Tuesday, October 14, 2014

CARILAH UNIK SAMPAI KE NEGERI JOGJA



Mencari yang unik sampai ke Jogja?  Eh, nanti dulu.  Ini harus jelas, apanya yang unik.  Karena “unik” itu sendiri merujuk ke specialty, jadi ya biarkan saja kata itu muncul dalam konteksnya sendiri.  Perlu kesepakatan umum atau musyawarah untuk mufakat buat merumuskan “unik”?  Atau voting dulu?  Tak usah.  Unik sendiri artinya “tidak umum”. 
Lha berarti unik itu bisa subyektif, karena unikku belum tentu unikmu.  Yang aku anggap unik belum tentu kau anggap demikian.  Ya begitulah.  So, awal cerita ini hanya “jaga-jaga” kalau kelak kau kecewa (terbawa ekspektasi berlebih) hanya karena mendapat cerita yang (ternyata) kau anggap tidak unik, sementara bagiku ini tiada duanya.  Yeach, let me proceed my story.  Check it out.
(Botol) Limun Sarsaparilla
Hasrat dan kerinduan pada limun sarsaparilla (selanjutnya disebut Sarsi) seperti beralih menjadi obsesi.  Waktu masih berstatus siswa SMP dulu (awal 1980an), sosok Sarsi muncul dengan tampilan aroma Rheumason (obat gosok) tapi gersang --- segar merangsang, ha haa haaa... itu unik pertama, rasa khas yang tidak global.  Bandingkan dengan Coca Cola, Pepsi Cola, Big Cola yang di mana pun rasanya ya begitu-begitu saja.  Bagi yang doyan, Sarsi itu rasanya ngangeni, sejuk krenyes di lidah dan manisnya moderat (tidak manis sangat).
Unik kedua, kemasan botol beling yang tutupnya keramik dibalut kawat.  Lha ini pun membuatku jadi amazed.  Pada pandangan pertama, belum tentu orang bisa membuka tutup keramik berkawat dengan segel kertas itu.  Situasi kebingungan beberapa detik sampai satu menit itu kadang menggelikan, sampai akhirnya.....”Oo, begitu to caranya”.  He hee, adegan ini sungguh berkesan bagi segenap orang pernah mengalaminya.
Unik ketiga, sekarang populasi Sarsi mengempis drastis.  Sebagai gambaran, limun dengan botol berkawat begini masih aku temui di Pasar Baru Salatiga tahun 1980an.  Pada dekade 1990an, Sarsi masih beredar di sekitar Muntilan, Pabelan sampai Jogja (sebagai homebase pabriknya).  Kini, mencari Sarsi original (bukan yang seolah-olah Sarsi bermerek AW dan lainnya) di Jogja pun sulit.  Mungkin, serbuan spesies cola dengan segala merek global telah sukses menggulung tikar produk cola lokal yang artistik ini.
Suatu hari di tahun 2012, Kompas menayangkan Mbah Karno yang sedang packing Sarsi merek Manna di pangkalannya Jalan Dagen, dekat Malioboro.  Saat itu belum ada greget bagiku untuk memburu Sarsi ke sana, walau sebenarnya hati memendam kangen minum Sarsi setelah bertahun-tahun tidak jumpa.  Tahun berikutnya,  aku sempatkan berweek-end ria ke Jogja dan mengejar Sarsi langsung ke Jalan Dagen.  Tengak-tengok kiri kanan menyisir alamat pabrikan Sarsi, aku tidak menemukan tanda dan jejak keberadaan Sarsi di situ.  Seorang penjaga warung yang aku tanya menjelaskan bahwa Sarsi Manna sudah tamat riwayatnya, production terminated.  Bahkan bekas pangkalannya pun sudah tidak ada karena berubah jadi bangunan hotel. Dengan patah hati aku pulang ke Salatiga tanpa membawa hasil.
Awal 2014, informasi aku tangkap dari jelajah Google dan membaca blog beberapa pendemen Sarsi, bahwa masih ada beberapa warung klasik yang memajang Sarsi.  Aku segera menyusun rencana operasi penangkapan Sarsi.  Pertama, membuat check list warung klasik penjual Sarsi.  Tercatat beberapa tempat seperti Soto Kadipiro Jl. Wates, RM Lie Djiong Jl. Katamso, RM Moro Seneng Jl. Magelang, Djoen Roti Jl. A Yani, dan warung Ys Sidosemi di Kota Gede yang masih punya stok limun.  Berikutnya, mengintip posisi warung sasaran lewat Wikimapia.  Ada yang langsung teridentifikasi, ada juga yang masih samar-samar tapi perkiraan lokasi sudah dilock on. 

Dalam perkembangan, ada produk Sarsi generasi baru bernama Indo Saparella.  Rasanya memang ori, bukan seolah-olah.  Sarsi yang ini bisa didapat di Salatiga pula, ada 2 kedai (setahuku) yang menjual Indo Saparella.  Ya lumayan, bisa mengobati rasa rindu sampai 50%.  Kok tidak mencapai target 100%?  Lha ini karena yang kumaksud bukan cuma isi wedang Sarsi yang ori, tapi juga botolnya yang klasik dengan tutup keramik berkawat yang nyeni.  So, rencana operasi tetap aku lanjutkan.
Mei 2014, operasi penangkapan Sarsi dijalankan.  Dari Salatiga, aku meluncur lewat Cepogo, Musuk, Karangnongko, Kemalang, turun ke Manisrenggo.  Ya ampun, jalannya hancur lebur gara-gara dilewati truk pasir dan batu.  Aku lanjut terus  ke Prambanan dan masuk ke negeri Jogja.  Bergerak terus ke selatan, aku menyasar Ys Sidosemi.  Sasaran ditemukan, tapi warungnya tutup.  Di pintu warung memang tertempel “Yen Selo So’ Tutup”.  Ya sudah, geser ke sasaran berikutnya RM Lie Djiong di Jalan Katamso.  Lagi-lagi, yang aku temukan hanya warung yang tutup.  Pindah ke barat, aku lewat Jalan Wates.  Dasar naas, Warung Soto Kadipiro hari itu libur.  Dan akhirnya, rasa nelangsaku makin komplit ketika RM Moro Seneng sebagai sasaran terakhir ternyata juga tutup.  Operasi penangkapan Sarsi hari itu gagal total.  Sebagai tombo kecele alias penawar kecewa, aku beli saja Bakpia-pia aneka rasa sebagai oleh-oleh buat anak semata wayang.


Juli 2014, obsesiku terhadap Sarsi mendorong digelarnya operasi penangkapan Sarsi jilid II.  Tapi kali ini sasarannya hanya di kawasan tengah Jogja saja, tidak mencakup ranah pinggiran seperti Jalan Wates atau Pasar Kotagede.  Operasi kali ini dilengkapi data intelijen lebih lengkap.  Maksudnya, sebelum meluncur ke sasaran, aku telepon dulu ke warung-warung selected tentang stok Sarsi yang ada.  Padahal aku sudah menetapkan target: tangkap Sarsi klasik dead or alive alias “mati atau hidup”.  “Hidup” artinya kalau bisa menangkap limun Sarsi versi asli sekalian botol antiknya.  “Mati” artinya kalau gagal menangkap Sarsi ori, ya botolnya saja jadilah. 
Pagi itu motorku menderu lagi ke Jogja, kali ini lewat jalur Kopeng, Ngablak, Kaponan belok kiri ke arah Ketep.  Dari Ketep turun ke arah Sawangan, belok kiri ke arah Muntilan, lanjut ke Pabelan, Sleman dan masuk ke tengah Jogja.  Sasaran pertama RM Moro Seneng belum buka.  Sasaran kedua RM Lie Djiong, ternyata sekarang hanya memajang  Indo Saparella yang botolnya mirip pemukul (thuthuk) gong.  Yach, kalau yang model begitu di Salatiga juga ada, kataku dalam batin.  Lanjut lagi perburuan, di toko Djoen Roti lagi-lagi bertemu Indo  Saparella.  Urung membeli Sarsi versi terbaru ini, aku malah mendapati beberapa jenis roti klasik yang rumusnya sudah paten sejak jaman Hindia Belanda. Salah satunya roti berbentuk buaya.  Lha menurutku ini bisa digolongkan unik, jadi aku ambil satu. 

Nah, ketika sampai di Jalan Pasar Kembang, perburuan membawa hasil.  Salah satu kios di dekat Stasiun Tugu ternyata menjadi pengepul Sarsi.  Dari mas penjaga kios diperoleh info bahwa ternyata untuk botol Sarsi jadul yang bertutup keramik dikawat, produksinya discontinued.  Jadi terhadap botol klasik yang masih eksis, perlakuannya adalah refill dan kanibalisme.  Di pabrik limun, botol yang sehat dicuci dulu sebelum diisi ulang Sarsi.  Botol yang tutupnya rusak dicarikan penggantinya dari botol lain.  Itulah kanibalisme.  Uniknya lagi, kalau hanya beli isinya saja, limun per botol harganya Rp. 5.000.  Kalau beli lengkap isi dan botolnya, harganya Rp. 20.000.  Pilih yang mana?


Dengan campuran rasa haru, senang, lega (contented) dan sedikit rasa “aneh-gimanaa gitu” karena berhasil menemukan sosok unik yang legendaries itu, aku memutuskan beli Sarsi sak botole ben marem.  Pertimbanganku adalah kalau tidak diambil sekarang, jangan-jangan kelak akan benar-benar tamat riwayatnya Sarsi bernuansa jadul itu.  Memang limun Sarsinya segera habis dalam hitungan menit sesampainya di rumah, tetapi botolnya akan tetap menghidupkan kenangan sampai bertahun-tahun kemudian (selama tidak dibuang).  Akhirnya botol Sarsi klasik bermerek Minerva itu aku jadikan kenang-kenangan bernama Monumen Wedang Rheumason.

Monday, May 19, 2014

MENGITARI GUNUNG MERBABU

Tiap kali ngetrip lewat Tengaran-Ampel-Boyolali, atau Kopeng-Ngablak-Magelang, pandangan
mata mesti kecanthol ke arah gunung Merbabu.
Kalau cuaca lagi cerah tiada mendung sendu mendayu-ndayu, itu gunung
tampilannya keren dan beken, megah dan indah, hijau dan memukau.  Makanya kemudian ada ide mencuat dari hard
disk di kepala, bagaimana kalau suatu saat browsing keliling Merbabu?  Ada jalan normal yang nyambung terus dari
start sampai finish kah?  Jalannya
aksesibel kah kalau pakai motor? 

Ide yang mengusik dan menggelitik kepala itu lalu aku tindak lanjuti supaya ati lega,
itu yang pertama.  Yang kedua, supaya
bisa jadi cerita ke teman-temin, saudara-saudari, tetangga-tetanggi,
kerabat-kerabit, bloggerwan-bloggerwati, dan pembaca mbah Gugel semuaaaa....  Nah, inilah prosedurnya:
-     Pertama,
ngintip & nyimak peta.  Untung jaman
sekarang ada Google Map, Wikimapia, Panoramio, ya semacam itulah.  Jalur yang diperkirakan mau dilewati
dibaca-baca dulu, terus gambarnya (Google map skala 500m) diprint.  Berhubung satu lembar folio tak cukup, ya
ngeprint beberapa spot (bersebelahan) terus disambung-sambung. Jadilah satu
peta jalan yang representatipb..
-   
Kedua,
membandingkan peta rakitan tadi
sama Wikimapia atau Panoramio.  Tandai gambar
(maksudnya tambahi tulisan/ keterangan) kalau ketemu nama desa, dusun, jalan,
jembatan, lapangan, kantor desa, sekolah, pasar, pokoknya serba fasilitas
publik.  Soalnya, peta Google itu cuma
menampakkan jalan sama saluran air (jurang, kali, selokan), tanpa nama. Ada
ikon sekolah atau tempat ibadah atau toko, tapi posisinya sering tiada tepat
alias menyesatkan!  Yang pas biasanya ada
di Wikimapia.  Makanya perlu
membandingkin Google map sama Wikimapia.
-   
Ketiga,
jalur jalan yang akan dilewati
ditebalkan pakai pensil.  Ini cuma untuk pedoman supaya tidak nyasar ke
mana-mana. 
Ini peta ala kadarnya, hasil ngeprin Goggle map
Oke Brow, setelah menentukan jalur target operasinya,
tim touring siap berpatroli.  Kali ini
timnya berisi dua oknum saja, si Zupre dan aku.
Itu thock.  Si Zupre sebagai
wingman merangkap kameraman, mengawaki motor SupraX.  Aku sebagai navigator, mengoperasikan motor
Vegy Z.  Hari-H ditentukan: Minggu,
tanggal 11 Mei 2014.  Ini laporannya:

RANDUACIR – JLAREM
Jam 7 si Zupre sudah mendarat di muka rumah, eh…aku
belum mandi (padahal sudah sarapan soto….ha haa, jangan ditiru ya?).  Pascamandi & persiapan ala kadar, jam
7:30 tim traveling took off dengan khidmat.
Aku ngisi bensin dulu di pom bensin dekat Lapangan Pancasila.
Siap traveling
Resminya, trip dimulai dari jalur Pasar Sapi lewat
Ngawen (bukan yang jalan Kopeng).  Jalan
naik ke arah Kumpulrejo (melayang di atas jalan lingkar), terus ke selatan.
Sampai di perempatan Puskesmas Ploso, belok kanan.  Tak lama setelah lewat lapangan dan pasar
Kembang, ada rambu Salatiga dicoret.
Berarti ini sudah wilayah kekuasaan Getasan.  Itu buktinya ada SMP 2 Getasan di sebelah
kanan.
Sampai di pertigaan Setugur, belok kiri.  Berhenti sebentar, aku buka peta buat ngukur
jarak dulu & konfirmasi arah berikut.
300 meter ke depan ada pertigaan, belok kanan. Eh, jalannya beton
selebar becak melewati kebun dan tegalan.
Nanjak pula…asyik lah, si Zupre sampai ber”haa-haa-hii-hii”.  Tapi waktu lewat dekat peternakan ayam
petelur, jalannya berjerawat-geradakan-kerikil bergoyang.  Rusak daah.
Masuk desa Surodadi, jalannya halus (sementara). 
Ke selatan, masuk desa Jlarem (kec Ampel), oo..laa
laa….jalannya banyak yang tak berkulit (aspal), alias berbatu-batu
meringis.  Belakang motor jadi sedikit
bergoyang Caesar, pas lewat jalan berbatu-batu.
Untunglah adegan goyang berdendang itu tak lama.  Setelah belok ke kiri di pertigaan Jlarem ke
arah Ngadirojo, jalannya halus lagi.
Kelihatannya ini jalan baru dilapis ya?
Soalnya di peta Wikimapia gambarnya belum ada.  Mungkin gambar satelitnya edisi beberapa
tahun lalu, Google males update ya?
Dari desa Jlarem ini, udara sudah terasa sejuk.  Bagian atas gunung Merbabu juga tampak
gamblang, walau agak botak (tak seperti gambaran awam kalau gunung itu gondrong
berhutan pinus).  Hutan pinus ada, tapi
makin sporadis belang-belang, campur dengan ladang penduduk yang bergaris-garis.

NGADIROJO – CANDISARI
            Lepas dari kawasan
Jlarem, tim traveling masuk ke area desa Ngadirojo.  Bagian terfavorit (menurutku) adalah
perempatan berbentuk X yang di tengahnya ada pohon beringin dipasangi lampu
penerangan.  Berhenti dulu aah…cek peta
lagi sambil tengok kanan-kiri, depan-belakang, atas-bawah. 
Simpang leter X di Ngadirojo, Kec Ampel
            
  













 Dari perempatan X
ini, kalau ke timur/ ke bawah, menuju kantor desa Ngadirojo, terus ke PT.
Primayuda (pabrik benang yang ngetop se kecamatan Ampel).  Kalau ke barat/ ke atas, ada beberapa dusun
di antara hutan pinus dengan latar belakang pucuk Merbabu.  Kalau ke selatan mengarah ke desa Sampetan
yang jalannya mulus.  Di dekat perempatan
ada SMP 3 Ampel, yang ruang kelasnya seperti terletak di lembah/ cekungan
berkelok.
 
SMP 4 Ampel, kelasnya di bawah sana

            Ayo dilanjut
Bro.  Setelah desa Ngadirojo, tim
berpatroli lewat desa Sampetan ke arah Ngargoloka.  Di tepi tanjakan ke Malibari, berhenti lagi
aah….si Zupre ambil berapa foto, aku meneropong gunung & daratan di bawah
sana.  Pemandangan yang magnificent.  Di lapangan Ngargoloka, tak jauh dari situ,
tim berhenti lagi sebentar.  Soalnya di
atas ada seekor burung alap-alap (elang Jawa?) hitam terbang pelan berputar.  Sayapnya lebar banget, terbangnya cool
(memang gayanya begitu).  Gara-gara
terpukau jadi bengong lupa ambil fotonya.
Mungkin karena aku jarang lihat yang begitu ya? 
Dari atas Malibari-Ngargoloka. Penampakan ke arah Salatiga& Tengaran
 
Pas diteropong, gunungnya berkabut
 
Tanjakan ke Malibari
            Terus, setelah lewat
jalan berbelok-belok di antara kebun, ladang, seed bed (tempat pembibitan
sayur), asrama ayam petelur (peternakan maksudnya), tibalah di desa
Candisari.  Di situ ada bumi perkemahan
yang namanya ngetop sebagai “Bumi Perkemahan Pantaran” (padahal Pantaran itu
nama desa sebelah baratnya). 
Bumi perkemahan sperti tertutup deretan warung

NGAGRONG – JERUK – SELO
Cabut dari lapangan Candisari, belok kanan masuk desa
Ngagrong.  Nah, dari Ngagrong ini sampai
desa Jeruk, tanjakannya tegas tanpa rikuh pakewuh.  Motor sehat wal afiat pun harus melaju di gir
1 atau 2, soalnya tanjakannya nyata dan panjang. 
Rasa nyaman kembali nyembul pas lewat jalur antara
desa Jeruk dan desa Tompak.  Udara segar
seperti di ruang AC, bentang alam yang hijau kemilau, jalan beraspal mulus,
tampilan perkasa gunung Merapi di kanan depan dan Merbabu di kanan belakang,
wuuaah….hebring lah.
Jalan dari Ds Jeruk ke Selo dengan tampilan G. Merapi
















Desa di lereng Merbabu
Siap lanjutkan patroli menuju Selo

Masuk kawasan Selo (jalan Boyolali – Mungkid), kok
rasanya seperti di area wisata ya? Lha, memang ini tempat wisata kok.  Ada hotel, homestay, wisma, agrotourism,
padahal sebenarnya Selo cuma kecamatan di antara Merapi-Merbabu.  Daya tarik utamanya memang pemandangan
(langsung) lereng dan puncak Merapi.  Di
Selo, camilan bin kuliner yang kondang di antaranya jadah bakar dengan
aksesoris kelapa srundeng, tempe bacem atau ayam panggang.  Jadinya mampir dulu to, merehat barang
hangat: jadah bakar + teh panas.  Wuih,
gayeng sungguh…enack Bro! 
The heart of Kec Selo. G. Merapi sebagai background
Ini dia kampanye jadah gurih
Jadah brongot yang didukung srundeng...nyakdhuuut.

WONOLELO – KETEP – KAPONAN
Selesai rehat jadah bakar, patroli dilanjut ke arah
barat.  Jalannya berbelok-belok,
naik-turun, itulah tampilan khas jalan di gunung (mengikuti permukaan tanah
yang keriput-berlipat).  Sampai di
Wonolelo, mampir di obyek wisata air terjun Kedung Kayang.  Tempatnya maknyus! Ada bukit ijo royo-royo,
ada gazebo kecil-kecil buat nonton pemandangan, dan air terjun sebagai pemeran
utama sudah terlihat dari lereng/ tebing tak jauh dari gardu loket karcis.  Cuma kalau mau main di kali atau mencicipi
semburan air terjunnya, orang harus turun menyisir tebing seratusan meter ke
bawah sanaa… wach, males aku.  Jadi ya,
aku cuma meneropong dari atas saja.  Eh,
rupanya di situ juga jadi arena ‘festival pacaran’ lho, banyak pasangan lovers
stand by dengan khidmat.  Si Zupre jadi
pengin…ha haa haaa..

Air terjun Kedung Kayang dilihat dari tebing di atasnya
Lihat tuu...yang di bawah air terjun, orang-orang kelihatan kecil-kecil seperti semut
Yang berduaan macam begini juga banyak ditemui
Cabut dari Kedung Kayang, tim melaju lewat Ketep Pass
ke arah Kaponan.  Lewat saja tanpa
mampir, soalnya pas hari libur begitu tempatnya crowded alias full house.  Populasi sepeda motor, mobil sendiri, mobil
rental, mobil tetangga, sampai bis piknik besar-besar nimbrung semua di
situ.  Lagi pula aku tidak mood, soalnya
pucuk gunungnya banyak berkabut jadi tak banyak yang bisa dimonitor.  So, dari Ketep dilanjut lewat jalur kebun
sayur & strawberry for sale.
Menurutku penampakan lapak strawberrynya jadi sedikit kurang menarik
karena sepanjang jalan (didominasi tanjakan) itu sering ada gundukan pupuk
kandang ayam dengan aroma yang tengik membahana.
Sempat mampir dulu di Pakis, tim touring naik lagi ke
Kaponan.  Kaponan itu suatu desa yang
ngetop dengan pasar tumpahnya.  Apa lagi
menjelang Lebaran, pasar tumpahnya merajalela astaganaga, sampai lalu lintas
melambat jadinya.  Anehnya, kalau
menjelang petang, tempatnya jadi sepi.
Mungkin warga lokal di sana malas hang out di luar, soalnya udaranya
dingin habiis…

NGABLAK – GETASAN
Dari arah Magelang ke Ngablak, jalannya halus tapi
dominan tanjakan.  Di beberapa spot
tikungannya termasuk ekstrim, sedikit turun-menikung tajam di jembatan-terus
menanjak.  Ada satu bagian jalan yang
membelok-melambung, dengan paparan ladang sayur berlatar belakang Gunung
Merbabu di satu sisi, dan lembah membentang di sisi lain.  Di pinggir jalan melambung dengan deretan
pohon cemara peneduh ini, sering tampak sosok-sosok manusia nongkrong menikmati
pemandangan lembah di bawah.  Ada yang
sekedar rehat perjalanan, ada yang (mungkin) terpana ke panorama, ada yang
pacaran dengan kusyuk, ada yang asyik berselfie & bernarsis-ria, dan ada
yang hanya bengong.

Sampai di Ngablak, jalan bervariasi mendatar, sedikit
naik, sedikit turun.  Kondisi begini
ditemui sampai Kopeng (masuk wilayah kekuasaan Kec Getasan).  Sebenarnya penampakan area Kopeng bagus, ada
bunga-bunga, ada kebun sayur, ada bangunan klasik tempat berlibur, ada hutan
pinus.  Masalahnya sekarang atmosfir
Kopeng sudah bernuansa urban, itu pertama.
Aroma komersial lebih terasa ketimbang suasana pedesaan yang lugu apa
adanya.  Kedua, hutan pinusnya makin
menipis, tidak sehijau dan serimbun dulu.
Masalah ketiga, kalau lewat Kopeng sambil lihat kiri-kanan, (maksud hati
melihat pemandangan) biasanya terus ditawari kamar oleh orang tertentu di
pinggir jalan…(mau menginap?  Mau jasa
pijat ++? Mau jasa “kebugaran” lainnya?).
Monggo lho (bagi yang suka “bisnis ngeres”) haa haa….
Lewati Kopeng ke arah Salatiga, jalurnya sungguh
membantu upaya penghematan Bensin.  Jalan
yang terus-menerus turun, sejak Kopeng, Salaran, Getasan downtown, Sumogawe,
sampai masuk wilayah Salatiga – Salib Putih, Bendosari, terus Ngawen,
kegiatannya cuma ngerem dan ngerem saja.
Sedikit masalah dengan jalan panjang yang turun terus ini adalah
permukaan aspal yang mulai berkeriput-keriput, bergoyang sedikit
bergelombang.  Tangan pun agak pegel
jadinya.
 
Setelah
perempatan JLS- Bendosari, jalan mulai tenang merata dengan turunan landai
saja.  Hati pun lega, soalnya acara trip
mengitari Gunung Merbabu sudah komplit paripurna dengan penuh semangat (dan
birama 4/4… haa haa).  Di perempatan JLS,
si Zupre belok kiri, katanya dia mau ngadem di Taman Bendosari, aku lanjut
lurus saja arah Pasar Sapi.  Tahap akhir
traveling, yaitu coming home. Yeaaach….

Thursday, April 24, 2014

NJAJAL JALUR SALATIGA - GEMOLONG - MASARAN - NGARGOYOSO



NJAJAL JALUR SALATIGA – GEMOLONG – MASARAN – NGARGOYOSO

(HIDDEN TARGET:  RUMAH TEH NDORO DONKER – KEMUNING)
 
Dolan/ kalangan numpak udhuk pancen gurih.  Ngerti ‘udhuk’ ra Bro?  Dudu sego uduk lho.  Udhuk kuwi tembung ‘jadhul’ sing artine pit montor, alias brompit.  Jaman saiki, kok koyone kabeh kerabat podho ngingu udhuk.  Rono-rene akeh wong podho nganggo udhuk, jalaran barange pancen luwes-prigel alias fleksibel (kondhone wong canggih).



Wis, sing arep takrembug dudu perkara udhuk.  Takceritani soal dolan numpak udhuk tekan kebon teh Kemuning, Ngargoyoso. Nggone kuwi neng perenge gunung Lawu.   Ngargoyoso kuwi klebu Kabupaten Karanganyar lho Bro.  Asik to?  Critane mulai wektu dina prei April 9.  Asline kuwi dudu dina prei, mung goro-goro ono coblosan Pemilu (sing serba nganggo dhuwit tur boros) Rebo Pon kuwi dadi dina prei.  Rampung nekani undangan coblosan neng nggone gang sebelah (sengaja teka gasik ben cepet kelaaar), njur aku ganti kostum ‘bolank penjelajah’.  Ha ha, bolank kuwi bocah ngilank....(ngilank= hollow man?)



Persiapan sakperlune: udhuk cukup bensin, peta dalan (hasile ngeprint Google Map+ Wikimapia), ponco batman menawa kudanan neng ndalan, jamu masuk angin 4 sachet, paket cilik obat P3k, wis cukup.  Seko ngomah, kampung Kalicacing – kecamatan Sidomukti – Salatiga, aku milih jalur ngetan.  Biasane wong akeh podho lewat Boyolali-Solo-Karanganyar, nanging iki aku emoh lewat kono, wegah uyel-uyelan karo bis, truk, rupa-rupa montor sing ngebaki dalan.  Sakdurunge terminal Tingkir, menggok kiwo ngarah kec Suruh.  Iki jalur alternatip arus mudik/ balik arah Sragen-Ngawi, sing sok macet mar kocet mung yen usume Lebaran.  Yen dina-dina normal, yo biasa-biasa wae--- rame banget sich ora, sepi banget yo ora.  Dalane lumayan alus, sebagian ono sing belang-belang, bolong-bolong, brenjul-brenjul, (bercak-bercak??)... nanging umume lancaar...

 
Pas nyebrang jembatan Karang Gede, iki kaline

Setengah jam seko start, aku wis nglewati Suruh, terus tekan Karang Gede.  Seko prapatan Karang Gede, lurus ngetan wae.  Aku ngeluncur sante, ora usah nganggo ngebut-benjut.  Nonton speedometer, takamati bantere mung 40 – 55 km/jam thok.  Jenenge wae ‘touring udhuk santei’, yo ora usah kesusa-kesusu.  Bare Karang Gede, terus nglewati kec Klego, njur kec Andong, nganti tekan Gemolong (ono sing ngarani Gemolong City? Eh, Siti seko Gemolong to?). 

Lewat Klego wilayahe Boyolali
Iki prapatan Gemolong, bare nyebrang rel sepur


Neng Gemolong aku mandhek sedhelok, ngluruske sikil – ngeluk geger, karo mampir ATM. Terus, cabut Bro?  Nglewati pasar Gemolong, ngetan tekan protelon, menggok tengen ngarah Plupuh.  Sawangane sajak padhang njingglang, kiwo tengene akeh sawah- kebon karo gerombolan omah desa.   Bare kecamatan Plupuh, arahe dalan rodo ngetan-ngidul, terus nglewati jembatan Sari/ bengawan Solo.  Lhadalah, arepe tekan pasar Masaran kok dalane mbradhul-nyemek alias bolong-bolong campur becek.  Tujune mulai pasar Masaran, nglewati dalan Solo-Sragen sak teruse, dalane alus kabeh.



Lewat dalan Solo-Sragen arah ngidul sedelok, tekan protelon Karangmalang menggok kiwo.  Ono dalan beton nyidhat lurus lewat pinggir sawah, dadine ora usah lewat Grompol, ngirit 2 km yake.  Kiro-kiro 1,2 km ketemu dalan Grompol-Jambangan, menggok kiwo.  Seko kene, gunung Lawu wis ketok cetho ‘membahana’, dadi wis iso nggo pathokan arah amrih ora nganti kesasar adoh. 



Bare nyebrang rel sepur, terus lurus ngetan tekan Jambangan.  Sakdurunge pasar Jambangan, ono protelon aku menggok kiwo (ono papan rambu nunjuk arah Ngargoyoso).  Seko kene dalane wis mulai rodo nanjak sithik, terus nganti tekan Batujamus.  Tenger panggonan/ landmark sing ngetop yen wis tekan Batujamus yo kuwi pabrik karet peninggalan jaman Kumpeni sing crobong asape akeh.  Aku mandhek sedelok, mikir-mikir arep lewat Ganten (lurus) opo lewat Kerjo (menggok kiwo).  Sidane aku milih menggok kiwo ngarah kecamatan Kerjo.  Nglewati kebon karet sedelok, tekan protelon kecamatan Kerjo sing ono tugune (jenenge Tugu Celeng), menggok tengen ngarah deso Gempolan, deso Karang Gandu ketemu protelon maneh, menggok tengen. 

Pabrik karet Batujamus, cerobonge asap kemruyuk
Lewat kebon karet ngarah kec Kerjo
Dalan alus mulai munggah ngarah Ngargoyoso


Lha bagian iki sawangane kiwo-tengene apik men Bro, sawah undhak-undhak campur background alas karet, ono kali cilik banyune bening ketoke seger tenan.  Nyebrang jembatan nglewati kali mau, dalane menggok nanjak tekan deso Jenggrik, terus lewat deso Jatirejo ngarah Ngargoyoso.  Iki hawane wis mulai krasa isis-seger koyo nganggo AC.  Sawangane sebelah kiwo bukit gondrong alase ijo royo, tengene kebon sayur seger-seger.  Neng ngarep (isih rodo adoh) wis ketok kebon teh background-ne gunung Lawu.  Berartine wis cedhak sasaran:  deso Kemuning sing ngetop kebon teh + bukit-bukit Teletubbies.  Kemuning, here I come….horee!!

Sak bagian kebon teh Kemuning


Tekan deso Kemuning, aku setel kendho sik.  Mlakune udhuk alon-alon wae, trus aku mandheg cedhak prapatan Kemuning.  Ngamati kiwo-tengen, aku nyocokke peta karo panggon nyatane: pasar Kemuning, terminal angkutan, wit ringin cedhake Koramil Ngargoyoso, wis pas.  Berarti sasaran wis diakses kanthi akurat mar kurat! 



Estimated time eh, elapsed time….seko ngomah tekan Ngargoyoso: 2½ jam.  Kuwi wis etungan mlaku santé lo, ora ngebut, ora kesusu, ora trek-trekan.  Lha saiki kari nggolek panggonan leren, leyeh-leyeh sambi wedangan.  Seko prapatan Kemuning, aku bablas mudhun ngidul (ngarah Karangpandan). 



Ora adoh seko pabrik teh, ono kebon teh sing tengahe ono omah ngetop mar kotop neng kalangan Solo Raya, jenenge Rumah Teh nDoro Donker.  Biiyuuuh….ramene Bro, yen lagi dina prei koyo ngene iki.  Parkiran kebak udhuk karo montor jobo kutho, seko ngendi wae ono (montor plat Jakarta wae takamati ono).  Mejo kursi neng njero- njobo wis kebak pelancong kabeh.  Arep mapan lingguh wae antri sik.  Sambi nunggu mejo-kursi sing lowong, aku mlaku sik mblusuk neng kebon teh (ben ora ketok nganyur-njathus, ndak isin yo! He he he).  Olehe blusukan turut tanduran teh kuwi karo ngamat-amati, menawa ono rombongan sing menyat seko kursi, langsung dicim/ dicup sakdurunge kedhisikan wong liya.  Eh, jebule wong liya yo mikire ngono kuwi koyo aku.  Pisan aku kedhisikan olehku arep ngenggoni bangku.  Bar kuwi ethok-ethoke aku ngamati hiasan tembok, sambi nglirik sing endi rampung wedangan arep menyat lunga. 
Pas ono sarimbit lovers (yake) menyat seko kursi, age-age taknggoni kono.  Mejone isih ono cangkir – piring reget yo ben, sing penting oleh panggon sik.  Ora nunggu suwe, punggawa waiter ngresiki mejo, aku pesen wedang teh aroma jeruk sak teko, kentang Donker karo timus Donker.  Waah…..nyamleng tenan Bro. 



Kira-kira setengah jam aku leyeh-leyeh neng nDoro Donker, gerombolan pelancong alias turis lokal isih podho teka-lunga, manggon-menyat, gonta-ganti sing njujug pangkalan wedang teh kuwi.   Ono ibu ketok thingak-thinguk sajak sayah ora oleh panggonan ngeteh, terus nembung numpang lenggah neng kursi ngarepku.  Takaturi pinarak wae neng mejo-kursi kono karo keluargane sisan, wong aku wis rampung olehku wedangan.  Ibu seko Sukoharjo kuwi matur nuwun banget.  Terus aku cabut Bro. 


Liya wektu, liya dina  aku arep mrono meneh, blusukan sekitare (ono candi, grojogan, telogo…waiting to be explored..haa haaa).