pertanian di bentang persawahan di barat dan selatan, serta dari makin menipisnya vegetasi di sekitar perbukitan dan dataran bawahnya.  Sampah terutama berasal dari kawasan urban di sebelah tenggara dan selatan, termasuk dari Salatiga.  Populasi urban yang makin membengkak disertai kebiasaan bodoh membuang apapun ke selokan, saluran drainase, dan anak sungai berakibat akumulasi aneka sampah di Rowo.  Serasah dan sampah bukan hanya mengubah air bersih menjadi kotor, tetapi juga menyumbat dan mematikan mata air yang ada. 
Rawa Pening mengalami pendangkalan

Di samping pendangkalan, ancaman bagi kelestarian si Rowo adalah water depletion, tak lain wal tak bukan yaitu penyusutan (debit) air.  Ini dapat diamati secara mudah dari beberapa anak sungai yang volume dan laju aliran airnya makin berkurang dari tahun ke tahun.  Penyusutan air sangat tampak pada musim kemarau.  Bisa jadi, paceklik air ini juga berhubungan dengan berkurangnya vegetasi yang dulu gondrong menjadi semakin botak dan pitak di dataran yang lebih tinggi termasuk perbukitan dan pegunungan di sekeliling Rowo.

Kasanah Rowo yang berubah membuat keadaan biota yang memburuk.  Sekarang tidak ada lagi belibis si bebek liar.  Rombongan burung pelikan tidak pernah lagi mampir ke sana.  Gerombolan ikan lokal (wader, garingan, sepat, kece) makin susah diperoleh, menurut para nelayan setempat.  Jenis wader yang masih bisa ditangkap kebanyakan berukuran kecil.  Kotes sudah bertahun-tahun tidak diketahui keberadaannya.  Yang sekarang menjadi komoditas tangkap ya mujahir dan saudaranya nila, serta sepupunya si lou han alias red devil.  Nila dan red devil sebenarnya adalah species invasif.  Kemunculannya di Rowo akan mengganggu keseimbangan goepolitik masyarakat ikan di sana.  Jelasnya, dengan semakin membahananya populasi nila dan red devil akan semakin mengempiskan populasi jenis-jenis ikan pribumi yang turun temurun hidup di situ.
http://mw2.google.com/mw-panoramio/photos/small/77089853.jpg
Ada warung nangkring di Rowo
 

Akselerasi perairan menjadi daratan (tampak terutama dari sekeliling tepian Rowo) merangsang orang untuk merekayasa dan mengotak-atik tanah baru itu untuk beberapa bisnis.  Maka beberapa tahun terakhir mulai nampak bermunculan warung, bengkel, rumah makan berbagai ukuran, pemancingan dan arena usaha yang lain.  Bahkan pernah ada rencana pengembangan perumahan di bekas tepian rawa di dekat jembatan Tuntang.  Area calon perumahan itu sudah direklamasi dan ditanggul beton di sekelilingnya.  Tetapi karena tidak lulus uji amdalnya (dikhawatirkan mempercepat pendangkalan dan menambah polusi ke Rowo), proyek perumahan itu tidak dilanjutkan dan menyisakan hamparan tanah yang kemudian menjadi kebun.  Alih fungsi lahan yang lain adalah tepi rawa dan sungai menjadi petak-petak sawah yang digarap penduduk setempat.



Kelak

Ini adalah proyeksi keadaan ke depan, bila tiada langkah-langkah intervensi yang memadai untuk mengatasi laju pendangkalan Rawa Pening.  Pertama, kawasan danau legendaris itu akan menyusut dan didominasi daratan.  Aliran sungai tentu masih ada, tetapi akan jadi minoritas di sekeliling dataran mbulak (padang semak dan rumput) yang dominan.  Tanah luas itu akan dimanfaatkan jadi sawah atau kebun dan sebagian menjadi kampung.  Kecenderungan semacam ini terjadi di daerah urban seperti Jakarta dan Semarang, yaitu kawasan rawa yang dulu berfungsi sebagai penampung dan penangkap air dalam perkembangannya berubah jadi perumahan atau bahkan lokasi industri.  Maka, terjadilah perubahan topografi dari badan air menjadi daratan.  Dari danau berevolusi jadi kampung dan sawah. 

Kedua, yang lebih menyedihkan tentu adalah hilangnya biota yang berabad-abad menghuni Rowo.  Berbagai spesies ikan, kerang, udang sampai capung, burung dan satwa lain pasti akan lenyap tinggal nama dan cerita saja.  Ini tidak hanya berkisar di Rowo tetapi juga satwa lain yang hidupnya bergantung pada aliran sungai dari situ.

Ketiga, perubahan alam dari badan air menjadi daratan bisa membawa adverse effect bagi komunitas manusia yang bermukim di situ.  Kasus yang akan muncul sama dengan yang dihadapi warga di dataran rendah seperti Purwodadi dan Demak, yaitu fenomena kekeringan akut di musim kemarau tetapi kebanjiran hebat di musim hujan.  Pendangkalan besar-besaran Rawa Pening jelasnya akan berdampak pada pertanian, produksi pangan, produksi energi listrik, dan kehidupan sosioekonomi warga.



Nah, bencana ekologis-ekonomis dan sosial itu dapat diantisipasi dan dimitigasi (dikurangi dampak dan risikonya) dari hari ini.  Dalam hal ini, diperlukan upaya intervensi yang masif dan terstruktur.  Secara ringkas (tentu ini butuh penjabaran yang detil dan rumit), diperlukan upaya pengendalian gulma air terutama eceng gondok secara tuntas berjangka panjang, bukan cuma kegiatan sporadis semacam kerja bakti.  Alternatif lain adalah pengerukan endapan dasar supaya danau lebih dalam dan menampung lebih banyak air.  Ini seperti yang dilakukan Pemprov DKI di Danau Sunter.  Berikutnya yang juga sangat penting adalah pengendalian serasah dan sampah, terutama sampah domestik yang berasal dari hulu.  Dan yang paling penting adalah upaya menjaga sumber air dari mata air di perbukitan dan pegunungan sampai ke hilir.  Tentu ini berkaitan pula dengan konservasi vegetasi dan pengaturan fungsi lahan, yang langsung berdampak pada ketersediaan air.  Memang benar adanya, tanpa air tidak akan ada kehidupan.  Lha, kalau suatu danau berubah jadi daratan, betapa kerugian luar biasa besar bagi hidup manusianya.